Pada abad 13-16 M, bumi dianggap sebagai pusat alam semesta. Matahari, bulan dan bintang-bintang yang mengelilinginya. Pemahaman semacam ini merujuk dari—salah satunya—kitab suci umat Nasrani saat itu. Kemudian pada abad 16 M, Copernicus menemukan fakta bukan matahari yang mengelilingi bumi, melinkan bumi yang berputar mengelilingi matahari. Saat ia mulai mengumumkan teori barunya itu, ia mendapat kecaman keras dari pihak gereja, karena teorinya itu dianggap bertentangan dengan dogma gereja sebelumnya. Sampai akhirnya ia dihukum gantung dan dianggap sebagai seorang bid’ah.

Hal ini merupakan contoh bentuk kebingungan masyarakat karena menghadapi kenyataan bahwa doktrin agama dan ilmu pengetahuan alam ternyata bertentangan. Maka pada saat itu, pihak yang tetap mengutamakan agama, lebih memilih untuk berpegang teguh pada doktrin gereja dan menganggap Copernicus sebagai seorang bid’ah, daripada melakukan kajian ulang terhadap substansi agama yang pada saat itu mereka anut.

Tetapi ternyata pada abad berikutnya, Galileo Galilei dengan teleskop buatannya juga mampu membuktikan bahwa bumi mengelilingi matahari. Gereja tidak dapat berbuat apa-apa lagi, maka doktrin-doktrin yang selama ini dipegang kuat menjadi tidak akurat. Akhirnya, banyak umat yang mengalami kebingungan dan krisis iman, karena ternyata apa yang ada pada ajaran agamanya tidak sesuai dengan kenyataan alam yang sebenarnya, maka masih dapatkah agama dianggap sebagai kebenaran, jika umatnya—terutama para tokoh agama—tidak melakukan kajian ulang?

Setelah teori tentang bumi sebagai pusat semesta ini berganti dengan teori baru bahwa ternyata matahari sebagai pusat semesta, mulai bermunculan pengetahuan-pengetahuan baru antara lain penemuan planet-planet lain yang mengelilingi matahari dan satelit-satelitnya serta isi tata surya yang kemudian menemukan fakta bahwa matahari pun tidaklah diam, melainkan berputar mengelilingi pusat galaksi, bersama bintang-bintang lainnya. Disusul dengan penemuan galaksi-galaksi yang lainnya, seiring kemajuan teknologi peralatan astronomi.

Contoh di atas menunjukkan sikap ketertutupan umat terhadap ilmu pengetahuan (sains), yang pada akhirnya doktrin agama yang kaku terbantahkan oleh ilmu pangetahuan. Kita harus mengambil hikmah bahwa kita seharusnya tidak menutup diri dari perkembangan ilmu pengetahuan, jadi jika terjadi hal semacam itu, kita dapat secara terbuka melakukan kajian-kajian ulang terhadap substansi agama sehingga kita dapat menyesuaikan kembali antara ilmu pengetahuan dan ajaran agama.

Contoh yang lain adalah mengenai awal mula alam semesta. Albert Einstein sebagai ilmuwan fisika kenamaan, pada awalnya berteori bahwa alam semesta yang luas ini bersifat statis. Ia menyatakan bahwa alam semesta kita ini tidaklah berawal dan tidak pula berakhir. Teori ini dikenal dengan teori steady (tetap). Sedangkan bagi para agamawan, mereka meyakini bahwa alam semesta ini ‘diciptakan’, bukan ‘ada dengan sendirinya’. Golongan yang mengakui adanya Tuhan, tentu berkeras bahwa alam semesta ini diciptakan. Tetapi mereka tidak dapat membuktikan secara ilmiah, dan mereka pun saat itu tidak dapat membantah penemuan yang dilakukan para pakar ilmiah terhadap alam. Sehingga lagi-lagi terjadi kebingungan pada umat atas ketidaksesuaian dogma agama dengan ilmu pengetahuan dan fakta alam. Sedangkan pada golongan yang mengutamakan rasio, hal semacam ini tentunya akan semakin menguatkan penolakan mereka terhadap eksistensi ‘pencipta’.

