Archive for April, 2010

FPI Serang Waria dalam Pelatihan Hukum dan HAM


30 April 2010, Front Pembela Islam (FPI) lagi-lagi melakukan aksinya terhadap waria. Kelompok masyarakat yang termarginalkan (terpinggirkan) ini entah kenapa sering kali menjadi sasaran aksi FPI dalam beberapa tahun terakhir, selain target tempat-tempat hiburan tentunya.

FPI melakukan penyerangan terhadap sejumlah waria yang sedang mengikuti sebuah acara pelatihan Hukum dan HAM, yang diadakan oleh Komnas HAM di Jakarta. Para waria-waria ini merupakan perwakilan waria dari sejumlah daerah di Indonesia. Mereka sebagai warga negara Indonesia tentu juga berhak untuk mendapatkan pengetahuan mengenai topik yang sedang dibahas, yaitu tentang Hukum dan HAM. Lalu apa yang menyebabkan FPI sampai menerobos masuk ke ruangan acara berlangsung dan memaksa agara acara dihentikan?

Menurut beberapa sumber, penyerangan terjadi sekitar pukul 10.15 WIB. Acara tersebut digelar di hotel Bumi Wiyata, Depok. Acara pelatihan ini rencananya berlangsung selama tiga hari. FPI tiba-tiba saja masuk se dalam ruangan sambil berkoar “Allahu Akbar…” dan menyatakan agar acara tersebut segera dihentikan. Ada yang menyebutkan bahwwa mereka sempat memecahkan gelas-gelas dan piring-piring. (Mungkin mereka kira itu tidak dibeli dengan uang). Mereka juga sempat mengeluarkan kata-kata yang tidak manusiawi. Sangat disayangkan orang-orang yang beraksi atas nama Tuhan ini malah membuat diri mereka semakin tampak ‘bodoh’ saja.

Front Pembela Islam (FPI)

Ada yang mengatakan bahwa aksi pembubaran paksa ini terjadi lantaran tidak meminta izin kepada tokoh masyarakat dan polisi. Tetapi menurut Merlyn Sofjan, acara ini diselenggarakan oleh Komnas HAM, jadi tentu saja segala keperluan dan prosedur yang seharusnya telah dilakukan oleh Komnas HAM.

Pengurus pusat FPI mengatakan mereka tidak tahu-menahu tentang kejadian ini karena penyerbuan dilakukan oleh anggota FPI wilayah Depok

Komisioner Komnas HAM, Hesti Armi Wulan, mengatakan FPI Kota Depok tidak bisa membubarkan acara ini begitu saja. Apapun acara yang diselenggarakan, sambung Hesti, sudah dilindungi undang-undang. Sehingga tanpa mengantongi surat izinpun acara tersebut masih bisa berlangsung. “Ironisnya, polisi juga ikut-ikutan membubarkan. Kami tetap akan menggelar acara ini sampai selesai,” tegasnya.

Para waria dan juga Komnas HAM sangat menyesalkan aksi anarkis dari FPI ini. Acara yang mungkin saja dianggap kontes waria ini sebenarnya sama sekali bukanlah sebuah acara kontes, melainkan pelatihan Hukum dan HAM. Acara ini selain bermanfaat positif, juga tidak mengganggu warga sekitar.

Aksi kekerasan dan main hakim sendiri seperti ini sebenarnya sama sekali tidak dibenarkan oleh agama islam. Tapi sangat disayangkan, mereka (FPI) malah melakukan aksi ini atas nama Tuhan. Bahkan ada waria yang mengatakan bahwa, “Waria juga ciptaan Tuhan. Dengan kata-kata yang mereka ucapkan itu, kami yakin kami lebih mulia dari mereka.”

Waria, dianggap sebagai ‘mahkluk terkutuk’ dan FPI meyakinii bahwa Tuhan juga mengutuk mereka. Tetapi, itu adalah pendapat golongan mereka, tidak mencerminkan agama islam dan umat islam secara keseluruhan, apalagi pendapat Tuhan..

waria dalam pelatihan hukum dan HAM

Waria, selama ini menjadi sekumpulan orang-orang yang terpinggirkan dan seakan tidak diterima di masyarakat. Seharusnya kita semua melihat persoalan waria ini dengan kacamata yang lebih luas. Waria juga makhluk Tuhan, mereka juga manusia dan mereka juga warga negara yang mempunyai hak SAMA dengan warga negara lainnya.

