Posts from the ‘Agama’ Category

Sholat bukanlah yang terpenting


Dalam salah satu forum tanya jawab yang sering saya ikuti, saya melihat sebuah pertanyaan yang cukup membuat jari-jari saya ini gatal hendak menjawab dengan panjang lebar… pertanyaan tersebut adalah pertanyaan seputar ibadah Sholat. Pertanyaannya seperti berikut:

Karena amalan yang pertama kali dihisab adalah solat jadi saya benar2 ingin menjaga kesempurnaan solat dengan mencari ilmu2 tentang solat.
Saya pernah membaca sebuah buku yg isinya “,,,,,,, dan solatmu berkata “dia telah menelantarkan aku selama didunia” dan amalan solatnya pun dilipatNYA bagai melipat kertas dan dilemparkan padanya…..”

Apakah benar, karena ketidak tahuan kita padahal kita sudah berusaha menjaga solat kita dengan benar,, tapi karena sedikitnya ilmu yang kita terima menjadikan solat kita masih belum sesuai dengan syariat islam,, maka semua amal solat kita akan sia-sia!?

Mohon penjelasanya, Terima Kasih

Kemudian, dengan satu tarikan nafas, saya mulai mengetik jawaban yang mengalir dalam benak saya, jawaban tersebut adalah sebagai berikut:

Di sini saya bukannya mau sok memberi penjelasan, coz belum tentu saya lebih paham drpd anda kan… sya dsni cuma mau berbagi aja, mdh2an bisa bermanfaat.

pertama, cobalah untuk merubah pola pikir dari yang formil bgt, untuk lebih terbuka dgn hal2 baru dan di luar kebiasaan kita sekalipun. yang penting harus disaring dan dinalar secara kritis dulu…

kedua, jika anda memang yakin bahwa Tuhan itu maha adil, coba tanyakan pada hati nurani anda, apakah mungkin bhwa amalan yg paling penting di mata-NYA adalah sholat saja? pasti anda juga sering menemui orang2 yg sholatnya lima waktu (mgkn lebih) dan selalu tepat waktu, serba sempurna rukun2nya, tapi cerminan akhlaknya dlm kehidupan nyata masih sering menyakiti hati orang lain, masih sering menyerobot hak orang lain, dan masih sering menimbulkan kerusakan. coba renungkan itu…

ketiga, saya meyakini bahwa Tuhan maha segalanya, maka DIA tidak membutuhkan apa2 dari makhlukNYA bukan? lalu, untuk siapakah kita sholat? tentu untuk diri kita sendiri, sholat itu adalah kebutuhan, bukan kewajiban. jika masih ada orang yg menganggap sholat itu kewajiban yg harus kita tunaikan kdp NYA, maka scr tdk lgsg mrk mnyatakan bahwa Tuhan membutuhkan sswtu dari makhlukNYA. tolong direnungkan…

Saya muslim, saya juga melaksanakan sholat, tapi saya akan terus belajar memahami berbagai rahasiaNYA yang belum terungkap, saya sangat ingin mengenalNYA, sangat ingin mencari jawab atas pertanyaan2 dlm benak saya, dan selama proses belajar saya selama ini, saya menangkap bahwa sholat bukanlah satu2nya ibadah terpenting seperti yang selama ini diutarakan oleh guru2 agama kita saat masih di sekolah… kenali DIA kawan…

apa yang saya sampaikan bukan berarti saya bilang sholat itu gak penting..
sholat itu penting… tapi saya menghimbau agar anda jgn terlalu kaku dlm memandang ibadah ritual formal semacam ini, masih buaanyaakk hal2 lain yg dapat kita pelajari untuk beribada kepadaNYA. jadilah khalifah yg baik di bumi ini..

semoga bermanfaat 🙂

mohon maaf sebelumnya jika saya mengutip tulisan dari orang lain yang terdapat pada situs lain, saya tdk ada maksud melanggar HAKI, tetapi saya hanya ingin merekap sekian banyak pendapat2 saya yang telah tercurah secara spontan dari situs tersebut, semoga suatu saat bisa terangkum menjadi sebuah buku yang bermanfaat bagi banyak orang. Untuk itu, di sini saya benar2 mengharapkan saran, kritik maupun komentar dari teman2 sekalian… Terimakasih sebelumnya…

halaman asli dapat dilihat di sini

Lihat juga tulisan lainnya:
1. Perbedaan Gender dan jenis Kelamin
2. Wanita Bukan Racun Dunia
3. Pembeedaan Gender mengarah pada subordinasi
4. Pluralisme Agama

 

02/08/2010

Pluralisme Agama (Islam)


Sebagian orang pasti pernah mendengar julukan Bapak Pluralis bagi Alm. Abdurrahman Wachid atau biasa dipanggil Gus Dur. Beliau telah mengusung semangat pluralisme sejak dulu. selian itu, tokoh pluralis di Indonesia yang lainnya antara lain Nurcholis Majid, Eka Darmaputra dan TH Sumartana. Tetapi dengan sepeninggalnya beberapa tokoh yang mengusung pluralisme ini, banyak orang malah menjadi pesimis akan cerahnya era pluralisme di Indonesia untuk ke depannya.

Di sisi lain, pluralisme tidak jarang dianggap sebagai suatu hal yanng munkar (salah). Mengapa demikian? Tudingan-tudingan miring seputar isu pluralis sering kali terdengar. terutama anggapan-anggapan yang menuduh semangat pluralis untuk menyamakan semua agama. Tentuu saja hal itu sama sekali bukanlah niat dari pluralisme.

Oleh karena itu, penting sekali bagi kita semua untuk memahami dengan baik apa sebenarnya yang dimaksud dengan pluralisme. Agar kita bisa menilai dengan obyektif, maka kita perlu mengenalnya dulu. Dalam kesempatan kali ini, saya akan membahas pengertian pluralisme dengan sederhana agar mudah dipahami oleh orang-orang awam seperti saya ini. Saya telah mengumpulkan beberapa informasi mengenai pengertian Pluralisme serta beberapa hal yang terkait dengannya sebagaimana di bawah ini.

