PENTINGNYA SHALAT

Dalam wacana keagamaan, permasalahan shalat memang diwarnai oleh berbagai macam anggapan yang berbeda. Ada sebagian orang yang hanya mengutamakan masalah ibadah semata, mereka beranggapan bahwa orang yang beragama islam harus lebih mengutamakan shalatnya saja dan biasanya kesalihan seseorang hanya dinilai dari shalatnya, padahal akhlaknya kepada sesama manusia belum tentu baik. Dan sebagian orang lainnya beranggapan shalat atau tidak seseorang itu bukan yang terpenting, yang penting adalah iman dalam hati saja serta akhlak yang baik.

Dan ada juga sebagian orang yang justru karena kecewa melihat banyak orang-orang yang beragama tetapi malah melakukan banya hal merugikan dan menyakitkan hati orang lain (seperti korupsi, pencurian, perkosaan, gaya hidup glamour, penelantaran anak-anak, bahkan yang dilakukan oleh tokoh agama ternama, dll), mereka malah beranggapan bahwa ritual ibadah itu tidak penting lagi, mereka lebih menaruh perhatian pada hal-hal ilmiah yang dianggap berguna dan membawa perbaikan serta kemakmuran bagi orang banyak. Dari hal tersebut akhirnya muncul golongan orang-orang yang ‘tidak beragama’. Misalnya saja orang-orang yang mengabdikan dirinya pada kegiatan sosial, tetapi ia tidak melakukan ritual ibadah dan mungkin saja ia tidak peduli mengenai ajaran agama. Begitu juga dengan sikap mereka terhadap konsep ketuhanan, mukjizat para Nabi, konsep Qada dan Qadar, hari akhir, surga dan neraka, itu semua mereka anggap hal0hal yang tidak dapat dinalar oleh akal pikiran dan belum tentu membawa manfaat.

Pada dasarnya, ibadah menurut islam dibagi menjadi tiga bagian, yaitu ibadah langsung kepada Allah yang berupa ritual ibadah seperti shalat dan haji, ibadah kepada Tuhan melalui akhlak kepada sesama manusia dan yang terakhir ibadah kepada Allah melalui akhlak kepada lingkungan sekitar, termasuk pada hewan dan alam. Jadi kita tidak bisa memilih salah satu dengan meninggalkan yang lainnya. Ibadah (baik shalat maupun yang lain) dan akhlak (perbuatan baik kepada sesama manusia) juga sama-sama penting dan seharusnya berjalan seimbang—itu jika pemahaman agamanya baik. Justru hal ini sering berjalan tidak seimbang dan sering juga ditinggalkan adalah karena pemahaman agama yang kurang.

Artikel kali ini sengaja saya tulis karena rasa prihatin saya terhadap banyak orang-orang Islam yang tidak mengerjakan shalat. Selain itu saya juga masih dalam proses belajar, jadi mungkin dengan membagi pengetahuan, dan menerima masukan-masukan baru yang membangun, serta mengkritisi hal-hal terkait, kita semua dapat memperoleh tambahan ilmu yang berguna. Dan juga saya hendak memaparkan beberapa hal yang menjadi pengalaman pribadi saya. Mungkin saya dapat sedikit memahami orang-orang yang kecewa dengan agamanya karena menyaksikan berbagai macam hal yang mengakibatkan kegundahan dalam hati. Tetapi di sini saya sekaligus berpesan, carilah…maka kau akan temukan. Tidak akan kita sampai ataupun mendekati suatu tujuan jika tidak ada langkah awal.

Dalam pembahasan ringan kali ini saya akan memaparkan beberapa keutamaan shalat dan fakta-fakta tentang pentingnya shalat, antara lain yang pertama adalah pengertian shalat.

Secara etimologis (kebahasaan), shalat berasal dari kata ash-shollah dalam bahasa Arab yang artinya do’a.

Secara istilah, shalat dapat diartikan sebagai suatu amal ibadah yang terdiri dari serangkaian bacaan dan gerakan, yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, yang dikerjakan dengan pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah. Panduan rangkaian bacaan dan gerakan dalam shalat terdapat pada beberapa sunnah Rasul (Hadits).

Yang kedua adalah pembagian shalat. Shalat ada yang fardhu dan ada yang sunnah. Seperti yang diketahui masyarakat umum bahwa shalat yang diwajibkan atas umat muslim adalah shalat fardhu yang lima yaitu subuh, dzuhur, ashar, maghrib dan isya’. shalat fardhu tersebut hukumnya fardhu ‘ain (wajib). Shalat-shalat yang termasuk shalat sunnah tentu hukumnya pun sunnah, antara lain shalat rawatib, hajat, fajar, tasbih, qiyamul lail (shalat malam), jenazah, gerhana, istikharah, dhuha, ied, dll. Pembahasan mengenai shalat sunnah insyallah akan saya bahas lebih lanjut pada tulisan yang lain. Kali ini kita fokuskan pembahasan urgensi shalat pada macam shalat fardhu saja.