Jika waria masih dianggap sebagai ‘sampah masyarakat’ dan dipandang dengan sebelah mata, lalu bagaimana mereka bisa memperoleh pendidikan yang layak? bagaimana mereka bisa memperoleh pekerjaan atau profesi yang layak–sekalipun mereka mempunyai potensi? dan bagaimana mereka bisa hidup layak? Ada juga waria yang memiliki anggota keluarga yang harus dinafkahi.. lalu kemana mereka lari? ke salon? pengamen? atau PSK? tidakkah harkat dan martabat mereka ‘dipaksa’ jatuh karena sikap masyarakat yang menganggap mereka bagai sampah?

Seseorang bisa menjadi waria, disebabkan oleh beberapa hal yang beragam. Antara lain:
1. Faktor bawaan, hormonal, dan sejak lahir.
2. Ada juga yang karena faktor lingkungan. Mungkin saja pola asuh yang salah dari orang tua, atau lingkungan pergaulan yang salah, dsb.
3. Bisa juga karena faktor psikologis, mungkin karena trauma masa kecil, dll.
4. Faktor Ekonomi, karena tdk punya pendidikan layak, tdk bisa mempunyai pekerjaan yg layak pula, tapi panggilan perut terus meraung, maka seseorang tentu membutuhkan uang untuk hidup.
5. masih banyak faktor lainnya, sebaiknya kita memahami permasalahan ini secara meluas.

Terlepas dari pandangan masyarakat terhadap waria sbgmn yang saya uraikan di atas, FPI tidak seharusnya main hakim sendiri. Mungkin saja mereka (FPI) tidak pernah mempelajari permasalahan waria ini, mungkin mereka tidak pernah mau berpikir jauh bagaimana nasib mereka yang terus terpinggirkan dan tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan, informasi, untuk membela hak-haknya sendiri.

Tidakkah pelatihan Hukum dan HAm merupakan sesuatu yang positif? Pemerintah telah mulai ‘lebih’ memperhatikan nasib para waria yang termasuk kaum marginal di negeri kita ini. Lalu FPi datang secara tiba-tiba mengatasnamakan Tuhan dalam setiap aksinya, menimbulkna kerugian besar bagi banyak pihak lain. Astaghfirullah…

Semoga mereka sadar bahwa manusia telah dibekali otak dan hati, akal dan nurani, intelektual dan moral.. kapan kira2 mereka mau mengaktifkan instrumen itu yang ada pada diri mereka? Semoga islam tidak semakin tercemar dengan adanya aksi-aksi brutal mereka..

Tulisan Terkait dan Sumber:

1. FPI depok bubarkan acara waria

2. Pelatihan Hukum dan HAM diricuh FPI

3. Waria juga Ciptaan Tuhan

4. FPI serbu seminar waria

5. Waria yg menjadi korban akan gugat ke polisi

Cacat Moral Kandidat Pilkada



Cacat Moral Kandidat Pilkada

Oleh Ahmad Nyarwi, jawapos, 26 april 2010.

Arena pilkada 2010 kian dibanciri para artis. Julia Perez, Maria Eva, Vena Melinda, Ayu Azhari, dan sejumlah artis lain, termasuk Evie Tamala, dikabarkan akan meramaikan sejumlah pilkada di Indonesia. Salah seorang artis yang cukup kontroversial dalam arena pilkada jawa Timur adalah Julia Perez.

Salah satu sebab masuknya artis ke arena pilkada adalah rasa percaya diri akan popularitas yang dimiliki. Popularitas dinilai menjadi modal kuat untuk bersaing dengan kandidat yang merupakan politisi lokal. Angelina Sondakh, mantan putri Indonesia yang juga anggota DPR dari partai demokrat, pernah mengingatkan para artis agar tak begitu saja menerima tawaran maju dalam pilkada jika belum memiliki cukup pengetahuan tentang pemerintahan.

UU No.32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah dalam pasal 58 dan 59 dengan jelas memperbolehkan siapapun, termasuk para artis yang memiliki syarat personal dan dukungan politik tertentu untuk maju menjadi calon kepala daerah. Kendati dalam UU tersebut sudah ditetapkan sejumlah syarat, masih ada beberapa kelemahan.

Kandidat Destruktif
Sumber persoalan sebenarnya tidak hanya terkait dengan kontroversi para artis yang dinilai kurang layak maju dalam pilkada. Yang lebih mengkhawatirkan justru potensi kandidat destruktif yang akan maju dalam pilkada.

Siapapun pasti mafhum, tidak semua kandidat berkontribusi bagi pengembangan demokrasi lokal di Indonesia. Bahkan dalam sejumlah kasus, kebanyakan kandidat yang terpilih sebagai kepala daerah dalam pilkada secara tertutup maupun terbuka menjadi mesin politik destruktif bagi daerah masing-masing.

