Isu seputar rencana Julia Perez alias JuPe untuk mencalonkan diri sebagai bupati Pacitan memang telah mengundang kontroversi yg hangat. ada sebagian besar orang yang mendukungnya, terutama di situs jejaring sosial ‘facebook’. tapi tidak sedikit juga kalangan yang menentangnya. yaaahhh…. coba saja kita pikir baik2, orang dengan kualitas semacam itu kok mau menjadi bupati, mau memimpin dan memanage sebuah wilayah kabupaten. saya sich bukannya underestimate sama mbak JuPe, tapi ya ini kan menyangkut kepentingan umum, jadi sudah seharusnya kita kritisi. jangan jadikan ini cuma ajang ‘seneng2an’ aja. saya juga gak tau motivasi mbak JuPe di balik niatan itu sebenernya apa, mungkin aja mau menaikkan popularitas, ato memuaskan keinginan dirinya semata, ato bahkan ada pihak2 yg dengan sengaja ‘memanfaatkan’ ketenaran beliau. tapi ini cuma presiksi lohh.. ya saya sich positif thinking aja, semoga mbak JuPe bener2 serius dgn niatannya itu.

tapi sekalipun beliau serius, ada beberapa hal lagi yg mesti diperhatikan. misalnya kualitas pendidikan dan pengetahuannya thd isu politik dan hukum, fakta dan keadaan Pacitan sebenarnya, serta segala hal yg menyangkut kredibilitas seseorang untuk dapat dikatakan ‘pantas’. saya yakin segala hal itu bisa dipelajari, tapi tidak dalam waktu yg singkat kan’?
selain itu, untuk menjadi seorang pemimpin yg ideal, saya rasa tidak hanya dibutuhkan ketenaran dan pengetahuan saja, tetapi juga karakter, kepribadian dan etos yang baik. akhlak dan moral juga merupakan hal penting sebagai kualifikasi seorang pemimpin, sekalipun itu hanya Ketua RT. nah….apalagi calon Bupati??

sekarang mari kita semua menilai, apakah seorang JuPe sudah memenuhi berbagai kualifikasi untuk dikatakan ‘pantas’ menjadi seorang pemimpin? itu semua terserah khalayak untuk menilai.

satu hal yang ingin saya sampaikan berkaitan dengan image JuPe yang–tidak dapat dikatakan tidak–kontroversial di mata masyarakat, dan cenderung berkesan erotis, adalah sebuah kutipan di sebuah koran yang saya baca hari ini.

Hari ini di koran JawaPos (1 April 2010), ada sebuah kutipan yang membuat saya terkejut. kutipan2 di rubrik Mr.Pecut memang biasanya agak ‘nyeleneh’. tetapi kali ini kok rasanya agak risih ya, sebuah media pers yg saya hormati tapi menampilkan kutipan semacam itu. saya tidak dapat mengutipnya dengan pasti (maaf) tetapi kurang lebih, isinya mengenai niatan JuPe mencalonkan diri sbg cabup Pacitan (sbgmn tlah saya sebutkan di atas tadi). kemudian komentar di bawahnya, yang biasanya berkesan retoris itu berisi respon bahwa jika JuPe berhasil jadi bupati, maka rapat2 di kantor akan terasa penuh ‘ketegangan’. bagaimana menurut Anda tulisan semacam itu?
belum lagi sebuah gambar ilustrasi yang ditampilkan di bawah tulisan tersebut. seorang wanita berambut panjang hitam, dengan baju merah yang memperlihatkan bahunya, serta digambarkan dengan payudara yang besar (maaf, tidak ada maksud vulgar, ini fakta). saya cukup terenyuh melihat informasi semcam itu di media pers.

hal itu jelas mengandung kesan melecehkan. walaupun kenyataan bahwa JuPe hampir selalu tampil erotis dan sensual, tapi tidak sepantasnya media jurnalistik menampilkan kalimat2 yang mengandung pelecehan semacam itu. saya sangat prihatin. tapi perlu digaris bawahi bahwa keprihatinan saya ini bukan berarti saya mendukung kesensualan JuPe sebagaimana kita tau selama ini.

saya pun juga sangat prihatin dengan sosok JuPe yang seperti itu, saya sangat berharap perempuan2 Indonesia dapat menampilkan diri lebih SMART dan TERHORMAT. dapat mengemban pendidikan yang baik, serta memberi kontribusi bagi kepentingan umum dengan jalur yang baik.

tetapi saya juga berharap media jurnalistik yang seharusnya merupakan media yang mencerdaskan bangsa, tidak lagi melakukan hal2 yang melecehkan semacam itu. saya juga tidak tau apakah JuPe akan keberatan atau tidak seandainya ia tau pemberitaan dan penggambaran dirinya seerti itu di koran, tetapi saya hanya prihatin dengan kepentingan umum. media jurnalistik walaupun mempunyai fungsi komersil dan ekonomi, tetapi harus senantiasa mendahulukan kepentingan umum (termasuk pencerdasan masyarakat dan pengemban etika dan moral).

sekian guratan pikiran saya di sini. silahkan dikomentari. jika ada yang salah mohon dikoreksi.