Mengenai kewajiban shalat fardhu ini artinya bahwa shalat adalah bentuk ibadah yang diwajibkan atas semua umat islam. Sekalipun dalam keadaan sakit, bepergian ataupun kendala-kendala yang lain, dalam syari’ah telah diatur mengenai toleransi mengenai hal-hal tersebut, seperti ketentuan jama’ dan qashar, shalat sambil duduk dan berbaring ataupun sambil menggendong anak kecil. Jadi tidak pantas jika seorang muslim mencari-cari alasan yang bermacam-macam untuk membenarkan dirinya meninggalkan shalat, sebab syari’ah tidaklah mempersulit umat islam untuk melaksanakan ibadah pada Tuhannya. Sebagaimana firman Allah sebagai berikut.

Allah berfirman: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. AL-Baqarah : 2). Dan, “Allah tidak hendak menyulitkanmu.” (QS Al-Maaidah : 6)

Rasul sendiri mulai menerima perintah shalat fardhu ini saat ia dalam perjalanan isra’ mi’raj. Sedangkan dalil-dalil naqly dari Al-Qur’an dan Hadist yang berkaitan dengan wajibnya shalat antara lain sebagai berikut:

Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thahaa : 20)

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku.” (QS. Al-Baqarah : 43)

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu. Sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj : 77)

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 153)

Rasulullah bersabda: “Allah telah mewajibkan atas umatku pada malam isra’ mi’raj 50 kali shalat, maka aku selalu kembali menghadap-Nya dan memohon keringanan sehingga dijadikan kewajiban shalat 5 waktu dalam sehari semalam.” (HR. Bukhari dan Muslim, Shahih)

Sedangkan yang ketiga yang hendak saya sampaikan adalah faktor-faktor pentingnya shalat, yang dapat saya rangkum antara lain sebagai berikut:

1. Shalat hukumnya fardhu ‘ain (wajib), sebagaimana dalilnya telah dipaparkan di atas. Jadi jika kita mengaku sebagai seorang muslim yang baik, tentunya kita akan melaksanakan perintah Allah. Orang yang bertaqwa ialah orang yang memelihara diri dari siksaan Allah dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya

2. Mendirikan shalat adalah salah satu ciri orang yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah: “Kitab (Al-qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. Yaitu mereka yang beriman pada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kpd mereka.” (QS. Al-Baqarah : 2-3)

3. Shalat dapat membersihkan diri dari dosa.

Sebagaimana hadits: dari Abi Hurairah ra. Rasulullah bersabda: “Shalat lima waktu dan shalat jumat, dari shalat yang satu ke shalat yang lainnya, adalah sebagai pengjapus dosa yang terjadi di waktu antara keduanya, kecuali dosa besar.”

4. Shalat merupakan amalan pertama yang akan dihisab di hari perhitungan. Hal ini menandakan bahwa shalat itu merupakan ibadah yang utama (baik kita menyadari manfaatnya ataupun tidak)

Hadits Rasul: “Amal yang pertama kali dihisab bagi seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya yang lain. Dan jika shalatnya rusak maka rusaklah seluruh amalnya yang lain.”(HR. Ath-Thabrani)

5. Shalat mencegah dari hal yang keji lagi munkar, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ankabut : 45 yang berarti “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu,, yaitu Al-kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar”. Orang yang senantiasa menjaga shalatnya, insyallah akan timbul rasa malu saat ia melakukan dosa. Dan bahkan shalat yang terjaga dapat menumbuhkan rasa cinta, takut dan malu kepada Allah, sehingga dapat mencegah diri dari dosa.

6. Shalat merupakan sarana yang disediakan Allah bagi hambaNya untuk mendekatkan diri kepadaNya dan untuk menambah pahala. Jadi, walaupun shalat itu merupakan kewajiban kita kepada Allah, semestinya kita memahami shalat bukan sebagai beban melainkan sebagai anugerah. Cobalah untuk memahami shalat bukan sebagai keharusan tetapi sebagai kebutuhan seorang hamba. Jika kita sudah dapat memahami bahwa shalat merupakan sarana mendekatkan diri, tentu kita akan merasa kurang jika hanya melakukan shalat lima waktu dalam sehari. Oleh karena itu kita patut mengetahui bahwasanya Allah menyediakan banyak jalan bagi hambanya untuk terus mendekatkan diri padaNya. Sebagaimana shalat, walaupun yang diwajibkan hanya lima waktu, tetapi kita sebagai hamba yang membutuhkan kedekatan dengan Rabbnya masih dapat mengerjakan berbagai macam shalat sunnah. Belum lagi berbagai macam doa dan zikir yang diajarkan dalam agama Islam, yang kesemua itu selain merupakan sarana mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, juga merupakan amalan ibadah yang mengandung banyak pahala jika dikerjakan.

7. Shalat merupakan obat hati. Ia dapat menyinari hati, menyucikan diri, melapangkan hati, mendatangkan ketenangan dan ketentraman dalam hati seseorang, serta keselamatan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam shalatnya.