Para kandidat destruktif tampak melalui sejumlah kasus. Pertama, mereka yang secara jelas, menurut putusan pengadilan, terkait dengan kasus-kasus korupsi di daerah, baik yang berhubungan dengan dana APBN maupun APBD. Kedua, mereka yang secara tertutup maupun terbuka terkait dengan suap menyuap atau ‘kong-kalikong’ dengan para pemilik modal. Caranya, mereka menggelontorkan sejumlah kebijakan yang menguntungkan para pemilik modal tertentu. Ketiga, mereka yang secara terbuka dan tertutup memiliki vested interest dan moral hazard luar biasa terhadap potensi sumber daya alam dan lingkungan di daerah masing-masing. Karena itu, secara serakah mereka terus mengeruk sumber-sumber kekayaan alam dan lingkungan di daerah masing-masing tanpa mempedulikan aspek AMDAL dan ketahanan lingkungan bagi generasi mendatang. Keempat, mereka yang ketika memerintah terus memorak-porandakan sumber daya birokrasi dan kalangan professional potensial di daerah demii keuntungan politik personal, dinasti/keluarga maupun kepentingan bisnis masing-masing.

Dalam jangka panjang, empat jenis kandidat tersebut kian membahayakan proses demokrasi lokal di Indonesia. Maka, tidak heran, selama beberapa tahun dijalankan di negeri ini, demokrasi lokal belum menunjukkan penampilan yang membanggakan. Bahkan, demokrasi lokal masih menyisakan sejumlah persoalan. Yakni, problem komunikasi antara gubernur dengan bupati/walikota, masih tingginya ketergantungan anggaran terhadap pusat, ketidakmandirian pembangunan karena selalu menunggu infus dari pusat.

Cacat Moral
Seiring dengan rencana revisi UU No.32 tahun 2004, Mendagri Gamawan Fauzi, terus menggulirkan sejumlah isu yang cukup kontroversial. Misalnya, seputar syarat kandidat yang tidak cacat moral/tidak pernah berzina dan berpengalaman dalam pemerintahan. Pendapat Mendagri itu mendapatkan kritik tajam dari sejumlah kalangan. Cacat moral sebenarnya wilayah yang sangat kompleks. Tidak cukup ditafsirkan sebagai mereka yang dianggap atau diduga pernah bertindak asusila atau zina. Hal yang mestinya dikedepankan adalah kredibilitas moral para kandidat terkait dengan kepentingan publik.

Isu paling konkrit, misalnya, terkait dengan tindakan yang secara langsung dan tidak langsung mendukung perilaku korupsi di daerah. Hal tersebut mestinya lebih dikedepankan dalam materi yang diajukan untuk revisi. Harus diakui, dari berbagai daerah yang telah menggelar pilkada hanya sedikit sekali kepala daerah yang mampu menghasilkan output dan outcome kepemimpinan yang cenderung unggul. Pembangunan daerah memang suatu hal yang kompleks. Tapi kualitas kandidat merupakan faktor penting yang tidak dapat diabaikan. Karena itu, UU No.32 Tahun 2004 memang urgen untuk segera direvisi. Sistem demokrasi lokal, menurut saya sudah cukup memadai. Namun, persoalan terberat terletak pada aktor politik, yaitu kandidat yang bersaing dalam pilkada. Kedepan, dalam rangka revisi Uu itu, seharusnya ada tiga hal yang di kedepankan. Yaitu, kualitas, integritas, dan kredibilitas kandidat. Dalam sistem demokrasi, idealnya memang tidak diperlakukan syarat yang ketat bagi kandidat untuk maju dalam pilkada. Toh, semuanya tergantung penilaian pemilih.

Kendati demikian, mengingat kualitas pemilih kita masih memperhatinkan dan pelaksanaan pilkada sering dipenuhi kecurangan, memang dibutuhkan regulasi untuk menyaring kandidat terbaik di daerah masing-masing.

Sistem demokrasi elektoral telah memungkinkan siapapun yang memiliki kekuatan uang dan politik serta popularitas dengan mudah “membeli” suara rakyat. Itulah yang sebenarnya telah menghancurkan tujuan pilkada sebagai wujud pendalaman demokrasi di Indonesia.

