“Tanpa kita sadari produk kecantikan telah melakukan pembodohan masyarakat melalui iklan komersialnya, bagaimanakah bentuk pembodohan tersebut?”

 

Dalam dunia perindustrian pasti ada yang namanya persaingan usaha. Bermacam-macam cara dilakukan untuk mempromosikan produk maupun jasa. Tidak jarang malah adanya usaha untuk menjatuhkan pihak lain yang dianggap sebagai lawan atau saingan usaha. Tapi ada hal baru yang saya temui, yang saya nilai mulai menjurus pada bentuk provokasi dan penjerumusan terhadap konsumen, bahkan pembodohan masyarakat. Tanpa disadari, masyarakat sebagai konsumen akhirnya malah menjadi korban, baik korban ekonomi, sosial budaya, moral maupun psikologis.

Coba kita ambil contoh yang lebih spesifik saja yaitu dalam hal promosi produk kecantikan. Saya sengaja mengambil satu contoh produk yang tidak akan saya sebut dengan jelas nama merknya. Iklan promosi produk tersebut di televisi mengangkat tema cinta, produsen di sini menghubungkan kecantikan dan cinta dengan cara yang kurang tepat. Di mana diceritakan bahwa seorang wanita ditinggal oleh kekasihnya hanya karena kulitnya tidak lagi cerah dan semakin kusam. Dalam mempromosikan produknya melalui iklan di televisi, sering sekali produsen menambahkan kalimat iklan seperti “dapatkan kembali cintamu…” atau “cinta akan datang kembali padamu hanya dalam waktu 1 minggu…” bahan kalimat “lihatlah perubahan pada suami dalam waktu 7 hari…” dsb. Dengan maksud setelah penggunaan produk kecantikan tertentu dan mendapatkan kulit cerah atau putih maka wanita itu akan mendapatkan kembali kekasih yang meninggalkannya saat kulitnya masih kusam atau wanita tersebut akan mendapati suaminya yang berubah sikap menjadi semakin romantis karena kulit wajahnya yang semakin cerah.

Iklan-iklan seperti ini membawa dampak negatif pada masyarakat. Secara tidak langsung iklan-iklan semacam itu menanamkan asumsi dalam psikologis masyarakat sekaligus mengakibatkan adanya pergeseran makna atas interpretasi cinta, dimana cinta hanya diukur dari segi fisik saja yaitu kulit wajah yang putih dan cerah. Apakah pantas jika seorang wanita yang kulitnya tidak lagi cerah kemudian sang kekasih meninggalkannya?

Apakah ini pola pikir produsen yang dangkal ataukah pemanfaatan kondisi masyarakat untuk keuntungan produsen semata?! Hal itu tentu sangat merugikan masyarakat.

Saya beri contoh yang lebih konkrit lagi dimana ada satu dari sekian banyak iklan yang dikeluarkan oleh produk tersebut, yang menceritkan tentang kehidupan pernikahan dari sepasang suami isteri yang ceritanya antara lain seperti berikut ini. Suatu saat di malam hari ketika pasangan tersebut sedang tidur, tiba-tiba sang suami mengalami perubahan sikap di tempat tidur. Biasanya sang suami senantiasa memeluk isterinya tapi kali ini tidak, bahkan sang suami tidur di pinggiran tempat tidur dan membelakangi sang isteri. Tetapi setelah sang isteri mulai memakai produk kecantikan yang bersangkutan, sang suamipun mulai mengalami perubahan lagi. Suatu malam ia tidur menghadap isterinya, kemudian di hari berikutnya ia mulai memegang tangan isterinya, hari berikutnya lagi ia tidur dekat sekali dengan isterinya kemudian sampai akhirnya tidur sambil memeluknya. Iklan tersebut secara tidak langsung menyampaikan bahwa jika seorang isteri sudah tidak ‘seindah’ yang diinginkan suami, maka adalah suatu hal yang wajar apabila suami tidak mengacuhkan isterinya seperti itu. Iklan tersebut juga mengandung maksud bahwa seorang wanita berkewajiban untuk benar-benar menjadi cantik bagi suami dan jika tidak, maka ia berhak untuk mendapati perubahan sikap suami seperti yang diutarakan dalam iklan tersebut. Tetapi sayang sekali bahwa iklan ini seakan hanya mengutamakan kecantikan fisik seorang wanita, tanpa mempertimbangkan nilai-nilai lain dalam kehidupan misalnya kasih sayang yang tulus, rasa saling menghormati dan menghargai bahkan tidak memperhatikan hak dan kewajiban suami isteri dalam sebuah pernikahan. Dan pemikiran seperti itu sangatlah dangkal sekali.

