Posts from the ‘Gender dan Perempuan’ Category

Wanita BUKAN Racun Dunia


Wanita BUKAN Racun Dunia

Wanita Racun Dunia….

Mungkin sudah banyak dari kita yang sering mendengar ungkapan semacam itu. Tapi sebanyak apakah—dari yang banyak itu—yang bisa bertanya dengan kritis, siapa itu dunia?

Tanpa banyak yang menyadari, ungkapan “Wanita…racun dunia” ini, secara tidak langsung melegitimasi kepemilikian laki-laki atas dunia. Iya atau tidak? Lets check this out…

Jika wanita dianggap sebagai racunnya dunia. Lalu siapa dunia itu? Jika wanita dianggap sebagai racun bagi laki-laki, lalu apakah berarti dunia=laki-laki? Ataukah wanita itu racun bagi dunia, yang berarti wanita tidak termasuk di dalamnya? Dua premis tersebut tentu saja sama-sama tidak menguntungkan bagi wanita…atau perempuan… (saya sengaja tetap menggunakan istilah “wanita” dalam tulisan ini—walau sebenarnya saya tidak lagi suka dengan penggunaan istilah itu, tetapi—hal ini untuk menegaskan makna wanita sebagai “obyek”. Dengan begitu, saya mengimbanginya dengan menggunakan istilah “laki-laki” dalam tulisan ini, bukannya “pria”, hal itu dimaksudkan untuk menegaskan peranan mereka sebagai “pelaku” atau “subyek” dalam hal ini)

Dunia…dianggap sebagai milik laki-laki…
Ataupun wanita… tidak dianggap sebagai bagian dari dunia juga… sebab, mana mungkin wanita menjadi racun bagi sesama wanita bukan?

Ungkapan wanita sebagai racun dunia, kini jika dilihat dengan mata yang membelalak, tidak lagi menjadi ungkapan2 romantis yang membuai. Melainkan sebagai ungkapan yang mengandung kesan penyingkiran secara halus terhadap wanita, dari dunia, yang mana seharusnya, wanita menjadi anggota penghuninya juga, sebagaimana laki-laki… Hal ini tentu saja tidak mudah disadari, tapi jika terus dibiarkan, tentu bisa memperkuat legitimasi terhadap stereotip2 tertentu yang dapat menimbulkan ketimpangan antara perempuan dan laki-laki sebagai sesama penghuni dunia ini…

Sudah jelas bahwa ungkapan tersebut muncul dari perspektif laki-laki. Tetapi tidak seharusnya mereka membakukan dirinya sebagai dunia. Mengapa tidak mereka ucapkan “wanita adalah racun bagi laki-laki” atau ”pria” mengapa harus racun bagi dunia?

Coba kita kritisi…

Mengenai makna racun itu sendiri, tidak terlallu jelas racun seperti apa yang ditekankan dalam ungkapan wanita sebagai racun dunia ini. Bisa saja dalam hal seksualitas, ataupun kehidupan sosial. Tapi yang jelas, dalam istilah kita selama ini, racun bukanlah suatu hal yang baik dan bermanfaat. Melainkan racun adalah suatu hal yang merusak dan membawa akibat buruk.

Tanpa disadari banyak orang, kalimat “wanita racun dunia” ini akan membentuk mind-set kita sedemikian rupa, yang—menurut saya—tentu saja dapat memperkuat dominasi laki-laki di ‘dunia’ ini. Dan perempuan, yang sering disebut wanita ini, semakin berada dalam posisi subordinat yang dapat dieksploitasi dari berbagai aspek.

Mari kita renungkan persoalan ini. Pembahasan kritis selanjutnya akan saya posting dlam tulisan yang berbeda.

Iklan

Kartini dan Ibnu Rusyd


Saat sedang memnjelajah mencari tulisan2 bagus, tiba2 saya sampai di sebuah situs yang berisi tulisan berikut ini. Berikut ini sama sekali bukan tulisan saya, jadi di bagian paling bawah, saya mencantumkan sumber aslinya.. Sengaja saya copas di blog saya, supaya bisa berbagi dengan lebih banyak orang.. Semoga temen2 semua bisa mengambil makna tersirat dalam cuplikan berikut. Di bawah ini adalah cuplikan dialog imajiner (artinya dialog ini tidak benar2 terjadi tentunya) antara RA. Kartini dan seorang agamawan ternama Ibnu Rusyd. Mereka memperbincangkan mengenai tema perempuan dan kesetaraan dalam perspektif agama. Kartini di sini mengeluarkan beberapa keluhan dan pertanyaan2nya untuk menuntut jawab dari orang yang dianggapnya mewakili perspektif yang ia pertanyakan ini. Tetapi is dari cuplikan dialog berikut ternyata memberi jawaban yang gamang tetapi cukup bermakna baginya… dan mungkin bagi kita semua.. Selamat membaca..