Secara etimologis, Pluralisme yang kita kenal berasal dari kata “Pluralism” (eng) yg berakar dari kata “Plures” (latin) yang berarti beberapa hal yang berkaitan dengan implikasi perbedaan. Itu artinya, pluralisme tidak berarti keseragaman. Begitu pula dalam hal pluralisme agama, tidak berarti adanya keseragaman atau penyamaan agama-agama yang ada. Setiap agama mempunyai keunikannya sendiri-sendiri.

Unsur-unsur agama antara lain yaitu adanya Rasul/utusan, wahyu/kitab suci dan ibadah ritual formal. Oleh karena itu, setiap agama tentu akan memiliki perbedaan-perbedaan dalam ketiga hal tesebut, tapi perbedaan itu bukanlah dan tidak seharusnya menjadi sumber konflik di antara mereka.

Pluralisme adalah sebuah kerangka di mana ada interaksi beberapa kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormati dan toleransi satu sama lain (Wikipedia.org). Pluralisme adalah salah satu ciri masyarakat modern, dan mungkin merupakan penunjang utama kemajuan suatu masyarakat. Mewujudkan sebuah pluralisme dapat membuahkan dampak-dampak positif, antara lain menghasilkan partisipasi yang lebih luas serta komitmen masyarakat untuk maju bersama. Hal ini bisa dilihat dari contoh perwujudan pluralisme dalam masyarakat; di badan perusahaan, badan politik dan badan kemasyarakatan lainnya.

Pluralisme agama itu sendiri adalah sebuah konsep yang mempunyai makna yang luas, berkaitan dengan penerimaan terhadap agama-agama yang berbeda, dan dipergunakan dalam cara yang berlain-lainan pula.

Pluralisme agama tidak hendak menyatakan bahwa semua agama adalah sama. Frans Magnis-Suseno berpendapat bahwa menghormati agama orang lain tidak ada hubungannya dengan ucapan bahwa semua agama adalah sama. Agama-agama jelas berbeda-beda satu sama lain. Perbedaan-perbedaan syari`at yang menyertai agama-agama menunjukkan bahwa agama tidaklah sama. Setiap agama memiliki konteks partikularitasnya sendiri sehingga tak mungkin semua agama menjadi sebangun dan sama persis. Yang dikehendaki dari gagasan pluralisme agama adalah adanya pengakuan secara aktif terhadap agama lain. Agama lain ada sebagaimana keberadaan agama yang dipeluk diri yang bersangkutan. Setiap agama punya hak hidup.

Nurcholish Madjid menegaskan, pluralisme tidak saja mengisyaratkan adanya sikap bersedia mengakui hak kelompok agama lain untuk ada, melainkan juga mengandung makna kesediaan berlaku adil kepada kelompok lain itu atas dasar perdamaian dan saling menghormati. Allah berfirman, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi dalam urusan agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. QS, al-Mumtahanah [60]: ayat 8

Pluralisme tidak berarti bahwa semua agama adalah sama. Sebab, di samping memang mengandung kesamaan tujuan untuk menyembah Allah dan berbuat baik, tak bisa dipungkiri bahwa setiap agama memiliki keunikan, kekhasan, dan syari`atnya sendiri. Sebagian mufasir berkata, al-dîn wâhid wa al-syarî`at mukhtalifat [agama itu satu, sementara syari`atnya berbeda-beda]. Detail-detail syari`at ini yang membedakan satu agama dengan agama lain. Sebab, tidaklah mustahil bahwa sesuatu yang bernilai maslahat dalam suatu tempat dan waktu tertentu, kemudian berubah menjadi mafsadat dalam suatu ruang dan waktu yang lain. Bila kemaslahatan dapat berubah karena perubahan konteks, maka dapat saja Allah menyuruh berbuat sesuatu karena diketahui mengandung maslahat, kemudian Allah melarangnya pada waktu lain karena diketahui ternyata aturan tersebut tidak lagi menyuarakan kemaslahatan.

Dalam masyarakat plural seperti Indonesia, saatnya umat Islam lebih memperhatikan ayat-ayat universal, setelah sekian lama memfokuskan diri pada ayat-ayat partikular. Ayat-ayat partikular pun kerap dibaca dengan dilepaskan dari konteks umum yang melatar-belakangi kehadirannya. Berbeda dengan ayat-ayat partikular, ayat-ayat universal mengandung pesan-pesan dan prinsip-prinsip umum yang berguna untuk membangun tata kehidupan Indonesia yang damai.

Sumber:
1. Pengertian Pluralisme dari Wikipedia
2. Islam dan Pluralitas(isme) Agama

Agama dan Kebenaran untuk Mengenal-Nya


Ada orang yg ingin mencari agama, ia menjadi orang beragama…

Ada juga orang yg ingin mencari Tuhan, ia menjadi orang yg berTuhan…

Tapi ada orang yg ingin mencari Kebenaran, ia menjadi orang Bijaksana….

Tidak banyak manusia yang menyadari kebutuhannya untuk mencari kebenaran.
Tetapi banyak juga manusia yg sedang mencari Kebenaran itu malah mempertanyakan “apa itu kebenaran?”

Banyak manusia yang beragama.
Tapi tidak banyak yang menyadari bahwa agama adalah sarana, bukan tujuan.
Tidak banyak yang menyadari bahwa agama, yg mereka tunggangi, adalah sarana menuju-Nya. Menuju Kebenaran. Bukan tujuan akhir itu sendiri.

Banyak manusia yang kemudian mulai mempertanyakan.
Mereka bahkan menyatakan ketidakpercayaannya. Menolak-Nya.
Tidak banyak yang menyadari bahwa di sekitar mereka terpancar mata air yg tak pernah berhenti mengalir, tidakkah mereka mau meneguknya untuk menghilangkan rasa haus itu?