Kartini dan Ibnu Rusyd


Saat sedang memnjelajah mencari tulisan2 bagus, tiba2 saya sampai di sebuah situs yang berisi tulisan berikut ini. Berikut ini sama sekali bukan tulisan saya, jadi di bagian paling bawah, saya mencantumkan sumber aslinya.. Sengaja saya copas di blog saya, supaya bisa berbagi dengan lebih banyak orang.. Semoga temen2 semua bisa mengambil makna tersirat dalam cuplikan berikut. Di bawah ini adalah cuplikan dialog imajiner (artinya dialog ini tidak benar2 terjadi tentunya) antara RA. Kartini dan seorang agamawan ternama Ibnu Rusyd. Mereka memperbincangkan mengenai tema perempuan dan kesetaraan dalam perspektif agama. Kartini di sini mengeluarkan beberapa keluhan dan pertanyaan2nya untuk menuntut jawab dari orang yang dianggapnya mewakili perspektif yang ia pertanyakan ini. Tetapi is dari cuplikan dialog berikut ternyata memberi jawaban yang gamang tetapi cukup bermakna baginya… dan mungkin bagi kita semua.. Selamat membaca..

Salah satu keluhan Kartini dalam Habis Gelap Terbitlah Terang adalah soal pandangan agama dan budaya yang tidak berpihak kepada perempuan. Pertama, Kartini mengeluh betapa ia tak dapat memahami Alquran karena pada masanya, kitab suci itu dianggap terlalu suci untuk diterjemah ke bahasa Jawa. Selain itu, dalam sebuah dialog dengan seorang kiai, Kartini jelas mengajukan pertanyaan kritis. Misalnya tentang apa hukumnya bagi kiai yang enggan membagi ilmunya kepada perempuan yang dahaga pengetahuan seperti dirinya.

Saya membayangkan Kartini berjumpa dengan ahli Islam sekaligus filosof par excellent asal Andalusia, Ibnu Rusyd. Dalam perjumpaan itu, terjadilah dialog kritis seputar persoalan perempuan.

Kartini: Pak Walid (nama akrab Ibnu Rusyd), Anda dikenal sebagai ahli fikih dan filosof Islam yang andal. Adakah tempat dalam pikiranmu untuk perempuan?”

Ibnu Rusyd: Tentu saja! Pernahkah kau menonton film tentangku, Le Destine , yang dibuat sutradara Mesir, Youssef Shahin?

Kartini: Aku pernah menontonnya dari DVD yang dihadiahkan seorang aktivis perempuan. Kalau kuperhatikan, hubunganmu kurang berjarak dan cukup akrab dengan perempuan. Menurut kabar yang sampai padaku, saat film itu diputar perdana di Mesir, banyak agamawan protes karena itu dianggap merendahkan martabatmu sebagai ahli agama Islam. ”Sosok ulama sepertimu tidak akan bersikap demikian terhadap perempuan,” pikir mereka.”

Ibnu Rusyd: Ya, Shahin kadang agak berlebihan, tapi itu tidak terlalu meleset dari profil pribadiku. Begitulah aku kurang-lebih. Jangan lupa, aku bukan hanya seorang ulama, tapi juga tabib, filosof, sedikit-sedikit mengerti musik. Kau pasti tahu, Ibnu Hazm, ahli fikih mazhab zahiri yang sekampung denganku, juga sangat akrab dan tidak punya persoalan dengan perempuan.

Kartini: Apa makna ungkapanmu yang pertama?

Ibnu Rusyd: seorang ulama terkadang berpikir dari sesuatu yang partikular dan parsial tentang kehidupan. Sementara seorang filosof, ia beranjak dari visi besarnya tentang dunia dan alamraya. Karena itu, dalam al-Dlarûri fi al-Siyâsah (Pokok-Pokok Politik), ulasan dan komentarku terhadap The Politic Plato, aku menyisipkan beberapa pandanganku tentang ”seni mengatur masyarakat” yang merupakan objek ilmu politik. Nah, bab tentang perempuan aku sisipkan di situ.

Kartini: Tega nian Engkau tak membahas persoalan sepenting ini secara tersendiri, tapi justru menyisipkannya dalam bab tentang politik!

Ibnu Rusyd: Kalau kau sudah mendengarkan tuntas uraianku, Engkau tak perlu berkecil hati! Perlu kau ketahui, bukanlah maksudku untuk mengecilkan arti perempuan. Justru, di bab itu kukatakan bahwa salah satu tujuan dasar negara utopianku adalah untuk mengoptimalkan segenap potensi kemanusiaan semua warga masyarakatnya. Semua, tanpa kecuali, tanpa diskriminasi.