Salah satu keluhan Kartini dalam Habis Gelap Terbitlah Terang adalah soal pandangan agama dan budaya yang tidak berpihak kepada perempuan. Pertama, Kartini mengeluh betapa ia tak dapat memahami Alquran karena pada masanya, kitab suci itu dianggap terlalu suci untuk diterjemah ke bahasa Jawa. Selain itu, dalam sebuah dialog dengan seorang kiai, Kartini jelas mengajukan pertanyaan kritis. Misalnya tentang apa hukumnya bagi kiai yang enggan membagi ilmunya kepada perempuan yang dahaga pengetahuan seperti dirinya.

Saya membayangkan Kartini berjumpa dengan ahli Islam sekaligus filosof par excellent asal Andalusia, Ibnu Rusyd. Dalam perjumpaan itu, terjadilah dialog kritis seputar persoalan perempuan.

Kartini: Pak Walid (nama akrab Ibnu Rusyd), Anda dikenal sebagai ahli fikih dan filosof Islam yang andal. Adakah tempat dalam pikiranmu untuk perempuan?”

Ibnu Rusyd: Tentu saja! Pernahkah kau menonton film tentangku, Le Destine , yang dibuat sutradara Mesir, Youssef Shahin?

Kartini: Aku pernah menontonnya dari DVD yang dihadiahkan seorang aktivis perempuan. Kalau kuperhatikan, hubunganmu kurang berjarak dan cukup akrab dengan perempuan. Menurut kabar yang sampai padaku, saat film itu diputar perdana di Mesir, banyak agamawan protes karena itu dianggap merendahkan martabatmu sebagai ahli agama Islam. ”Sosok ulama sepertimu tidak akan bersikap demikian terhadap perempuan,” pikir mereka.”

Ibnu Rusyd: Ya, Shahin kadang agak berlebihan, tapi itu tidak terlalu meleset dari profil pribadiku. Begitulah aku kurang-lebih. Jangan lupa, aku bukan hanya seorang ulama, tapi juga tabib, filosof, sedikit-sedikit mengerti musik. Kau pasti tahu, Ibnu Hazm, ahli fikih mazhab zahiri yang sekampung denganku, juga sangat akrab dan tidak punya persoalan dengan perempuan.

Kartini: Apa makna ungkapanmu yang pertama?

Ibnu Rusyd: seorang ulama terkadang berpikir dari sesuatu yang partikular dan parsial tentang kehidupan. Sementara seorang filosof, ia beranjak dari visi besarnya tentang dunia dan alamraya. Karena itu, dalam al-Dlarûri fi al-Siyâsah (Pokok-Pokok Politik), ulasan dan komentarku terhadap The Politic Plato, aku menyisipkan beberapa pandanganku tentang ”seni mengatur masyarakat” yang merupakan objek ilmu politik. Nah, bab tentang perempuan aku sisipkan di situ.

Kartini: Tega nian Engkau tak membahas persoalan sepenting ini secara tersendiri, tapi justru menyisipkannya dalam bab tentang politik!

Ibnu Rusyd: Kalau kau sudah mendengarkan tuntas uraianku, Engkau tak perlu berkecil hati! Perlu kau ketahui, bukanlah maksudku untuk mengecilkan arti perempuan. Justru, di bab itu kukatakan bahwa salah satu tujuan dasar negara utopianku adalah untuk mengoptimalkan segenap potensi kemanusiaan semua warga masyarakatnya. Semua, tanpa kecuali, tanpa diskriminasi.

Kartini: ya, tapi bagaimana kau menempatkan setengah bahkan lebih dari setengah bagian masyarakat itu! Itu penting kuketahui…

Ibnu Rusyd: Justru itulah yang hendak kuuraikan. Ingat Kartini, aku memulai bahasan tentang perempuan dari premis dan asumsi tentang kesetaraaan antara laki-laki dan perempuan dalam tujuan-tujuan umum kemanusiaannya. Impian-impian dan cita-cita mereka di dalam suatu masyarakat, bagiku relatif sama. Dari persamaan esensial itulah aku merumuskan hak dan kewajiban yang setara bagi keduanya untuk menyokong visiku tentang negara utopian. Mereka sama-sama harus difasilititasi oleh negara guna mencapai segenap potensi kemanusiaan mereka. Itu jugalah tujuan pendidikan yang kurumuskan dalam sebuah negara utopia. Ingat, aku berpendapat bahwa negara, pertama-tama dan utamanya, adalah sebuah institusi pendidikan akbar.

Kartini: Tapi kau juga mengatakan bahwa pada laki-laki dan perempuan juga terdapat perbedaan. Laki-laki lebih kuat dan tahan banting (aktsar kaddan), sementara perempuan lebih tekun dan intuitif (aktsah hadzaqan). Lalu kaubuatlah pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin. Laki-laki lebih layak bekerja di sektor yang memeras tenaga, perempuan di tempat ketekunan dan ketelatenan diminta. Apa itu tidak bias laki-laki dan dapat berujung pada peminggiran terhadap hak-hak perempuan?

