Sampai saat ini masih terlihat bahwa di sekitar kita, permasalahan gender sering menimbulkan ketidakadilan. Misalnya saja pada sektor publik, perempuan sering mengalami kendala-kendala tertentu yang disebabkan permasalahan gender. Begitu pula dengan pendidikan, banyak perempuan yang—terpaksa maupun tanpa kesadaran—menanggalkan haknya untuk memperoleh pendidikan dan mengembangkan diri, serta menanggalkan kesempatannya untuk memberikan kontribusi yang lebih pada masyarakat

Sebenarnya apa itu gender? Banyak orang beranggapan bahwa gender sama dengan jenis kelamin. Pada dasarnya gender dan jenis kelamin tidaklah sepenuhnya sama. Saya yakin hampir semua orang menerima bahwa perempuan dan laki-laki diciptakan dalam wujud yang berbeda. Hal ini dimaksudkan wujud secara fisik. Secara biologis dan fisiologis, perempuan dan laki-laki memiliki beberapa perbedaan mendasar. Dan perbedaan mendasar itu tidak dapat dipertukarkan secara wajar. Perbedaan semacam itulah yang dapat kita pahami sebagai jenis kelamin.

Manusia terbagi menjadi dua macam jenis kelamin, yaitu perempuan dan laki-laki. Faktor pembeda antara ‘manusia berjenis kelamin perempuan’ dengan ‘manusia berjenis kelamin laki-laki’ adalah ciri fisik dan fungsi tubuh yang tentunya bersifat kodrati (fitrah). Pembahasan mengenai hal ini akan saya ulas lebih jauh pada kesempatan yang lain.

Berikut saya kutipkan sebuah konsepsi mengenai jenis kelamin dari Trisakti Handayani dan Sugiarti:
Seks adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan secara biologis melekat pada jenis kelamin tertentu…Seks berarti perbedaan laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang secara kodrati memiliki fungsi-fungsi organ yang berbeda…Secara biologis, alat-alat tersebut melekat pada laki-laki dan perempuan selamanya, fungsinya tidak dapat dipertukarkan.

Beralih pada gender, yang dimaksud dengan gender berbeda dengan jenis kelamin. Untuk memahami konsep gender ini, terlebih dulu saya akan memberikan beberapa contoh konkrit. Seorang perempuan biasanya dianggap lemah lembut dan diidentikkan dengan pembagian tugas-tugas domestik dalam rumah tangga, misalnya memasak, membersihkan rumah, merawat anak dan melayani suami. Sedangkan laki-laki biasanya dianggap ‘lebih’ daripada perempuan hampir di segala hal, mulai kekuatan fisik, intelektualitas dan kemampuan-kemampuan lainnya. Hal-hal semacam itu sebenarnya bukan termasuk hal-hal sifatnya kodrati, melainkan bentukan masyarakat.

Hal-hal yang disebabkan oleh bentukan masyarakat itulah yang dimaksud dengan gender. Gender sifatnya tidak kodrati, melainkan dapat mengalami perubahan. Dan di antara sifat-sifat bentukan yang melekat pada masing-masing perempuan dan laki-laki itu dapat dilakukan pertukaran.

Soal memasak misalnya, baik perempuan dan laki-laki pada umumnya sama-sama memiliki dua tangan dan sepuluh jari, sehingga tidak ada suatu hal pun yang dapat membatasi kemampuan laki-laki untuk memasak pula. Tetapi kegiatan tersebut masih diidentikkan kepada perempuan saja. Contoh yang lain ialah mengenai pekerjaan seputar otomotif yang selalu diidentikkan kepada laki-laki, padahal perempuan dan laki-laki—sekali lagi—sama-sama memiliki dua tangan dan dua kaki, sehingga tidak ada hal yang juga dapat membatasi perempuan melakukan hal-hal yang berkaitan dengan otomotif. Tetapi nilai-nilai yang hidup di masyarakatlah yang menyebabkan pembedaan-pembedaan semacam itu. Padahal seharusnya pembedaan-pembedaan itu tidak didasarkan pada jenis kelamin, tetapi pada potensi dan minat (jadi sifatnya kualitatif..

Tulisan Terkait:
“Forum Diskusi Ketidakadilan atas dasar Gender”