Kartini: ya, tapi bagaimana kau menempatkan setengah bahkan lebih dari setengah bagian masyarakat itu! Itu penting kuketahui…

Ibnu Rusyd: Justru itulah yang hendak kuuraikan. Ingat Kartini, aku memulai bahasan tentang perempuan dari premis dan asumsi tentang kesetaraaan antara laki-laki dan perempuan dalam tujuan-tujuan umum kemanusiaannya. Impian-impian dan cita-cita mereka di dalam suatu masyarakat, bagiku relatif sama. Dari persamaan esensial itulah aku merumuskan hak dan kewajiban yang setara bagi keduanya untuk menyokong visiku tentang negara utopian. Mereka sama-sama harus difasilititasi oleh negara guna mencapai segenap potensi kemanusiaan mereka. Itu jugalah tujuan pendidikan yang kurumuskan dalam sebuah negara utopia. Ingat, aku berpendapat bahwa negara, pertama-tama dan utamanya, adalah sebuah institusi pendidikan akbar.

Kartini: Tapi kau juga mengatakan bahwa pada laki-laki dan perempuan juga terdapat perbedaan. Laki-laki lebih kuat dan tahan banting (aktsar kaddan), sementara perempuan lebih tekun dan intuitif (aktsah hadzaqan). Lalu kaubuatlah pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin. Laki-laki lebih layak bekerja di sektor yang memeras tenaga, perempuan di tempat ketekunan dan ketelatenan diminta. Apa itu tidak bias laki-laki dan dapat berujung pada peminggiran terhadap hak-hak perempuan?

Ibnu Rusyd: Maafkan aku bila itu dianggap bias gender pada generasimu. Aku sungguh tidak pernah bermaksud membuat timpang sistem sosial yang kususun dalam negara utopiaku. Keseimbangan antar semua komponen adalah hal terpenting dalam negaraku. Pandanganku itu hanya menguraikan tentang apa yang ada dalam kenyataan. Itu sama sekali tidak menafikan visi besarku tentang negara utopian: potensi keduanya harus dioptimalkan. Pada tingkat kenyataan, aku juga punya pendapat yang sangat sensitif gender.

Kartini: Aku belum pernah mendengarkan itu. Bisakah kau katakan, mungkin aku akan berbesar hati….

Ibnu Rusyd: Baiklah kalau kau bersedia menyimak analisisku terhadap persoalan ekosospol di banyak negara muslim, terutama di tanah airku, Andalusia. Sejujurnya, bagiku potensi perempuan selama ini lebih banyak terabaikan daripada diberdayakan. Kebanyakan mereka hanya diperlakukan sebagai alat reproduksi (li an-nasl) dan semata-mata untuk melayani kepentingan suami. Tak jarang, mereka dipaksa untuk terus melahirkan, menyusui, dan mengasuh anak. Bagi sebagian, itu bukan masalah. Tapi bagiku, itu berakibat fatal pada melemahnya potensi-potensi kemanusiaannya yang lain.

Kartini: Menarik! Lalu apa dampak ekosospolnya?

Ibnu Rusyd: Karena itu tidak sesuai dengan visi negara utopianku yang mementingkan keseimbangan, maka wajarlah bila ia menjadi beban ekonomi, sosial, bahkan politik. Sangat disayangkan, potensi kemanusiaan setengah warga polisku terabaikan, bahkan terkubur. Bahkan–maaf jika aku harus berkata lancang—perempuan lebih banyak diperlakukan bagai rumput (ka al-a`syâb). Kau tahu Kartini, rumput biasanya diinjak, mati bila tidak diairi, dan meski tak jarang tetap mampu merambat, ia tak banyak berarti dibanding tumbuhan lainnya.

Kartini: Aduh, betapa menyakitkan hati mendengarnya! Tapi kau belum menjelaskan akibat ekosospolnya…

Ibnu Rusyd: Kukira kau bisa membayangkannya sendiri, Kartini!

Kartini: Ya, sudah pasti mereka akan menjadi beban karena memang dibuat bergantung pada unsur-unsur lain yang belum tentu juga produktif. Dan andai separuh lebih dari populasi negara utopianmu itu hanya rumput kering, astaga, itu pasti akan menjadi beban pikiran raja filsuf yang kau anggap sosok ideal memimpin mereka.

Ibnu Rusyd: Sungguh tajam intuisi dan analisismu, Kartini!

Kartini: Terima kasih. Tapi aku hampir terlupa satu hal. Mengapa kitab-kitab fikih menetapkan bahwa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin puncak, misalnya di negara utopiamu? Hm, aku baru ingat, engkau juga seorang agamawan, bukan?!

Ibnu Rusyd: Tak ada bedanya antara Ibnu Rusyd sebagai filsuf dengan Ibnu Rusyd yang agamawan. Pada keduanya, aku hanya ingin mencari sisi-sisi kebenaran dan kearifan hidup. Tapi kalau kau tetap bersikukuh menginginkan jawaban fikih, baiklah! Rumusanku begini: karena dalam pandangan fikih diduga (dzunna) para pemimpin tak banyak berasal dari kaum perempuan, maka sebagian syariat (ba’dla al-syarâ’i) tidak mengizinkannya berada di tangan perempuan. Ingat dua kata kunciku: diduga, dan sebagian.