8. Shalat merupakan bagian dari syari’at (hukum/aturan). Syari’at merupakan salah satu ilmu lahir, dan pentingnya ilmu lahir adalah sebagai pendukung ilmu bathin. Jadi, mustahil jika kita dapat mengenal Allah tanpa diawali dengan mengamalkan syari’at, kecuali karena kehendak Allah. Maka dari itu mengamalkan syari’at merupakan hal yang penting dan bermanfaat.

9. Shalat mempunyai manfaat bagi tubuh secara medis. Jadi selain bermanfaat untuk bathin, shalat juga baik bagi tubuh, sebagaimana hukum-hukum Allah lainnya, semuanya membawa manfaat baik bagi makhlukNya, hanya saja terkadang kita yang tidak memahaminya.

10. Kesulitan-kesulitan yang kita alami karena hendak mendirikan shalat sebenarnya merupakan berkah. Misalnya sulitnya bangun saat akan shalat subuh atau shalat malam, dinginnya yang dirasakan saat akan wudhu, lelahnya badan setelah seharian bekerja, atau sulitnya melawan rasa malas untuk berjalan mengambil air wudhu kemudian shalat. Rasulullah bersabda: “barangsiapa dari seorang mukmin yang mendapat musibah, meskipun hanya tertusuk duri, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya dan menghapus dosanya”.

11. Shalat dapat menghindarkan kita dari sifat kikir dan keluh kesah. Sebagaimana dalam firman Allah dalam surat Al-ma’arij : 19-23 yang berarti “Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakannya”. Dari ayat tersebut dapat kita ambil beberapa inti kandungan yaitu bahwa sifat dasar manusia adalah berkeluh kesah saat ditimpa kesulitan dan kikir saat mendapat kesenangan. Tetapi orang-orang yang mengerjakan shalat, dan ia menjaga shalatnya, insyallah akan terhindar dari hal tersebut. Tapi perlu digaris bawahi bahwa yang dimaksud menjaga shalatnya di sini bukan hanya sekedar ritual sujud-bangun tanpa menghayati makna bacaan shalat dan arti shalat itu sendiri.

12. Shalat dapat membangun dan melatih kedisiplinan diri, menumbuhkan ketaatan dan ketundukkan dalam hati serta meningkatkan ketakwaan. Jika kita berlatih sedikit-demi sedikit untuk meninggalkan segala hal yang sedang kita kerjakan untuk sejenak mengerjakan shalat, kitapun akan terlatih untuk mempunyai sikap disiplin dan sikap ini dapat bermanfaat juga di berbagai kegiatan yang lain. Kemudian setelah kita mampu menjaga waktu shalat dengan tidak menunda-nundanya, maka belajarlah untuk meningkatkan kualitas shalat kita. Pelajari arti dari bacaan-bacaan shalat mulai dari takbir sampai salam. Kemudian praktekkan dengan cara menghayati setiap bacaan yang kita ucapkan dalam shalat, singkirkan dulu segala macam pikiran yang merasuki benak. Serahkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah. Insyallah shalat kita akan membawa ketundukkan hati hanya kepadaNya.

13. Saat shalat, kita langsung menghadap kepada Yang Maha Suci dan Maha Mengetahui. Bayangkan Allah menatap langsung ke wajah kita. Allah Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati kita. Bayangkan kita menundukkan diri sambil memuji keagunganNya dan merasa semakin hina dan tak berdaya di hadapanNya, sementara Allah menatap langsung ke hadapan wajah kita. Bayangkan kita memohon ampun di setiap bungkuk, sujud dan duduk bersimpuh, berserah diri. Jika seseorang dapat memahami dan menghayati perasaan semacam ini, insyallah shalatnya bukanlah merupakan gerakan-gerakan jungkir balik semata dan bacaan yang dibacanya bukan hanya hafalan semata.

14. Orang yang shalatnya baik, ditandai dengan timbulnya rasa tenang dan nikmat dalam bathin di setiap usai pertemuannya dengan Allah Yang Maha Memiliki. Jika setelah shalat kita masih belum merasakan basuhan rohani, maka perbanyaklah shalat sunat dan zikir serta doa.

Selain beberapa hal yang saya jelaskan di atas, masih banyak lagi hal-hal yang merupakan keutamaan shalat yang tidak dapat semuanya saya utarakan. Jadi pesan saya, cobalah mulai dari sekarang. Karena seperti yang sudah saya katakan, tidak akan ada tujuan yang tercapai tanpa ada satu langkah awal. Dan teruslah berusaha untuk memperbaiki kualitas shalat kita sebaik-baiknya secara bertahap. Dan satu hal lagi yang penting, bahwa bukan berarti kita terfokus pada ibadah shalat dan lalai pada ibadah yang lain serta lalai dari mempelajari akhlak dan ilmu-ilmu lainnya. Semua itu harus sedapat mungkin berjalan secara seimbang.

15/03/2009

About these ads