Banyak manusia yang telah menyadari, kebenaran… jauh mendekat kepada-Nya… menembus batas2 agama yang ada, dan melebihi apa yang tertulis di tumpukan kertas2 yg dijilid itu…

Tidakkah manusia boleh mempertanyakan? Tentu boleh.. Tanyakanlah…
Tidakkah manusia berhak merasakan keraguan? Tentu saja… Bagaimana bisa sebuah pikiran yang sehat dan rasional tidak memiliki keraguan? (Jeffrey Lang, 2008). Tidakkah agama itu memang untuk manusia yang berpikir?

Tidakkah kita pantas mencari keadilan dan kebijaksanaan.. ataukah hanya surga dan neraka saja yang menjadi iming2 penata moral?

Seseorang telah mengatakan kepada saya, bahwa kita dapat mengenali air dari rasa haus, perdamaian dari kisah perang, dan cinta dari kematian… (Emiliy Dickinson)

Lalu tidakkah sarana untuk “membaca” kebenaran itu ada dimana-mana?
Tetapi apa sebenarnya yang kita tuju.. bagaimana bila kita tidak pernah sampai? bagaimana bila kita tidak pernah mendapatkannya dan tidak pernah diharuskn mendapatkannya? Kitakah yang membutuhkannya? Untuk apa?

Kawan…
Hidup ini adalah perjalanan..
Yang kuyakin tentu akan ada ujungnya..

Sekumpulan sosok-sosok ideal yang diajarkan padaku tentang menjadi manusia yang baik.. tidak lagi bisa memuaskan keinginanku untuk tau…

Dr. Jeffrey Lang dan Prof. Ziaudin Sardar adalah dua manusia yang menurutku mempunyai pemikiran yang hebat.. Kerendah hatian yang membungkus keberanian mereka mengungkap dan mengupas.. segala hal yg patut dipertanyakan.. ajakan dan himbauan2 yang halus, tentu akan berguna bagi siapapun yg mau mengambilnya.. Kedua orang ini, dalam waktu dan tempat yg berbeda, telah menulis sebuah buku, yg masing2 telah sampai ke tanganku.. ide-ide mereka kini telah sampai ke benakku..

Dua orang yg berbeda ini, telah membantuku membuat sebuah kesimpulan-kesimpulan mengerikan, namun luar biasa… Kemudian aku menyadari, tentu aku bisa mendapatkan lebih banyak pengalaman luar biasa lagi, dari berbagai sumber2 lainnya.. maka aku terus mencari..

Sampailah pencarianku pada pertanyaan tentang..

Siapa aku?

Untuk apa aku ada di sini?

Apa itu keadilan Tuhan?

Apa itu kebijaksanaan?

Apa itu agama?

Apa itu Kebenaran?

dan berbagai macam pertanyaan-pertanyaan lainnya yg tentu saja akan kucari jawabannya.. Aku ingin mengenal-Nya.. Aku hanya memohon dua hal dari-Nya untuk saat ini.. yaitu..

“Kesempatan” dan “Kemampuan”

Feminisme bukan musuh Islam


Feminisme bukanlah musuh Islam, dan Islam bukanlah musuh perempuan. Saya rasa jika kita tidak dapat menarik benang merah di antara keduanya, maka akan semakin terbentuk dua kubu yang saling menguatkan diri. Di satu sisi, golongan Islam yang terlalu kaku, cenderung memusuhi feminisme. Mereka menyebarkan propagandanya kemana-mana, dan cenderung bersikap ekstrim, rigid terhadap perubahan. Dan di sisi yang lain, kaum feminis atau perempuan-perempuan yang menuntut hak-haknyanya dan tidak mendapat jawaban yang tepat, akan semakin jauh dari agama. Tentu saja mereka berpikir, buat apa beragama kalau mereka tidak mendapatkan kedamaian.

Hal seperti ini sebenarnya akan menimbulkan kerugian pada masing-masing kubu. Oleh karena itu, kita perlu menarik garis yang menghubungkan keduanya—bukan untuk menyamakan keduanya, tapi paling tidak untuk membuka jalan dialog, kajian kritis dan rethinking (meminjam istilah dari Prof.Ziauddin Sardar).

Kita tidak dapat menutup mata terhadap kenyataan bahwa agama telah mengambil peran dalam proses pembentukan subordinasi perempuan di masyarakat, yang berakibat pada ketidakadilan atau diskriminasi. Sebagai contoh, dalam lembaga perkawinan, perempuan seakan-akan diposisikan bukan sebagai partner bagi laki-laki, dimana misalnya istri wajib patuh kepada suami, tanpa ada ketentuan wajibnya suami juga patuh pada istrinya, keharusan istri melayani hasrat seksual suaminya—tanpa dibarengi dengan ketentuan yang mengatur keharusan suami melayani hasrat seksual istrinya juga secara seimbang, serta otoritas laki-laki untuk memukul, menceraikan secara sepihak dan berpoligami (lebih tepatnya poligini) tanpa benar-benar memperhatikan hak-hak istri dan anak-anak.

Selain dalam lembaga perkawinan, penempatan perempuan dalam posisi sub-ordinat juga dirasakan pada sektor-sektor publik. Banyak ketentuan-ketentuan agama yang secara praktis kesannya malah mematikan peran perempuan di sektor publik, terutama setelah mereka menikah. Beberapa contoh yang dapat saya uraikan adalah sebagai berikut ini:

1.Anjuran agar perempuan tidak keluar rumah dan tetap berada di dalam rumah—bahkan dalam kamar dianggap lebih baik—kecuali ada keperluan tertentu atau menghadiri masjid.

