Saat sedang memnjelajah mencari tulisan2 bagus, tiba2 saya sampai di sebuah situs yang berisi tulisan berikut ini. Berikut ini sama sekali bukan tulisan saya, jadi di bagian paling bawah, saya mencantumkan sumber aslinya.. Sengaja saya copas di blog saya, supaya bisa berbagi dengan lebih banyak orang.. Semoga temen2 semua bisa mengambil makna tersirat dalam cuplikan berikut. Di bawah ini adalah cuplikan dialog imajiner (artinya dialog ini tidak benar2 terjadi tentunya) antara RA. Kartini dan seorang agamawan ternama Ibnu Rusyd. Mereka memperbincangkan mengenai tema perempuan dan kesetaraan dalam perspektif agama. Kartini di sini mengeluarkan beberapa keluhan dan pertanyaan2nya untuk menuntut jawab dari orang yang dianggapnya mewakili perspektif yang ia pertanyakan ini. Tetapi is dari cuplikan dialog berikut ternyata memberi jawaban yang gamang tetapi cukup bermakna baginya… dan mungkin bagi kita semua.. Selamat membaca..

Salah satu keluhan Kartini dalam Habis Gelap Terbitlah Terang adalah soal pandangan agama dan budaya yang tidak berpihak kepada perempuan. Pertama, Kartini mengeluh betapa ia tak dapat memahami Alquran karena pada masanya, kitab suci itu dianggap terlalu suci untuk diterjemah ke bahasa Jawa. Selain itu, dalam sebuah dialog dengan seorang kiai, Kartini jelas mengajukan pertanyaan kritis. Misalnya tentang apa hukumnya bagi kiai yang enggan membagi ilmunya kepada perempuan yang dahaga pengetahuan seperti dirinya.

Saya membayangkan Kartini berjumpa dengan ahli Islam sekaligus filosof par excellent asal Andalusia, Ibnu Rusyd. Dalam perjumpaan itu, terjadilah dialog kritis seputar persoalan perempuan.

Kartini: Pak Walid (nama akrab Ibnu Rusyd), Anda dikenal sebagai ahli fikih dan filosof Islam yang andal. Adakah tempat dalam pikiranmu untuk perempuan?”

Ibnu Rusyd: Tentu saja! Pernahkah kau menonton film tentangku, Le Destine , yang dibuat sutradara Mesir, Youssef Shahin?

Kartini: Aku pernah menontonnya dari DVD yang dihadiahkan seorang aktivis perempuan. Kalau kuperhatikan, hubunganmu kurang berjarak dan cukup akrab dengan perempuan. Menurut kabar yang sampai padaku, saat film itu diputar perdana di Mesir, banyak agamawan protes karena itu dianggap merendahkan martabatmu sebagai ahli agama Islam. ”Sosok ulama sepertimu tidak akan bersikap demikian terhadap perempuan,” pikir mereka.”

Ibnu Rusyd: Ya, Shahin kadang agak berlebihan, tapi itu tidak terlalu meleset dari profil pribadiku. Begitulah aku kurang-lebih. Jangan lupa, aku bukan hanya seorang ulama, tapi juga tabib, filosof, sedikit-sedikit mengerti musik. Kau pasti tahu, Ibnu Hazm, ahli fikih mazhab zahiri yang sekampung denganku, juga sangat akrab dan tidak punya persoalan dengan perempuan.

Kartini: Apa makna ungkapanmu yang pertama?

Ibnu Rusyd: seorang ulama terkadang berpikir dari sesuatu yang partikular dan parsial tentang kehidupan. Sementara seorang filosof, ia beranjak dari visi besarnya tentang dunia dan alamraya. Karena itu, dalam al-Dlarûri fi al-Siyâsah (Pokok-Pokok Politik), ulasan dan komentarku terhadap The Politic Plato, aku menyisipkan beberapa pandanganku tentang ”seni mengatur masyarakat” yang merupakan objek ilmu politik. Nah, bab tentang perempuan aku sisipkan di situ.

