Sebagian orang pasti pernah mendengar julukan Bapak Pluralis bagi Alm. Abdurrahman Wachid atau biasa dipanggil Gus Dur. Beliau telah mengusung semangat pluralisme sejak dulu. selian itu, tokoh pluralis di Indonesia yang lainnya antara lain Nurcholis Majid, Eka Darmaputra dan TH Sumartana. Tetapi dengan sepeninggalnya beberapa tokoh yang mengusung pluralisme ini, banyak orang malah menjadi pesimis akan cerahnya era pluralisme di Indonesia untuk ke depannya.

Di sisi lain, pluralisme tidak jarang dianggap sebagai suatu hal yanng munkar (salah). Mengapa demikian? Tudingan-tudingan miring seputar isu pluralis sering kali terdengar. terutama anggapan-anggapan yang menuduh semangat pluralis untuk menyamakan semua agama. Tentuu saja hal itu sama sekali bukanlah niat dari pluralisme.

Oleh karena itu, penting sekali bagi kita semua untuk memahami dengan baik apa sebenarnya yang dimaksud dengan pluralisme. Agar kita bisa menilai dengan obyektif, maka kita perlu mengenalnya dulu. Dalam kesempatan kali ini, saya akan membahas pengertian pluralisme dengan sederhana agar mudah dipahami oleh orang-orang awam seperti saya ini. Saya telah mengumpulkan beberapa informasi mengenai pengertian Pluralisme serta beberapa hal yang terkait dengannya sebagaimana di bawah ini.

Secara etimologis, Pluralisme yang kita kenal berasal dari kata “Pluralism” (eng) yg berakar dari kata “Plures” (latin) yang berarti beberapa hal yang berkaitan dengan implikasi perbedaan. Itu artinya, pluralisme tidak berarti keseragaman. Begitu pula dalam hal pluralisme agama, tidak berarti adanya keseragaman atau penyamaan agama-agama yang ada. Setiap agama mempunyai keunikannya sendiri-sendiri.

Unsur-unsur agama antara lain yaitu adanya Rasul/utusan, wahyu/kitab suci dan ibadah ritual formal. Oleh karena itu, setiap agama tentu akan memiliki perbedaan-perbedaan dalam ketiga hal tesebut, tapi perbedaan itu bukanlah dan tidak seharusnya menjadi sumber konflik di antara mereka.

Pluralisme adalah sebuah kerangka di mana ada interaksi beberapa kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormati dan toleransi satu sama lain (Wikipedia.org). Pluralisme adalah salah satu ciri masyarakat modern, dan mungkin merupakan penunjang utama kemajuan suatu masyarakat. Mewujudkan sebuah pluralisme dapat membuahkan dampak-dampak positif, antara lain menghasilkan partisipasi yang lebih luas serta komitmen masyarakat untuk maju bersama. Hal ini bisa dilihat dari contoh perwujudan pluralisme dalam masyarakat; di badan perusahaan, badan politik dan badan kemasyarakatan lainnya.

Pluralisme agama itu sendiri adalah sebuah konsep yang mempunyai makna yang luas, berkaitan dengan penerimaan terhadap agama-agama yang berbeda, dan dipergunakan dalam cara yang berlain-lainan pula.

Pluralisme agama tidak hendak menyatakan bahwa semua agama adalah sama. Frans Magnis-Suseno berpendapat bahwa menghormati agama orang lain tidak ada hubungannya dengan ucapan bahwa semua agama adalah sama. Agama-agama jelas berbeda-beda satu sama lain. Perbedaan-perbedaan syari`at yang menyertai agama-agama menunjukkan bahwa agama tidaklah sama. Setiap agama memiliki konteks partikularitasnya sendiri sehingga tak mungkin semua agama menjadi sebangun dan sama persis. Yang dikehendaki dari gagasan pluralisme agama adalah adanya pengakuan secara aktif terhadap agama lain. Agama lain ada sebagaimana keberadaan agama yang dipeluk diri yang bersangkutan. Setiap agama punya hak hidup.

Nurcholish Madjid menegaskan, pluralisme tidak saja mengisyaratkan adanya sikap bersedia mengakui hak kelompok agama lain untuk ada, melainkan juga mengandung makna kesediaan berlaku adil kepada kelompok lain itu atas dasar perdamaian dan saling menghormati. Allah berfirman, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi dalam urusan agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. QS, al-Mumtahanah [60]: ayat 8

Pluralisme tidak berarti bahwa semua agama adalah sama. Sebab, di samping memang mengandung kesamaan tujuan untuk menyembah Allah dan berbuat baik, tak bisa dipungkiri bahwa setiap agama memiliki keunikan, kekhasan, dan syari`atnya sendiri. Sebagian mufasir berkata, al-dîn wâhid wa al-syarî`at mukhtalifat [agama itu satu, sementara syari`atnya berbeda-beda]. Detail-detail syari`at ini yang membedakan satu agama dengan agama lain. Sebab, tidaklah mustahil bahwa sesuatu yang bernilai maslahat dalam suatu tempat dan waktu tertentu, kemudian berubah menjadi mafsadat dalam suatu ruang dan waktu yang lain. Bila kemaslahatan dapat berubah karena perubahan konteks, maka dapat saja Allah menyuruh berbuat sesuatu karena diketahui mengandung maslahat, kemudian Allah melarangnya pada waktu lain karena diketahui ternyata aturan tersebut tidak lagi menyuarakan kemaslahatan.

Dalam masyarakat plural seperti Indonesia, saatnya umat Islam lebih memperhatikan ayat-ayat universal, setelah sekian lama memfokuskan diri pada ayat-ayat partikular. Ayat-ayat partikular pun kerap dibaca dengan dilepaskan dari konteks umum yang melatar-belakangi kehadirannya. Berbeda dengan ayat-ayat partikular, ayat-ayat universal mengandung pesan-pesan dan prinsip-prinsip umum yang berguna untuk membangun tata kehidupan Indonesia yang damai.

Sumber:
1. Pengertian Pluralisme dari Wikipedia
2. Islam dan Pluralitas(isme) Agama