2.Anjuran bagi perempuan untuk mengisi waktunya hanya untuk hal-hal berguna, tetapi hal-hal yang dimaksud berguna adalah menghadiri majelis-majelis pengajian dan semacamnya—bukan berarti majelis semacam ini tidak berguna, tapi dengan begitu berarti majelis/organisasi politik dan sosial berada di luar jalur anjuran ini.

3.Anjuran bahwa pekerjaan memintal dan berhias diri untuk suami adalah pekerjaan yang lebih baik bagi perempuan daripada keluar rumah dan berbaur dengan laki-laki yang bukan muhrimnya—ironisnya, tidak ada pembahasan terhadap para suami yang keluar rumah mencari nafkah dan berbaur dengan permpuan-perempuan yang bukan muhrimnya.

4.Bahkan, anjuran untuk mengikhlaskan suaminya yang ingin berpoligami. Hal ini diimbangi dengan ‘iming-iming’ pahala bagi istri yang rela dipoligami suaminya. Lagi-lagi saya merasakan sesuatu yang ironis, dimana bukannya perempuan dimotivasi untuk membela hak-haknya, malah dianjurkan untuk pasrah terhadap ketidakadilan. Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lainnya, yang tidak mungkin saya sebutkan semuanya di sini.

Anjuran-anjuran tersebut seakan menempatkan perempuan pada posisi ‘di bawah’ laki-laki yang tidak mempunyai peran dan andil dalam kehidupan luar di sektor publik. Apalagi, toleransi yang diberikan hanya berkisar seputar lingkup agamis saja. Saya—dan beberapa orang lainnya—tentu mengharapkan anjuran bagi perempuan untuk mengembangkan dirinya, bukan malah untuk mematahkan sayapnya dan menjadi burung indah di dalam sangkar.

Tetapi perlu juga digarisbawahi bahwa hal itu tidak berarti membenarkan tindakan perempuan-perempuan karir yang meninggalkan tanggungjawabnya kepada rumahtangganya. Sebagaimana juga saya tidak pernah membenarkan karir para laki-laki yang membuatnya lepas tanggung jawab terhadap rumahtangganya. Misalnya, laki-laki yang menganggap bahwa mengurus anak adalah tugas istri saja. Padahal ‘anak’ adalah milik suami-dan istri, jadi tanggung jawab mengurus dan mendidik anak seharusnya dilakukan secara seimbang dan proporsional di antara suami dan istri.

Bagi orang yang memang bisa membagi waktunya, mengatur aktifitasnya agar tetap bertanggung jawab pada tugas utama, lalu alasan apalagi yang mematahkan kesempatan perempuan untuk berperan di sektor publik juga? Bukankah jika perempuan diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat itu adalah suatu hal yang baik demi membawa kemajuan umat? Kemaslahatan bersama?

Berikut ini adalah kutipan dari tulisan pada sebuah poster di mading kampus saya dulu, yang saya tidak dapat menemukan nama penulisnya. Tulisan itu merupakan kalimat pendek yang cukup menggugah pemikiran saya. Mungkin tulisan berikut ini juga dapat menyadarkan kita semua bahwa kesetaraan yang selayaknya diperjuangkan tidak dapat hanya diukur dari satu atau dua aspek saja.

…apakah pengakuan terhadap perempuan semata-mata diukur dari semakin luasnya kesempatan mereka dalam berpolitik tanpa memikirkan lebih jauh persoalan-persoalan lain seputar isu perempuan, seperti ortodoksi agama, bekapan kultur dan hegemoni kaum laki-laki yang nyata-nyata masih terlihat dominan sampai saat ini.

Porsi yang diberikan bagi perempuan dalam kursi-kursi parlemen misalnya, memang merupakan suatu kemajuan yang baik. Tetapi bukan berarti itu melambangkan kebebasan perempuan secara umum. Kita masih harus memperhatikan hal-hal lainnya yang ada di sekitar kita, terutama yang menyangkut praktik-praktik keagamaan yang masih kental dengan unsur budaya patriarkal, termasuk di negeri kita ini.

Upaya pengkajian ulang merupakan sebuah tawaran yang baik sebagai solusi atas permasalahan ini. Pengkajian ulang dan semangat ijtihad (menurut Prof.Ziauddin Sardar) merupakan upaya yang seharusnya dilakukan umat Islam agar dapat tetap mempraktikkan ajaran-ajaran agamanya sesuai dengan perubahan zaman. Tetapi, person-person yang semestinya melakukan itu, bukan hanya terbatas pada ulama-ulama ‘jebolan’ pesantren. Tetapi semua orang yang mempunyai potensi yang seimbang dengan kebutuhan pengkajian tersebut.

Sebagai contoh, beberapa waktu lalu sempat terdengar isu rencana fatwa haram terhadap ojek dan rebonding bagi perempuan. Tetapi apakah perempuan—yang dalam hal ini sebagai pihak yang berkepentingan—juga dilibatkan dalam proses menganalisa persoalan bahkan sampai pengambilan keputusan untuk fatwanya? Apakah staf ahli pernah dilibatkan dalam proses tersebut? Saya rasa tidak.

Marilah kita semua merenungkan hal ini bersasma-sama. Saya menyadari tulisan ini masih banyak terdapat kekurangannya. Jika ada pihak yang mempunyai pengetahuan lebih banyak, harap berbagi di sini. Jika ada pihak yang merasa tersinggung dengan tulisan saya ini, saya akan membuka tangan dengan senang hati untuk menerima saran dan kritik yang membangun. Silahkan mengeluarkan pendapat, sanggahan atau argumen yang sesuai dengan tetap memperhatikan nilai-nilai etis dalam berdiskusi. Terima kasih.