Kartini: Mengapa dugaan dijadikan dasar dalam berargumen?

Ibnu Rusyd: Ingat Kartini, ketetapan fikih itu berasal dari pengandaian-pengandaian partikular, sementara filsafat berangkat dari visi besar apa yang hendak dicapai suatu masyarakat. Visi besar itu lalu dijabarkan dalam upaya-upaya partikular.

Kartini: Aduh, aku makin tak mengerti; mana pendapatmu yang sebenarnya?!

Ibnu Rusyd: Perempuan secerdas kamu pasti tahu mana pendapatku. Tak perlu kuuraikan secara eksplisit. Selain itu, aku tak terbiasa mendiktekan pendapat yang harus diikuti seseorang. Paling banter, aku hanya mengatakan bahwa pendapat tertentu layak dipertimbangkan secara seksama. Kau harus memilih Kartini, terserah mana yang lebih cocok untuk generasimu!

Kartini: Baiklah, ini pertanyaan terakhir: Mengapa al-Ghazali mengatakan bahwa aurat perempuan itu berlapis sepuluh. Tatakala menikah, tersingkaplah salah satu lapisannya. Sementara untuk sembilan sisanya, semua baru akan tersingkap tatkala mereka telah berpulang ke rahmatullah. Apa komentarmu?

Ibnu Rusyd: Tolong jangan paksa aku menjawabnya. Kau tau, aku tidak suka jenis manusia setengah filosof apalagi teolog. Maaf aku tak bisa meneruskan komentarku. Pesanku hanya satu: berhati-hatilah untuk memilih pendapat yang pada kulitnya tampak mulia. Sebab, tak jarang dalam selubung itu tersimpan dampak negatif yang fatal untuk kaummu seperti kutunjukkan tadi dalam analisis soal Andalusia.

Kartini: leuk om een gesprek met u, Pak Walid!

Sumber Asli:
“Dialog Imajiner Kartini dan Ibnu Rusyd”

Pluralisme Agama (Islam)


Sebagian orang pasti pernah mendengar julukan Bapak Pluralis bagi Alm. Abdurrahman Wachid atau biasa dipanggil Gus Dur. Beliau telah mengusung semangat pluralisme sejak dulu. selian itu, tokoh pluralis di Indonesia yang lainnya antara lain Nurcholis Majid, Eka Darmaputra dan TH Sumartana. Tetapi dengan sepeninggalnya beberapa tokoh yang mengusung pluralisme ini, banyak orang malah menjadi pesimis akan cerahnya era pluralisme di Indonesia untuk ke depannya.

Di sisi lain, pluralisme tidak jarang dianggap sebagai suatu hal yanng munkar (salah). Mengapa demikian? Tudingan-tudingan miring seputar isu pluralis sering kali terdengar. terutama anggapan-anggapan yang menuduh semangat pluralis untuk menyamakan semua agama. Tentuu saja hal itu sama sekali bukanlah niat dari pluralisme.

Oleh karena itu, penting sekali bagi kita semua untuk memahami dengan baik apa sebenarnya yang dimaksud dengan pluralisme. Agar kita bisa menilai dengan obyektif, maka kita perlu mengenalnya dulu. Dalam kesempatan kali ini, saya akan membahas pengertian pluralisme dengan sederhana agar mudah dipahami oleh orang-orang awam seperti saya ini. Saya telah mengumpulkan beberapa informasi mengenai pengertian Pluralisme serta beberapa hal yang terkait dengannya sebagaimana di bawah ini.

Secara etimologis, Pluralisme yang kita kenal berasal dari kata “Pluralism” (eng) yg berakar dari kata “Plures” (latin) yang berarti beberapa hal yang berkaitan dengan implikasi perbedaan. Itu artinya, pluralisme tidak berarti keseragaman. Begitu pula dalam hal pluralisme agama, tidak berarti adanya keseragaman atau penyamaan agama-agama yang ada. Setiap agama mempunyai keunikannya sendiri-sendiri.

Unsur-unsur agama antara lain yaitu adanya Rasul/utusan, wahyu/kitab suci dan ibadah ritual formal. Oleh karena itu, setiap agama tentu akan memiliki perbedaan-perbedaan dalam ketiga hal tesebut, tapi perbedaan itu bukanlah dan tidak seharusnya menjadi sumber konflik di antara mereka.

