Adanya pembedaan gender sebagaimana yang hidup di masyarakat kita, mengakibatkan kedudukan, fungsi dan peran perempuan seakan-akan berada pada tingkatan lebih rendah dibanding laki-laki (subordinasi). Tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa perbedaan fungsi dan peran yang disebabkan oleh perbedaan jenis kelamin (biologis dan fisiologis) pada perempuan dan laki-laki, tetapi jika lebih dari itu, maka perbedaan yang ada hanyalah merupakan konstruksi sosial atau bentukan masyarakat, yang dipengaruhi oleh faktor budaya, pendidikan, adat, agama, dll.

Mengenai pengertian gender dan perbedaannya dengan jenis kelamin, telah saya bahas pada tulisan saya sebelumnya, untuk melihatnya bisa Anda klik tautan berikut: Perbedaan Gender dan Jenis Kelamin. Pada ujungnya, pembedaan-pembedaan gender itu akan menjurus dan mengakibatkan ketidakadilan dan diskriminasi. Dan yang menjadi korban dari bentuk diskriminasi akibat pembedaan gender itu kebanyakan adalah kaum perempuan.

Pernahkah Anda mendengar ungkapan bahwa laki-laki pada umumnya lebih mengutamakan logika daripada perasaan, sedangkan perempuan lebih mengutamakan perasaan daripada logika. Sehingga tidak jarang, perempuan dianggap tidak dapat menjadi pemimpin atau menduduki suatu jabatan tertentu. Tetapi pernahkah Anda mempertanyakan dalil atau dasar ungkapan tersebut? Dapatkah dibuktikan secara ilmiah? Tidakkah ungkapan yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah itu mengakibatkan diskriminasi dan ketidakadilan? Saya rasa ungkapan semacam itu sudah saatnya kita tinggalkan jauh-jauh, bukan hanya karena tidak ada pembuktian ilmiah secara akurat, tetapi juga akan menimbulkan bentuk-bentuk ketidakadilan dan pembatasan hak-hak tertentu pada salah satu pihak, yaitu perempuan. Atau paling tidak, sebelum kita meninggalkannya, mari kita lakukan kajian kritis terhadap hal tersebut.

Berkaitan dengan ketentuan agama, saya rasa kita tidak dapat menutup mata dan mengatakan ‘tidak’ bahwa agama mempunyai peran yang cukup besar dalam proses konstruksi gender inequality (pembedaan gender). Dan pembedaan gender tersebut seringkali berujung pada diskriminasi. Berikut ini saya kutipkan sebagian tulisan dari sebuah artikel mengenai gender dalam Islam:

Terbentuknya Gender Differences dikarenakan beberapa hal, diantaranya dibentuk, disosialisasi, diperkuat bahkan konstruksi sosial/kultural melalui ajaran agama atau Negara… Dalam Islam sendiri tidak pernah mentolerir adanya perbedaan/perlakuan diskriminasi di antasa umat manusia. Adapun prinsip kesetaraan tersebut adalah:
a.) Perempuan dan laki-laki sama sebagai hamba Allah,
b.) Perempuan dan laki-laki sebagai khlaifah di bumi,
c.) Perempuan dan laki-laki sama-sama berpotensi dalam meraih prestasi.

Tapi mengapa muncul ketidakadilan terhadap perempuan dengan dalil agama? Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya keyakinan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki sehingga perempuan dianggap sebagai makhluk kedua dan tidak mungkin ada tanpa kehadiran laki-laki, dan keyakinan bahwa perempuan sebagai sumber terusirnya manusia dari surga.

Menurut kutipan di atas, ketidakadilan terhadap perempuan yang didasarkan pada dalil agama dipengaruhi oleh beberapa keyakinan tertentu—yang saya sebut mitos-mitos keagamaan—berkaitan dengan perempuan.

Seperti yang sudah saya uraikan sebelumnya bahwa bentuk-bentuk ketidakadilan yang berdasarkan pada dalil agama seharusnya kita kritisi, bukan ditolak secara langsung maupun diterima ‘mentah2’. Bukankah sikap yang paling baik adalah berada di tengah-tengahnya? Dengan terbitnya tulisan ini, saya menghimbau Anda dan semua orang yang peduli, untuk melakukan kajian ulang secara kontiniu dan kritis, demi mengungkap misteri keadilan-Nya. Sebagai manusia, saya menolak segala bentuk diskriminasi yang didasarkan pada faktor2 alamiah, seperti ras dan jenis kelamin.

Tulisan terkait:
1. Pengertian Gender (Wiki)
2. Perbedaan Gender dan Jenis Kelamin
3. Forum Diskusi Ketidakadilan Atas Dasar Gender
4. Memahami Arti Gender
5. KKG (Keadilan dan Kesetaraan Gender)

Konstitusi / dasar hukum terkait:
1. Inpres No.9 thn 2000 ttg Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan (PUG)