 

25/03/2010

Hindari Kebingungan Sains Umat Beragama


Pada abad 13-16 M, bumi dianggap sebagai pusat alam semesta. Matahari, bulan dan bintang-bintang yang mengelilinginya. Pemahaman semacam ini merujuk dari—salah satunya—kitab suci umat Nasrani saat itu. Kemudian pada abad 16 M, Copernicus menemukan fakta bukan matahari yang mengelilingi bumi, melinkan bumi yang berputar mengelilingi matahari. Saat ia mulai mengumumkan teori barunya itu, ia mendapat kecaman keras dari pihak gereja, karena teorinya itu dianggap bertentangan dengan dogma gereja sebelumnya. Sampai akhirnya ia dihukum gantung dan dianggap sebagai seorang bid’ah.

Hal ini merupakan contoh bentuk kebingungan masyarakat karena menghadapi kenyataan bahwa doktrin agama dan ilmu pengetahuan alam ternyata bertentangan. Maka pada saat itu, pihak yang tetap mengutamakan agama, lebih memilih untuk berpegang teguh pada doktrin gereja dan menganggap Copernicus sebagai seorang bid’ah, daripada melakukan kajian ulang terhadap substansi agama yang pada saat itu mereka anut.

Tetapi ternyata pada abad berikutnya, Galileo Galilei dengan teleskop buatannya juga mampu membuktikan bahwa bumi mengelilingi matahari. Gereja tidak dapat berbuat apa-apa lagi, maka doktrin-doktrin yang selama ini dipegang kuat menjadi tidak akurat. Akhirnya, banyak umat yang mengalami kebingungan dan krisis iman, karena ternyata apa yang ada pada ajaran agamanya tidak sesuai dengan kenyataan alam yang sebenarnya, maka masih dapatkah agama dianggap sebagai kebenaran, jika umatnya—terutama para tokoh agama—tidak melakukan kajian ulang?

Setelah teori tentang bumi sebagai pusat semesta ini berganti dengan teori baru bahwa ternyata matahari sebagai pusat semesta, mulai bermunculan pengetahuan-pengetahuan baru antara lain penemuan planet-planet lain yang mengelilingi matahari dan satelit-satelitnya serta isi tata surya yang kemudian menemukan fakta bahwa matahari pun tidaklah diam, melainkan berputar mengelilingi pusat galaksi, bersama bintang-bintang lainnya. Disusul dengan penemuan galaksi-galaksi yang lainnya, seiring kemajuan teknologi peralatan astronomi.

Contoh di atas menunjukkan sikap ketertutupan umat terhadap ilmu pengetahuan (sains), yang pada akhirnya doktrin agama yang kaku terbantahkan oleh ilmu pangetahuan. Kita harus mengambil hikmah bahwa kita seharusnya tidak menutup diri dari perkembangan ilmu pengetahuan, jadi jika terjadi hal semacam itu, kita dapat secara terbuka melakukan kajian-kajian ulang terhadap substansi agama sehingga kita dapat menyesuaikan kembali antara ilmu pengetahuan dan ajaran agama.

Contoh yang lain adalah mengenai awal mula alam semesta. Albert Einstein sebagai ilmuwan fisika kenamaan, pada awalnya berteori bahwa alam semesta yang luas ini bersifat statis. Ia menyatakan bahwa alam semesta kita ini tidaklah berawal dan tidak pula berakhir. Teori ini dikenal dengan teori steady (tetap). Sedangkan bagi para agamawan, mereka meyakini bahwa alam semesta ini ‘diciptakan’, bukan ‘ada dengan sendirinya’. Golongan yang mengakui adanya Tuhan, tentu berkeras bahwa alam semesta ini diciptakan. Tetapi mereka tidak dapat membuktikan secara ilmiah, dan mereka pun saat itu tidak dapat membantah penemuan yang dilakukan para pakar ilmiah terhadap alam. Sehingga lagi-lagi terjadi kebingungan pada umat atas ketidaksesuaian dogma agama dengan ilmu pengetahuan dan fakta alam. Sedangkan pada golongan yang mengutamakan rasio, hal semacam ini tentunya akan semakin menguatkan penolakan mereka terhadap eksistensi ‘pencipta’.

Tetapi kemudian pada tahun 1929, Edwin Hubble berhasil menciptakan sebuah teleskop astronomi—yang dinamai teleskop Hubble. Setelah beberapa lama melakukan pengamatan, Hubble menemukan suatu fakta besar yang akan mematahkan teori Einstein tentang awal mula alam semesta. Hal ini bermula saat ia mengamati bahwa bintang-bintang yang ada di alam semesta ini memancarkan spektrum cahaya merah. Dalam ilmu fisika, jika suatu benda yang diamati bergerak menjauh, ia akan memancarkan spektrum cahaya berwarna merah. Sedangkan jika suatu benda yang diamati itu bergerak mendekat, ia akan memancarkan spectrum cahaya biru. Dengan begitu Hubble menyadari bahwa ternyata bintang-bintang dan segala benda langit lainnya saling bergerak menjauhi satu sama lain, ke segala arah.

Berdasarkan pengamatan tersebut, kemudian Hubble menyimpulkan suatu fakta besar. Jika benda-benda langit kini semakin menjauh dan terus menjauh satu sama lain, maka dengan melakukan perhitungan mundur, kita akan mendapati bahwa alam semesta ini dulunya berawal dari satu titik nol—yang berarti bahwa alam semesta ini ada awalnya, dengan begitu tentu ada akhirnya pula. Teori ini kemudian dikenal dengan teori Big Bang (ledakan besar). Suatu ledakan dahsyat dari suatu titik materi yang memiliki massa hampir nol, dengan kekuatan yang amat besar kemudian menjadi alam semesta yang semakin mengembang.

Einstein pun akhirnya menyepakati teori dari Hubble ini. Tetapi para kaum materialis atau atheis saat itu—yang sama sekali tidak dapat menerima fakta bahwa alam semesta ini ada penciptanya—tetap saja melakukan pertentangan terhadap teori tersebut. Sebaliknya, kaum agamawan merasa akhirnya kebenaran terungkap dengan sains. Hal ini membuktikan bahwa sains sebenarnya tidak terpisahkaan dari kebenaran (agama) dan sebaliknya. Karena seiring berjalannya waktu, semakin juah manusia menggunakan akalnya, kebenaran dapat terungkap dengan sendirinya. Kebenaran itu dapat dibuktikan salah satunya yaitu dengan ilmu pengetahuan.