Pluralisme adalah sebuah kerangka di mana ada interaksi beberapa kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormati dan toleransi satu sama lain (Wikipedia.org). Pluralisme adalah salah satu ciri masyarakat modern, dan mungkin merupakan penunjang utama kemajuan suatu masyarakat. Mewujudkan sebuah pluralisme dapat membuahkan dampak-dampak positif, antara lain menghasilkan partisipasi yang lebih luas serta komitmen masyarakat untuk maju bersama. Hal ini bisa dilihat dari contoh perwujudan pluralisme dalam masyarakat; di badan perusahaan, badan politik dan badan kemasyarakatan lainnya.

Pluralisme agama itu sendiri adalah sebuah konsep yang mempunyai makna yang luas, berkaitan dengan penerimaan terhadap agama-agama yang berbeda, dan dipergunakan dalam cara yang berlain-lainan pula.

Pluralisme agama tidak hendak menyatakan bahwa semua agama adalah sama. Frans Magnis-Suseno berpendapat bahwa menghormati agama orang lain tidak ada hubungannya dengan ucapan bahwa semua agama adalah sama. Agama-agama jelas berbeda-beda satu sama lain. Perbedaan-perbedaan syari`at yang menyertai agama-agama menunjukkan bahwa agama tidaklah sama. Setiap agama memiliki konteks partikularitasnya sendiri sehingga tak mungkin semua agama menjadi sebangun dan sama persis. Yang dikehendaki dari gagasan pluralisme agama adalah adanya pengakuan secara aktif terhadap agama lain. Agama lain ada sebagaimana keberadaan agama yang dipeluk diri yang bersangkutan. Setiap agama punya hak hidup.

Nurcholish Madjid menegaskan, pluralisme tidak saja mengisyaratkan adanya sikap bersedia mengakui hak kelompok agama lain untuk ada, melainkan juga mengandung makna kesediaan berlaku adil kepada kelompok lain itu atas dasar perdamaian dan saling menghormati. Allah berfirman, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi dalam urusan agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. QS, al-Mumtahanah [60]: ayat 8

Pluralisme tidak berarti bahwa semua agama adalah sama. Sebab, di samping memang mengandung kesamaan tujuan untuk menyembah Allah dan berbuat baik, tak bisa dipungkiri bahwa setiap agama memiliki keunikan, kekhasan, dan syari`atnya sendiri. Sebagian mufasir berkata, al-dîn wâhid wa al-syarî`at mukhtalifat [agama itu satu, sementara syari`atnya berbeda-beda]. Detail-detail syari`at ini yang membedakan satu agama dengan agama lain. Sebab, tidaklah mustahil bahwa sesuatu yang bernilai maslahat dalam suatu tempat dan waktu tertentu, kemudian berubah menjadi mafsadat dalam suatu ruang dan waktu yang lain. Bila kemaslahatan dapat berubah karena perubahan konteks, maka dapat saja Allah menyuruh berbuat sesuatu karena diketahui mengandung maslahat, kemudian Allah melarangnya pada waktu lain karena diketahui ternyata aturan tersebut tidak lagi menyuarakan kemaslahatan.

Dalam masyarakat plural seperti Indonesia, saatnya umat Islam lebih memperhatikan ayat-ayat universal, setelah sekian lama memfokuskan diri pada ayat-ayat partikular. Ayat-ayat partikular pun kerap dibaca dengan dilepaskan dari konteks umum yang melatar-belakangi kehadirannya. Berbeda dengan ayat-ayat partikular, ayat-ayat universal mengandung pesan-pesan dan prinsip-prinsip umum yang berguna untuk membangun tata kehidupan Indonesia yang damai.

Sumber:
1. Pengertian Pluralisme dari Wikipedia
2. Islam dan Pluralitas(isme) Agama

Agama dan Kebenaran untuk Mengenal-Nya


Ada orang yg ingin mencari agama, ia menjadi orang beragama…

Ada juga orang yg ingin mencari Tuhan, ia menjadi orang yg berTuhan…

Tapi ada orang yg ingin mencari Kebenaran, ia menjadi orang Bijaksana….

Tidak banyak manusia yang menyadari kebutuhannya untuk mencari kebenaran.
Tetapi banyak juga manusia yg sedang mencari Kebenaran itu malah mempertanyakan “apa itu kebenaran?”

Banyak manusia yang beragama.
Tapi tidak banyak yang menyadari bahwa agama adalah sarana, bukan tujuan.
Tidak banyak yang menyadari bahwa agama, yg mereka tunggangi, adalah sarana menuju-Nya. Menuju Kebenaran. Bukan tujuan akhir itu sendiri.