Kartini: Tega nian Engkau tak membahas persoalan sepenting ini secara tersendiri, tapi justru menyisipkannya dalam bab tentang politik!

Ibnu Rusyd: Kalau kau sudah mendengarkan tuntas uraianku, Engkau tak perlu berkecil hati! Perlu kau ketahui, bukanlah maksudku untuk mengecilkan arti perempuan. Justru, di bab itu kukatakan bahwa salah satu tujuan dasar negara utopianku adalah untuk mengoptimalkan segenap potensi kemanusiaan semua warga masyarakatnya. Semua, tanpa kecuali, tanpa diskriminasi.

Kartini: ya, tapi bagaimana kau menempatkan setengah bahkan lebih dari setengah bagian masyarakat itu! Itu penting kuketahui…

Ibnu Rusyd: Justru itulah yang hendak kuuraikan. Ingat Kartini, aku memulai bahasan tentang perempuan dari premis dan asumsi tentang kesetaraaan antara laki-laki dan perempuan dalam tujuan-tujuan umum kemanusiaannya. Impian-impian dan cita-cita mereka di dalam suatu masyarakat, bagiku relatif sama. Dari persamaan esensial itulah aku merumuskan hak dan kewajiban yang setara bagi keduanya untuk menyokong visiku tentang negara utopian. Mereka sama-sama harus difasilititasi oleh negara guna mencapai segenap potensi kemanusiaan mereka. Itu jugalah tujuan pendidikan yang kurumuskan dalam sebuah negara utopia. Ingat, aku berpendapat bahwa negara, pertama-tama dan utamanya, adalah sebuah institusi pendidikan akbar.

Kartini: Tapi kau juga mengatakan bahwa pada laki-laki dan perempuan juga terdapat perbedaan. Laki-laki lebih kuat dan tahan banting (aktsar kaddan), sementara perempuan lebih tekun dan intuitif (aktsah hadzaqan). Lalu kaubuatlah pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin. Laki-laki lebih layak bekerja di sektor yang memeras tenaga, perempuan di tempat ketekunan dan ketelatenan diminta. Apa itu tidak bias laki-laki dan dapat berujung pada peminggiran terhadap hak-hak perempuan?

Ibnu Rusyd: Maafkan aku bila itu dianggap bias gender pada generasimu. Aku sungguh tidak pernah bermaksud membuat timpang sistem sosial yang kususun dalam negara utopiaku. Keseimbangan antar semua komponen adalah hal terpenting dalam negaraku. Pandanganku itu hanya menguraikan tentang apa yang ada dalam kenyataan. Itu sama sekali tidak menafikan visi besarku tentang negara utopian: potensi keduanya harus dioptimalkan. Pada tingkat kenyataan, aku juga punya pendapat yang sangat sensitif gender.

Kartini: Aku belum pernah mendengarkan itu. Bisakah kau katakan, mungkin aku akan berbesar hati….

Ibnu Rusyd: Baiklah kalau kau bersedia menyimak analisisku terhadap persoalan ekosospol di banyak negara muslim, terutama di tanah airku, Andalusia. Sejujurnya, bagiku potensi perempuan selama ini lebih banyak terabaikan daripada diberdayakan. Kebanyakan mereka hanya diperlakukan sebagai alat reproduksi (li an-nasl) dan semata-mata untuk melayani kepentingan suami. Tak jarang, mereka dipaksa untuk terus melahirkan, menyusui, dan mengasuh anak. Bagi sebagian, itu bukan masalah. Tapi bagiku, itu berakibat fatal pada melemahnya potensi-potensi kemanusiaannya yang lain.

Kartini: Menarik! Lalu apa dampak ekosospolnya?

