Sepatu hak tinggi merupakan salah satu fashion item yang digemari banyak wanita. Menurut mereka, berpenampilan dengan sepatu hak tinggi identik dengan sisi wanita yang feminim, glamour dan anggun. Padahal penggunaan sepatu hak tinggi atau high heel ini mempunyai banyak dampak buruk bagi tubuh. Secara medis, pemakaian sepatu hak tinggi dapat mengakibatkan rasa nyeri di bagian kaki, lutut, pinggang, susunan tulang belakang bahkan leher. Tidak jarang juga terjadi penyakit-penyakit yang berbahaya akibat pemakaian sepatu hak tinggi dalam kurun waktu yang lama, bahkan dapat mengakibatkan penyakit schizophrenia.
Tetapi dampak negatif dari pemakaian sepatu hak tinggi ini tidak hanya sebatas gangguan fisik saja, melainkan ada unsur lain yang dapat kita ketahui dengan menelusuri latar belakang awal kemunculannya. Dapat dikatakan secara sederhana bahwa sepatu hak tinggi awalnya diciptakan untuk membatasi gerak dan kinerja kaum perempuan.
Sejak dahulu, kaum perempuan kerap sekali akan perlakuan diskriminatif yang cenderung merendahkan dan merugikan bagi kaum perempuan. Hal ini terjadi hampir di setiap belahan bumi, dengan model yang berbeda-beda. Salah satunya dengan penciptaan fashion item yang menghambat kinerja dan kemajuan kaum perempuan.
Misalnya di China, coba saja kita bayangkan model pakaian tradisional dan tatanan rambutnya yang ribet. Sudah barang pasti dengan kostum seperti itu mereka tidak dapat bergerk bebas. Yang tentu akan menghambat kinerjanya di berbagai bidang. Ditambah lagi klompen yang sengaja dibuat sesak sekali dengan tujuan agar para puteri kerajaan tidak dapat melarikan diri. Ternyata bentuk sepatu yang sesak dan dibuat dari bahan yang keras itu dapat menghambat pertumbuhan tulang telapak kaki, apalagi jika digunakan sejak kecil. Sehingga kebanyakan perempuan China memiliki ukuran kaki yang kecil. Dengan ukuran telapak kaki yang kecil—bukan ukuran yang sebenarnya—tentu segala fungsi telapak kaki yang sebenarnyapun akan terganggu. Dari situ dapat kita simpulkan bahwa penciptaan fashion pakaian, tatanan rambut, aksesoris dan sepatu bagi perempuan China tradisional memang mengakibatkan gerak langkah mereka terhambat, dan dengan kata lain berarti kalah dengan kaum laki-laki.
Seperti yang saya katakan tadi, bahwa hal ini terjadi hampir di seluruh belahan bumi. Tidak hanya di China saja, tapi juga di India dengan model pakaian Sari serta aksesoris gelang dan anting yang berlebihan, di Jepang dengan model pakaian kimono dan tatanan rambut, di Thailand juga dengan model pakaian dan aksesoris yang berlebihan, bahkan di Indonesia dengan model pakaian perempuan Jawa Keraton yang serba sepan dan ketat ditunjang dengan selop yang mempersulit gerak dan berjalan.
Di antara sekian banyak model fashion tradisional di berbagai Negara, yang terutama parahnya adalah budaya fashion dari belahan bumi Eropa, karena budaya tersebut tidak hanya berlaku di masa tradisional saja tetapi masih terbawa sampai ke era modern seperti sekarang ini. Salah satunya adalah budaya fashion sepatu hak tinggi.
Di masa kerajaan dulu, perempuan-perempuan Eropa sudah akrab sekali dengan fashion item yang serba ribet. Mulai dari model pakaian yang bertumpuk-tumpuk, rok berkawat atau renda tebal dan besar sekali sehingga menyusahkan gerak geriknya. Kemudian model rambut yang bersusun dan juga aksesoris anting, kalung, sarung tangan, kipas, dll. Semua itu memang ditujukan untuk menghambat atau membatasi gerak langkah kaum perempuan agar tidak menyaingi kaum lelaki. Sehingga kaum lelaki tidak perlu repot-repot bersaing dengan kaum perempuan dalam dunia politik, ekonomi, industri bahkan sosial.
Nah, sepatu hak tinggi hanyalah salah satu dari sekian banyak fashion item penghambat kerja perempuan, yang masih banyak digunakan oleh perempuan-perempuan di berbagai negara. Tetapi yang perlu kita perhatikan adalah bahwa hampir semua fashion item perempuan masa kini menghambat gerak langkah perempuan, dengan terbatasnya gerak langkah perempuan, tentu akan mempengaruhi tingkat produktifitasnya, sehingga pasti perempuan yang mempunyai tingkat produktifitas lebih rendah daripada laki-laki ini akan dengan sendirinya tersingkir dari persaingan di berbagai bidang. Jadi buat apa bangga dengan mengenakan semua itu?
Sebagai gamabaran nyata, misalnya saja ada perempuan yang merasa bangga karena ia dapat berjalan lancar dengan mengenakan sepatu hak tinggi tanpa pernah terpelest atau keseleo. Ada juga perempuan yang merasa belum pantas disebut feminim jika ia belum bisa berjalan mengenakan sepatu hak tinggi. Asumsi seperti ini sangatlah merugikan. Bahkan ada suatu ungkapan yang menyatakan bahwa trend dan fashion yang diperuntukkan bagi kaum perempuan sebetulnya sama dengan proses pembodohan kepada mereka secara perlahan.