Banyak manusia yang kemudian mulai mempertanyakan.
Mereka bahkan menyatakan ketidakpercayaannya. Menolak-Nya.
Tidak banyak yang menyadari bahwa di sekitar mereka terpancar mata air yg tak pernah berhenti mengalir, tidakkah mereka mau meneguknya untuk menghilangkan rasa haus itu?

Banyak manusia yang telah menyadari, kebenaran… jauh mendekat kepada-Nya… menembus batas2 agama yang ada, dan melebihi apa yang tertulis di tumpukan kertas2 yg dijilid itu…

Tidakkah manusia boleh mempertanyakan? Tentu boleh.. Tanyakanlah…
Tidakkah manusia berhak merasakan keraguan? Tentu saja… Bagaimana bisa sebuah pikiran yang sehat dan rasional tidak memiliki keraguan? (Jeffrey Lang, 2008). Tidakkah agama itu memang untuk manusia yang berpikir?

Tidakkah kita pantas mencari keadilan dan kebijaksanaan.. ataukah hanya surga dan neraka saja yang menjadi iming2 penata moral?

Seseorang telah mengatakan kepada saya, bahwa kita dapat mengenali air dari rasa haus, perdamaian dari kisah perang, dan cinta dari kematian… (Emiliy Dickinson)

Lalu tidakkah sarana untuk “membaca” kebenaran itu ada dimana-mana?
Tetapi apa sebenarnya yang kita tuju.. bagaimana bila kita tidak pernah sampai? bagaimana bila kita tidak pernah mendapatkannya dan tidak pernah diharuskn mendapatkannya? Kitakah yang membutuhkannya? Untuk apa?

Kawan…
Hidup ini adalah perjalanan..
Yang kuyakin tentu akan ada ujungnya..

Sekumpulan sosok-sosok ideal yang diajarkan padaku tentang menjadi manusia yang baik.. tidak lagi bisa memuaskan keinginanku untuk tau…

Dr. Jeffrey Lang dan Prof. Ziaudin Sardar adalah dua manusia yang menurutku mempunyai pemikiran yang hebat.. Kerendah hatian yang membungkus keberanian mereka mengungkap dan mengupas.. segala hal yg patut dipertanyakan.. ajakan dan himbauan2 yang halus, tentu akan berguna bagi siapapun yg mau mengambilnya.. Kedua orang ini, dalam waktu dan tempat yg berbeda, telah menulis sebuah buku, yg masing2 telah sampai ke tanganku.. ide-ide mereka kini telah sampai ke benakku..

Dua orang yg berbeda ini, telah membantuku membuat sebuah kesimpulan-kesimpulan mengerikan, namun luar biasa… Kemudian aku menyadari, tentu aku bisa mendapatkan lebih banyak pengalaman luar biasa lagi, dari berbagai sumber2 lainnya.. maka aku terus mencari..

Sampailah pencarianku pada pertanyaan tentang..

Siapa aku?

Untuk apa aku ada di sini?

Apa itu keadilan Tuhan?

Apa itu kebijaksanaan?

Apa itu agama?

Apa itu Kebenaran?

dan berbagai macam pertanyaan-pertanyaan lainnya yg tentu saja akan kucari jawabannya.. Aku ingin mengenal-Nya.. Aku hanya memohon dua hal dari-Nya untuk saat ini.. yaitu..

“Kesempatan” dan “Kemampuan”

Duduk dan Berpikir Sendiri


    Duduk sendiri…

    Berpikir sendiri…

    Secangkir kopi tak lagi terlihat bersahabat

    Langit senjapun terasa semakin menyeramkan

    Kalimat-kalimat pertama yang terucap dalam benakku

    Tertuang begitu saja dalam tulisan itu

    Sekumpulan simbol dan bentuk

    Menyampaikan makna yang tak utuh

    Entah akan berujung dimana…

    Walau langit berubah warna…

    Pikiranku terbang bebas

    Melesat menembus batas

    tapi apalah daya

    tubuh ini tak mampu mengiringi…

Baca selengkapnya…

Panggilan di balik Tabir


Jiwaku sudah terasa bagai tercabik-cabik…

Potongan-potongan puzzle ini telah mulai menghilang…

Yang tak ku tau adalah…

Apakah susunan puzzle ini tadinya hanya tabir,

atau merekalah realita yang sebenarnya.

Susunan yang belum rampung ini…

tak lagi bisa kurampungkan tanpa bantuan-Mu.

Ataukah ini cara-Mu membantuku?

Aku hanya akan terus berjalan…

Melakkukan apa yang telah kumulai.

Sekalipun mungkin saja suatu saat

Aku akan terjebak sendiri di dalamnya.

Tapi ku mendengar panggilan itu..

Maka…

Ku hanya bisa berharap

Semoga ku sedang melakukan hal yang Benar…