Tetapi kemudian pada tahun 1929, Edwin Hubble berhasil menciptakan sebuah teleskop astronomi—yang dinamai teleskop Hubble. Setelah beberapa lama melakukan pengamatan, Hubble menemukan suatu fakta besar yang akan mematahkan teori Einstein tentang awal mula alam semesta. Hal ini bermula saat ia mengamati bahwa bintang-bintang yang ada di alam semesta ini memancarkan spektrum cahaya merah. Dalam ilmu fisika, jika suatu benda yang diamati bergerak menjauh, ia akan memancarkan spektrum cahaya berwarna merah. Sedangkan jika suatu benda yang diamati itu bergerak mendekat, ia akan memancarkan spectrum cahaya biru. Dengan begitu Hubble menyadari bahwa ternyata bintang-bintang dan segala benda langit lainnya saling bergerak menjauhi satu sama lain, ke segala arah.

Berdasarkan pengamatan tersebut, kemudian Hubble menyimpulkan suatu fakta besar. Jika benda-benda langit kini semakin menjauh dan terus menjauh satu sama lain, maka dengan melakukan perhitungan mundur, kita akan mendapati bahwa alam semesta ini dulunya berawal dari satu titik nol—yang berarti bahwa alam semesta ini ada awalnya, dengan begitu tentu ada akhirnya pula. Teori ini kemudian dikenal dengan teori Big Bang (ledakan besar). Suatu ledakan dahsyat dari suatu titik materi yang memiliki massa hampir nol, dengan kekuatan yang amat besar kemudian menjadi alam semesta yang semakin mengembang.

Einstein pun akhirnya menyepakati teori dari Hubble ini. Tetapi para kaum materialis atau atheis saat itu—yang sama sekali tidak dapat menerima fakta bahwa alam semesta ini ada penciptanya—tetap saja melakukan pertentangan terhadap teori tersebut. Sebaliknya, kaum agamawan merasa akhirnya kebenaran terungkap dengan sains. Hal ini membuktikan bahwa sains sebenarnya tidak terpisahkaan dari kebenaran (agama) dan sebaliknya. Karena seiring berjalannya waktu, semakin juah manusia menggunakan akalnya, kebenaran dapat terungkap dengan sendirinya. Kebenaran itu dapat dibuktikan salah satunya yaitu dengan ilmu pengetahuan.

Contoh di atas saya maksudkan agar umat islam kini sebaiknya tidak memisahkan antara agama dan ilmu pengetahuan, agar tidak mengalami dan ‘kebingungan’ dan ‘keterkejutan’ sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas. Sesungguhnya jika kita mempergunakan akal dengan sebaik-baiknya, akal akan membenarkan wahyu. Dan disitulah iman akan tumbuh di dalam hati. Maka, gunakanlah akal dalam kehidupan beragama. Dan beragamalah dengan menggunakan akal sehat.

Karena ilmu merupakan sarana mencapai keimanan, maka setiap muslim diwajibkan untuk mencari ilmu. Sedangkan ilmu pengetahuan alam atau sains dalam ajaran islam juga memiliki posisi yang penting, antara lain sebagaimana firman Allah SWT:

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali-Imran : 191)

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidakkah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Fushilaat : 53)

Dewasa ini mulai bermunculan gerakan-gerakan pendidikan dalam umat islam. Hal itu dikarenakan mulai munculnya kesadaran akan pentingnya ilmu bagi kehidupan beragama. Tetapi jika dibandingkan dengan Negara-negara maju, kita masih ketinggalan jauh. Jadi di satu sisi, perubahan yang terjadi merupakan suatu awal yang baik dan harus senantiasa kita kembangkan, tetapi di samping itu, kita juga perlu bekerja keras untuk mengejar ketinggalan kita. Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak kalangan yang menutup dirinya dari perkembangan sains dan teknologi dalam bentuk-bentuk tertentu yang dianggap menyalahi doktrin agama. Untuk itu kita perlu membangun kesadaran-kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan.

Jika umat islam tidak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tentunya saat teori-teori baru bermunculan, yang ada hanya rasa kaget dan kebingungan untuk bersikap, sebagaimana contoh yang telah saya uraikan di atas mengenai ilmuwan Barat dan penelitiannya tentang alam semesta.