Contoh di atas saya maksudkan agar umat islam kini sebaiknya tidak memisahkan antara agama dan ilmu pengetahuan, agar tidak mengalami dan ‘kebingungan’ dan ‘keterkejutan’ sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas. Sesungguhnya jika kita mempergunakan akal dengan sebaik-baiknya, akal akan membenarkan wahyu. Dan disitulah iman akan tumbuh di dalam hati. Maka, gunakanlah akal dalam kehidupan beragama. Dan beragamalah dengan menggunakan akal sehat.

Karena ilmu merupakan sarana mencapai keimanan, maka setiap muslim diwajibkan untuk mencari ilmu. Sedangkan ilmu pengetahuan alam atau sains dalam ajaran islam juga memiliki posisi yang penting, antara lain sebagaimana firman Allah SWT:

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali-Imran : 191)

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidakkah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Fushilaat : 53)

Dewasa ini mulai bermunculan gerakan-gerakan pendidikan dalam umat islam. Hal itu dikarenakan mulai munculnya kesadaran akan pentingnya ilmu bagi kehidupan beragama. Tetapi jika dibandingkan dengan Negara-negara maju, kita masih ketinggalan jauh. Jadi di satu sisi, perubahan yang terjadi merupakan suatu awal yang baik dan harus senantiasa kita kembangkan, tetapi di samping itu, kita juga perlu bekerja keras untuk mengejar ketinggalan kita. Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak kalangan yang menutup dirinya dari perkembangan sains dan teknologi dalam bentuk-bentuk tertentu yang dianggap menyalahi doktrin agama. Untuk itu kita perlu membangun kesadaran-kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan.

Jika umat islam tidak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tentunya saat teori-teori baru bermunculan, yang ada hanya rasa kaget dan kebingungan untuk bersikap, sebagaimana contoh yang telah saya uraikan di atas mengenai ilmuwan Barat dan penelitiannya tentang alam semesta.

Arti Bacaan Shalat lengkap


Bacaan Shalat Lengkap dan Artinya

Takbiratul ihram

Allahu Akbar

Allah Maha Besar

Do’a Iftitah

Wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal ardha

(Kuhadapkan wajahku, ke hadapan Dzat yang Mencipta langit dan bumi)

haniifam muslimaw wamaa ana minal musyrikin

(Kumenghadap dengan hati cenderung kepada-Nya, dan aku bukan tergolong orang2 yang menyekutukan-Nya)

Inna shalaati, wa nusuki, wamahyaaya wa mamaati, lillaahii rabbil ‘aalamiin

(Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, hanya bagi Allah Tuhan semesta alam)

Laa syariikalahuu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin

(Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah aku diperintahkan, dan aku tergolong orang-orang yang berserah diri—muslimin)

Al-fatihah

Bismillaahirrahmaanirrahiim

(Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang)

Alhamdulillaahi rabbil Aalamiin

(Segala puj bagi Allah, tuhan semesta alam)

Arrahmaanirrahiim

(Yang maha pengasih lagi maha penyayang)

Maaliki yaumid diin

(Yang merajai hari pembalasan)

Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin

(Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)

Ihdinash shiraathal mustaqiim

(Tunjukilah kami jalan yang lurus)

Shiraathal ladziina an’amta alaihim

(Yaitu jalan orang-orang—yang telah engaku beri nikmat kepada mereka)

Ghairil maghdhuubi alaihim wa ladh dhaalliin

(Bukan jalan orang-orang yang dilaknat, bukan pula yang tersesat)

Ruku’ / Sujud

Subhana rabbiyal ‘azhim wa bihamdihi 3x (untuk bacaan ruku’) dan

Maha Suci Tuhan Yang Maha Agung, dan memujilah aku kepadaNya

Subhana rabbiyal a’la wabihamdihwabihamdihi 3x (untuk bacaan sujud)

Maha Suci Tuhan Yang Maha Tinggi, dan memujilah aku kepadaNya

Atau:

Subhanakallah humma rabbana wabihamdika Allahummaghfirli

Maha Suci engkau ya Allah, ya Tuhan kami, dan kumemuji kepadaMu, ya Allah ampunilah aku

I’tidal

Sami’allahu liman hamidah

Semoga Allah mendengar orang yang memujinya

Rabbana lakal hamdu, hamdan katsiran, thayyiban mubarakan fihi

Ya Tuhan kami, bagimu segala puji, pujian yang banyak dan baik…..

Duduk di antara 2 Sujud

Allahumaghfirli, warhamni, wajburni, wa afini, wahdini, warzuqni

Ya Allah, ampunilah aku, sayangilah aku, cukupkanlah segala kekuranganku, berilah aku kesehatan, tunjukilah aku, berilah aku rezeki

Tahiyyatul Awal / Akhir

Attahiyyatulillahi washalawatu waththayyibah

Segala kehormatan bagi Allah, serta segala kebahagiaan dan kebaikan

As-salamu’alaika ayyuhan nabiyyu, warahmatullahi wabarakatu

Semoga keselamatan atasmu ya Nabi (Muhammad SAW), serta rahmatNya dan barokahNya

As-salamu’alaina wa ‘ala ibadillahish shalihin

Semoga keselamatan atas kami, dan atas hamba-hamba yang shaleh*

Asyhadu alla ilaha illa Allah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya

Allahumash shalli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad atau wa ‘ala alihi

Ya Allah, limpahkanlah kebahagiaan (shalawat) atas Nabi Muhammad, dan atas keluarganya