Ibnu Rusyd: Karena itu tidak sesuai dengan visi negara utopianku yang mementingkan keseimbangan, maka wajarlah bila ia menjadi beban ekonomi, sosial, bahkan politik. Sangat disayangkan, potensi kemanusiaan setengah warga polisku terabaikan, bahkan terkubur. Bahkan–maaf jika aku harus berkata lancang—perempuan lebih banyak diperlakukan bagai rumput (ka al-a`syâb). Kau tahu Kartini, rumput biasanya diinjak, mati bila tidak diairi, dan meski tak jarang tetap mampu merambat, ia tak banyak berarti dibanding tumbuhan lainnya.

Kartini: Aduh, betapa menyakitkan hati mendengarnya! Tapi kau belum menjelaskan akibat ekosospolnya…

Ibnu Rusyd: Kukira kau bisa membayangkannya sendiri, Kartini!

Kartini: Ya, sudah pasti mereka akan menjadi beban karena memang dibuat bergantung pada unsur-unsur lain yang belum tentu juga produktif. Dan andai separuh lebih dari populasi negara utopianmu itu hanya rumput kering, astaga, itu pasti akan menjadi beban pikiran raja filsuf yang kau anggap sosok ideal memimpin mereka.

Ibnu Rusyd: Sungguh tajam intuisi dan analisismu, Kartini!

Kartini: Terima kasih. Tapi aku hampir terlupa satu hal. Mengapa kitab-kitab fikih menetapkan bahwa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin puncak, misalnya di negara utopiamu? Hm, aku baru ingat, engkau juga seorang agamawan, bukan?!

Ibnu Rusyd: Tak ada bedanya antara Ibnu Rusyd sebagai filsuf dengan Ibnu Rusyd yang agamawan. Pada keduanya, aku hanya ingin mencari sisi-sisi kebenaran dan kearifan hidup. Tapi kalau kau tetap bersikukuh menginginkan jawaban fikih, baiklah! Rumusanku begini: karena dalam pandangan fikih diduga (dzunna) para pemimpin tak banyak berasal dari kaum perempuan, maka sebagian syariat (ba’dla al-syarâ’i) tidak mengizinkannya berada di tangan perempuan. Ingat dua kata kunciku: diduga, dan sebagian.

Kartini: Mengapa dugaan dijadikan dasar dalam berargumen?

Ibnu Rusyd: Ingat Kartini, ketetapan fikih itu berasal dari pengandaian-pengandaian partikular, sementara filsafat berangkat dari visi besar apa yang hendak dicapai suatu masyarakat. Visi besar itu lalu dijabarkan dalam upaya-upaya partikular.

Kartini: Aduh, aku makin tak mengerti; mana pendapatmu yang sebenarnya?!

Ibnu Rusyd: Perempuan secerdas kamu pasti tahu mana pendapatku. Tak perlu kuuraikan secara eksplisit. Selain itu, aku tak terbiasa mendiktekan pendapat yang harus diikuti seseorang. Paling banter, aku hanya mengatakan bahwa pendapat tertentu layak dipertimbangkan secara seksama. Kau harus memilih Kartini, terserah mana yang lebih cocok untuk generasimu!

Kartini: Baiklah, ini pertanyaan terakhir: Mengapa al-Ghazali mengatakan bahwa aurat perempuan itu berlapis sepuluh. Tatakala menikah, tersingkaplah salah satu lapisannya. Sementara untuk sembilan sisanya, semua baru akan tersingkap tatkala mereka telah berpulang ke rahmatullah. Apa komentarmu?

Ibnu Rusyd: Tolong jangan paksa aku menjawabnya. Kau tau, aku tidak suka jenis manusia setengah filosof apalagi teolog. Maaf aku tak bisa meneruskan komentarku. Pesanku hanya satu: berhati-hatilah untuk memilih pendapat yang pada kulitnya tampak mulia. Sebab, tak jarang dalam selubung itu tersimpan dampak negatif yang fatal untuk kaummu seperti kutunjukkan tadi dalam analisis soal Andalusia.

Kartini: leuk om een gesprek met u, Pak Walid!

Sumber Asli:
“Dialog Imajiner Kartini dan Ibnu Rusyd”