Dalam kehidupan nyata, mana ada orang yang selalu sempurna, baik laki-laki maupun perempuan. Selama menjalani hubungan percintaan, baik dalam bentuk hubungan pacaran, tunangan maupun pernikahan, sudah sebaiknya tidak mengutamakan keadaan fisik. Apalagi jika sudah memasuki pernikahan, keadaan fisik seseorang pastinya tidak selalu dalam keadaan tetap dan tentu akan mengalami perubahan, ditunjang juga dengan bertambahnya usia. Misalnya saja timbul kerutan di wajah, hal ini tidak hanya terjadi pada kaum wanita saja tetapi juga pada kaum pria. Misal lainnya adalah mengendurnya organ kulit dan otot sehingga dapat mengakibatkan berubahnya bentuk tubuh. Hal tersebut juga tidak hanya dialami kaum wanita saja melainkan juga terjadi pada kaum lelaki. Memang, sudah seharusnya setiap orang senantiasa menjaga dan merawat kesehatan serta kecantikan diri. Kewajiban ini tidak hanya berlaku sempit pada kaum wanita saja, tapi juga bagi kaum lelaki yang juga semestinya memperhatikan kesehatan, kebugaran dan penampilan mereka.

Dan jika berbicara tentang ‘cinta’ tentunya perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada pasangan merupakan hal yang dimaklumi karena penting dalam sebuah hubungan adanya usaha untuk saling menerima kekurangan masing-masing baik berupa kekurangan fisik maupun sifat.

Jika para produsen mengangkat tema cinta sebagai pendukung produk mereka, seharusnya hal itu dapat dikemas dalam bentuk yang ‘bertanggung jawab’. Bukannya memanfaatkan situasi masyarkat sebagai ladang laba tanpa memperhatikan kerugian-kerugian yang dapat muncul. Karena kondisi masyarakat kita tidak semuanya sama jadi sudah tentu respon yang dihasilkan juga akan berbeda-beda. Dari segi pendidikan saja sudah tidak merata. Juga di segi-segi yang lain misalnya adat istiadat, lingkungan sosial, agama, budaya dan juga gaya hidup.

Bagi masyarkat awam yang terprovokasi dan akhirnya ‘manut’ pada pesan buruk yang tersampaikan melalui iklan semacam itu, mereka akan rela menguras kocek untuk membeli produk kecantikan tersebut, dengan tujuan agar suaminya akan menjadi lebih romantis. Padahal romantisme seorang suuami tidak hanya dipengaruhi dari faktor tersebut. Hal ini berarti konsumen telah dirugikan secara ekonomi. Karena tidak ada jaminan pasti akan terwujudnya hal yang diobral di iklan itu pada kehidupan nyata.

Dengan adanya pergeseran makna cinta sebagaimana saya utarakan sebelumnya, mungkin saja akan banyak tindakan ang menyimpang dari norma-norma yang hidup di masyarakat kita, misalnya perselingkuhan, tipisnya nilai kesetiaan dalam hubungan karena kesetiaan sudah mulai dinilai dari kecantikan wajah saja, bahkan kekerasan dalam rumah tangga.

Saya prihatin sekali melihat hal semacam ini. Saya harap pembaca dapat menilai sendiri dan tahu bagaimana mesti bersikap terhadap hal-hal semacam itu yang kerap kali datang kepada kita. Terutama bagi para orang tua untuk senantiasa memberi pemahaman yang baik dan bijaksana kepada anak-anak agara tidak terjadi pergeseran makna dan nilai kehidupan oleh para pekerja media baik nasional maupun global. Jangan sampai masyarakat kita menjadi korban dari industrialisasi tak sehat semacam itu.