Kama shallaita ‘ala Ibrahim, wa ‘ala ali Ibrahim

Sebagaimana Engkau limpahkan kepada Nabi Ibrahim, dan kepada keluarganya

Wabarik ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad

Dan berkatilah Nabi Muhammad, serta keluarganya

Kama barakta ‘ala ibrahim, wa ‘ala ali ibrahim

Sebagaimana Engkau memberkati Nabi Ibrahim, serta keluarganya

Innaka hamidum majid

Sesungguhnya Engkau Maha Suci lagi Maha Mulia

Salam

As-salamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Semoga keselamatan atasmu, serta rahmat Allah dan barokahNya

*konon bacaan tersebut merupakan dialog Nabi Muhammad SAW dengan Allah SWT pada saat perostiwa Isra’ Mi’raj

04/06/2009

Mengembalikan Sosok Pejuang Muslimah


Dalam sejarah islam, para pejuang lelaki banyak sekali kita dengar namanya, tetapi bagaimana dengan para pejuang wanita? Walaupun jarang diperdengarkan oleh opini umum, tapi sesungguhnya keteladanan para pejuang wanita muslim jumlahnya tidaklah kalah dari kaum lelaki. Wanita-wanita muslim di ambang permulaan terbitnya islam, keteguhan mereka memegang agamanya, pengorbanan dan perjuangan mereka mempertahankan akidahnya, tak jauh beda jumlahnya dibandingkan perwira-perwira lelaki. Wanita muslim pun juga berperang dengan harta, jiwa dan lisan mereka. Wanita muslim pun juga sama-sama punya peran dalam peperangan dan mengangkat pedang. Mereka juga mengamalkan harta-harta yang mereka punya untuk kepentingan jihad, dan mereka juga menjadi guru-guru pendidik yang utama dengan lisan dan sikap teguh mereka. Mereka juga merupakan manusia-manusia berani menderita, susah gundah dan sakit karena siksaan baik fisik maupun mental dengan hinaan akibat kezhaliman di masanya.

Demikianlah mentalitas perjuangan para wanita muslim di masa awal islam, masa jaya yang teramat mengagumkan. Dibandingkan dengan masa kita sekarang ini, bagaimanakah mentalitas para muslimah? Kezhaliman ada dimana-mana bahkan tidak lagi mengancam jiwa-jiwa umat islam tetapi merusak akidah dari dalam. Dan sadarkah kita semua bahwa musuh-musuh islam yang mencoba menghancurkan masa kejayaan awal islam adalah dengan cara merusak para wanitanya terlebih dahulu, kenapa?

Jika kita lihat dari sisi jumlah, kita tahu bahwa jumlah kaum wanita hampir lebih dari separuh jumlah masyarakat. Jika kita mengkalkulasikannya, berarti wanita idealnya akan melahirkan separuh masyarakat baru. Dengan demikian kita tahu bahwa peranan wanita amatlah besar dan menentukan dalam menciptakan watak dan perkembangan suatu bangsa. Karena wanita merupakan maha guru pertama bagi setiap anak-anak. Dan merupakan pilar kokoh pertama yang menyokong kepribadian seorang anak, yang kemudian akan menjadi para penerus agama, para penerus bangsa. Bagaimana watak dan kepribadian suatu bangsa/umat, tergantung pada para ibu. Tetapi wanita yang bagaimanakah yang dapat melahirkan anak-anak bangsa dengan pribadi kuat, berani, cerdas, dan islami? Tentunya bukan wanita-wanita lemah dan hanya memikirkan persoalan arisan, perhiasan, pakaian trend dan perawatan salon agar tampil cantik, spa dan fitness agar tampil seksi. Itukah cara memperindah dan mempercantik diri? Dalam ajaran islam, bukanlah seperti itu. Walaupun wanita diperbolehkan menghias diri tapi dalam batasan ‘hanya untuk suami, atau hanya boleh memperlihatkannya kepada orang-orang tertentu yang merupakan muhrimnya’ (QS. An-Nur: 31). Dalam islam wanita juga diperbolehkan memakai perhiasan berupa emas dan perak—yang tidak diperbolehkan bagi laki-laki, tetapi tentu ini juga ada batasannya, sebab Allah tidak menyukai segala sesuatu yang berlebih-lebihan. Dalam islam wanita juga diizinkan untuk mengenakan pakaian apapun yang ia sukai, tetapi ini tentu juga ada batasannya. Pakaian yang ia sukai ini bukan bermaksud: wanita boleh menentukan apa ia ingin memakai pakaian ketat atau mini dan tampil di depan umum dengan pakaian ‘primitif’ seperti itu.

Wanita muslim memperindah diri dengan akhlak yang baik, kepribadian yang kuat mempertahankan akidahnya sehingga orang lain tidak mencoba mengganggu imannya karena mereka tau hal itu pasti akan sia-sia.

Wanita muslim tau bahwa dirinya sangat berharga maka ia tidak dengan mudahnya mempertontonkan auratnya kepada siapapun.

Wanita muslim merasa bangga dengan hijabnya, merasa cantik dengan jilbabnya, merasa anggun dengan senyumnya. Merasa cerdas dengan diamnya. Merasa bermanfaat dengan ilmunya.

Tidak ada yang dapat menggantikan Allah dalam hatinya, sehingga ia selalu ikhlas beribadah kepadaNya. Mengabdi kepada suaminya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, dengan bertawakal kepada Allah SWT. Menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemudharatan, dengan lisan dan sikapnya.

Para musuh islam menyadari betapa sempurnanya sistem keluarga ideal yang dianjurkan dalam islam, dan mereka juga menyadari itulah yang menyebabkan umat islam generasi awal ini menjadi sosok manusia yang kuat hingga membuat para cendekiawan barat di masa yang berlainanpun geleng kepala melihat sensasi mengagumkan dari umat islam. Tentu sulit bagi sebagian orang untuk menerima dengan akal sehatnya tanpa mempertanyakan bagaimana bisa terjadi reformasi besar-besaran dalam kurun waktu yang relatif singkat pada sebuah bangsa yang tadinya hidup tenggelam dalam arus jahiliyah dan paganisme yang gelap dan kelam.