Selain hal ‘pembodohan’ ini, sebagaimana yang sudah saya utarakan sebelumnya bahwa pemakaian sepatu hak tinggi juga mempunyai efek buruk bagi fisik kita, maka di bawah ini saya beri sedikit penjelasan mengenai hal tersebut.
Penurunan cekungan telapak kaki karena adanya pengenduran otot-otot sekitar telapak kaki yang diakibatkan oleh jarangnya oto-otot tersebut dipakai. Bagian bawah dari telapak kaki kita mengandung lapisan lemak yang berfungsi menahan beban di saat kita berjalan. Susunan lekukan di telapak kaki kita pun sudah sedemikan rupa teratur sehingga dapat menahan beban tubuh di saat kita berjalan. Dengan pemakaian sepatu yang berhak tinggi maka beban tubuh saat kita berdiri atau berjalan jatuh pada bagian tumit saja sehingga tidak semua sisi telapak kaki terpakai, dan jika hal ini berlangsung lama maka sangat mungkin adanya penurunan cekungan telapak kaki. Penurunan cekungan telapak kaki ini dapat mempengaruhi tata letak tubuh saat berdiri dan berjalan, sehingga menimbulkan rasa nyeri di bagian-bagian tertentu.

Hallux Valgus yaitu bergesernya ruas tulang ibu jari kaki sehingga mengubah bentuk jari-jari kaki. Secara perlahan, ruas tulang ibu jari pada kaki akan bergeser dan akhirnya berubah tempat dan membentuk suatu tatanan jari-jari kaki yang kurang wajar dengan telapak kaki yang agak melebar tetapi ujung-ujung jari semakin menyempit. Hal ini kemudian akan mempengaruhi fungsi organ tersebut.
Pemendekkan otot betis. Diakibatkan oleh posisi kaki yang cenderung berjinjit saat mengenakan sepatu hak tinggi. Selain posisi jejak kaki dapat berubah, juga dapat membuat otot betis semakin memendek. Sehingga di saat berdiri pada posisi normal atau tidak sedang mengenakan sepatu hak tinggi, sering terasa otot di sekitar kaki dan betis seakan
tertarik. Dan hal ini akan menimbulkan perasaan kurang nyaaman bahkan nyeri.
Penekanan ruas tulang belakang mulai dari pinggang sampai leher, akan menimbulkan perubahan bentuk yang juga sekaligus mengakibatkan terganggunya fungsi masing-masing organ. Selain itu terdapat kemungkinan terjadinya penjepitan otot atau bahkan syaraf.
Dengan saya menulis artikel ini, saya tidak mengatakan bahwa perempuan yang menggunakan sepatu hak tinggi adalah perempuan yang bodoh. Saya juga tidak mengatakan perempuan yang menggunakan sepatu hak tinggi tidak mempunyai potensi saing dengan kaum laki-laki. Tetapi saya sangat berharap artikel ini menjadi informasi berguna bagi semua pihak untuk menjadi salah satu faktor pertimbangan dalam menentukan sikap dan tindakan terutama yang menyangkut hal-hal yang saya sebutkan di atas.








6 tanggapan kepada “Sekilas di Balik High Heels”
kusnendar
Juni 13th, 2009 pukul 03:21
saya laki2 tapi kok kena juga tapi memang telapak kaki saya lebar dimuka dan lama2 jari kian kedalam terutama ibu jari kaki mungkin punggung juga ada rusak syarafnya pengobatannya bagaimana nih
arihaz
Juni 29th, 2009 pukul 02:21
slm knal… ya saya cuma menyampaikan apa yang saya tau, hny untuk berbagi. selebihnya ya terserah pembaca. jadi apa yg saya sampaikan bukan suatu hal mutlak. bukan berarti hanya perempuan aja yg bisa mengalami sakit semacam itu mas…. laki2 juga bisa, kan sama2 punya kaki. mungkin aja mas sering pake sepatu yang ukurannya sempit atau pas2an bgt, jadi jari2 n syarafnya tertekan.
tapi pemakaian sepatu pantovel juga ada efek buruknya loh, ya tergantung frekuensi pemakaian n ukurannya juga sich, bukan hanya high heels buat perempuan aja….
klo skit yg mas alami itu lebih baik ya ke dokter aja. untuk tau lebih jelas kira2 apa sebabnya n gmn solusinya
jadi sebaiknya ya pilih ukuran yg tepat untuk diri kita, baik sepatu, baju, maupun yg lainnya…
rera
November 2nd, 2009 pukul 21:32
karena itu sebaiknya jangan pakai sepatu hak tinggi, selain sakit juga memperbesar tekanan terhadap tanah atau pijakannya. terimakasih.
muhtar
Maret 30th, 2010 pukul 16:03
lam knal leh gabung
arihaz
April 1st, 2010 pukul 12:43
slm knal jg…….. boleh dong… gmn komennya?? ato punya informasi laen yg mau dibagi di sini monggo……
mampir ke tulisan2 yg laen y di blog ini… every comment must be useful…
Zheenaka
April 4th, 2010 pukul 08:08
salam kenal
semuanyaa…
tulisanx bagus sekali nih…
oiya, kalo sempat kapan2 teman2 juga mampir yah ke http://zheenaka.wordpress.com n jangan lupa comentx ya teman2…
kalo kalian coment blogku, blog kalian juga ku coment kok
…
1 Trackbacks / Pingbacks
2010 in review « Arihaz99's Blog Januari 2nd, 2011 pukul 14:24
[...] Sekilas di Balik High Heels February 20096 comments 4 [...]