Alangkah baiknya jika kita, baik muslim maupun muslimah, yang kini hidup di zaman dimana etika sudah menjadi carut-marut, dimana nilai kemanusiaan yang tinggi mulai dilecehkan, tata krama sudah tidak diindahkan dan mata hati seakan sudah banyak yang memburam ini, mulai menaruh perhatian lebih dalam hal tersebut. Semakin jauh umat islam dari agamanya sendiri, semakin mudah para musuh menghancurkannya. Sadarlah bahwa di luar sana, manusia-manusia sedang berperang. Masihkah kita gemar dengan sinetron dan infotainment? Sadarilah bahwa banyak dari kita yang sedang terhipnotis dari suguhan mereka-mereka yang memang sengaja mengalihkan peran kita masing-masing.

Setiap dari kita, muslim wa muslimah, sudah seharusnya melakukan pengkajian agama dengan ketekunan luar biasa, semangat tinggi dan perjuangan keras. Ketahuilah peranan masing-masing untuk melahirkan kembali struktur umat yang bergaris pada ajaran islam. Sesuai topik yang sedang dibahas, pentingnya peran wanita dalam pembentukan kepribadian manusia-manusia baru adalah jika ia dapat berperan maksimal dalam rumah tangganya, tentu hal ini juga harus diimbangi dengan peranan maksimal dari para lelaki dalam rumah tangganya, yaitu sebagai suami, ayah dan imam yang baik.

Rumah, adalah bagaikan markas para prajurit. Akan kita jadikan seperti apakah rumah kita?

Wanita yang bagaimana yang dapat menjadikan manusia-manusia baru nan islami yang berakhlak mulia, berkepribadian luhur dan kuat, serta kecerdasan yang mengagumkan?

Hendaknya kita tau bahwa seorang wanita adalah bagaikan senjata bermata dua. Karena jika ia baik dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya yang telah digariskan sebagaimana seharusnya, maka sudah dapat dibayangkan generasi yang akan dilahirkannya akan seindah apa. Tetapi jika ia tidak baik dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai wanita, isteri, ibu, saudara dan pendidik serta pendakwah utama, tentu juga bisa kita bayangkan kualitas generasi yang ditawarkannya kemudian. Seorang guru sekolah dasar saja harus menempuh serentetan pendidikan dulu baru bisa menjadi seorang pengajar yang tidak diragukan ilmunya, bagaimana para wanita semestinya mempersiapkan diri?

Atas dasar inilah kita menemukan bahwa islam sangat serius dan intensif dalam menaruh perhatian dan memberdayakan para wanita. Menjaganya dengan tarbiyah (pendidikan) ri’ayah (pengawasan), memerintahkan untuk memberikan hak-haknya sesuai fitrahnya.

Dengan perhatian besar inilah islam melahirkan sosok wanita-wanita muslimah yang tangguh yang berperan di balik para perwira tinggi yang memenuhi bumi dengan bunga-bunga hikmah. Wahai ukhti, di masa silam ada pepatah: sesungguhnya di balik tokoh yang agung, pasti terdapat isteri yang agung.

Ada juga untaian syair yang berpesan:

Seorang ibu itu adalah kampus, jika engkau persiapkan

Berarti telah engkau persiapkan bangsa yang berkualitas

Seorang ibu adalah taman

Maka jika engkau merawatnya dengan siraman air

Tentu akan tumbuh berdaun rindang

Seorang ibu adalah…sang maha guru pertama

Pengaruh-pengaruh mereka memenuhi seluruh cakrawala

Para musuh islam menyadari betul peranan strategis seorang wanita muslimah dalam membangun syarikat islami sejak mereka berbai’at atau ikrar kepada Rasulullah SAW hingga hari ini. Sebagaimana mereka akan susah jika para ummi muslimah memperkenalkan dengan baik kepada anak-anaknya para tokoh dan sosok pejuang ulama fi sabilillah seperti Umar bin Khattab, Khalid bin Walid, Salahuddin Al-Ayyubi, Aisya binti Ash-Shiddiq, Ummu Imarah, dan tentu saja yang terpenting adalah sosok suri tauladan terbaik sepanjang zaman, Rasulullah SAW.

Musuh islam akhirnya menemukan bahwa metode paling ampuh untuk mengahancurkan islam adalah mematikan akidah wanita muslimah lantas mereka giring secara perlahan tapi pasti agar para muslimah, isteri dan ibu ini keluar dari peran yang sesungguhnya. Pengalihan ini mereka lakukan dengan pengenalan paham-paham produk baru seperti kebebasan, persamaan, feminisme, demokratis, sekulerisme, emansipasi, globalisasi, modernisme, westernisasi, dan seterusnya yang sesungguhnya adalah slogan-slogan yang menyimpangkan akidah dan fiqh islamiyyah, hanya saja dibungkus dalam kemasan yang menarik.

Perlu diketahui bahwa produk-produk di atas (demokrasi, sekulerisme, feminisme, globalisasi) tidak hanya merusak sistem keluarga dalam islam, tetapi juga merusak sistem budaya, pendidikan dan pemerintahan. Dan sekarang ini kita sedang merasakan efek samping dari produk-produk tersebut.

Mari sejenak kita simak ucapan gembong kolonialis yang terang-terangan mengatakan, “kekuasaan dan wanita lebih efisien dalam merusak umat Muhammad daripada seribu meriam. Maka tenggelamkanlah mereka ke dalam kesenangan materi dan syahwat.”

Maka dari itu, marilah kita semua menyadari pentingnya peranan perempuan dengan bersandar pada ajaran islam. Sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah apa yang disampaikan melakui Sunnah Rasul. Mari kita bersama-sama mengembalikan sosok pejuang-pejuang muslimah di zaman kejayaan islam.

18/04/2009