Ibnu Rusyd: Maafkan aku bila itu dianggap bias gender pada generasimu. Aku sungguh tidak pernah bermaksud membuat timpang sistem sosial yang kususun dalam negara utopiaku. Keseimbangan antar semua komponen adalah hal terpenting dalam negaraku. Pandanganku itu hanya menguraikan tentang apa yang ada dalam kenyataan. Itu sama sekali tidak menafikan visi besarku tentang negara utopian: potensi keduanya harus dioptimalkan. Pada tingkat kenyataan, aku juga punya pendapat yang sangat sensitif gender.

Kartini: Aku belum pernah mendengarkan itu. Bisakah kau katakan, mungkin aku akan berbesar hati….

Ibnu Rusyd: Baiklah kalau kau bersedia menyimak analisisku terhadap persoalan ekosospol di banyak negara muslim, terutama di tanah airku, Andalusia. Sejujurnya, bagiku potensi perempuan selama ini lebih banyak terabaikan daripada diberdayakan. Kebanyakan mereka hanya diperlakukan sebagai alat reproduksi (li an-nasl) dan semata-mata untuk melayani kepentingan suami. Tak jarang, mereka dipaksa untuk terus melahirkan, menyusui, dan mengasuh anak. Bagi sebagian, itu bukan masalah. Tapi bagiku, itu berakibat fatal pada melemahnya potensi-potensi kemanusiaannya yang lain.

Kartini: Menarik! Lalu apa dampak ekosospolnya?

Ibnu Rusyd: Karena itu tidak sesuai dengan visi negara utopianku yang mementingkan keseimbangan, maka wajarlah bila ia menjadi beban ekonomi, sosial, bahkan politik. Sangat disayangkan, potensi kemanusiaan setengah warga polisku terabaikan, bahkan terkubur. Bahkan–maaf jika aku harus berkata lancang—perempuan lebih banyak diperlakukan bagai rumput (ka al-a`syâb). Kau tahu Kartini, rumput biasanya diinjak, mati bila tidak diairi, dan meski tak jarang tetap mampu merambat, ia tak banyak berarti dibanding tumbuhan lainnya.

Kartini: Aduh, betapa menyakitkan hati mendengarnya! Tapi kau belum menjelaskan akibat ekosospolnya…

Ibnu Rusyd: Kukira kau bisa membayangkannya sendiri, Kartini!

Kartini: Ya, sudah pasti mereka akan menjadi beban karena memang dibuat bergantung pada unsur-unsur lain yang belum tentu juga produktif. Dan andai separuh lebih dari populasi negara utopianmu itu hanya rumput kering, astaga, itu pasti akan menjadi beban pikiran raja filsuf yang kau anggap sosok ideal memimpin mereka.

Ibnu Rusyd: Sungguh tajam intuisi dan analisismu, Kartini!

Kartini: Terima kasih. Tapi aku hampir terlupa satu hal. Mengapa kitab-kitab fikih menetapkan bahwa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin puncak, misalnya di negara utopiamu? Hm, aku baru ingat, engkau juga seorang agamawan, bukan?!

Ibnu Rusyd: Tak ada bedanya antara Ibnu Rusyd sebagai filsuf dengan Ibnu Rusyd yang agamawan. Pada keduanya, aku hanya ingin mencari sisi-sisi kebenaran dan kearifan hidup. Tapi kalau kau tetap bersikukuh menginginkan jawaban fikih, baiklah! Rumusanku begini: karena dalam pandangan fikih diduga (dzunna) para pemimpin tak banyak berasal dari kaum perempuan, maka sebagian syariat (ba’dla al-syarâ’i) tidak mengizinkannya berada di tangan perempuan. Ingat dua kata kunciku: diduga, dan sebagian.

Kartini: Mengapa dugaan dijadikan dasar dalam berargumen?

Ibnu Rusyd: Ingat Kartini, ketetapan fikih itu berasal dari pengandaian-pengandaian partikular, sementara filsafat berangkat dari visi besar apa yang hendak dicapai suatu masyarakat. Visi besar itu lalu dijabarkan dalam upaya-upaya partikular.

Kartini: Aduh, aku makin tak mengerti; mana pendapatmu yang sebenarnya?!

Ibnu Rusyd: Perempuan secerdas kamu pasti tahu mana pendapatku. Tak perlu kuuraikan secara eksplisit. Selain itu, aku tak terbiasa mendiktekan pendapat yang harus diikuti seseorang. Paling banter, aku hanya mengatakan bahwa pendapat tertentu layak dipertimbangkan secara seksama. Kau harus memilih Kartini, terserah mana yang lebih cocok untuk generasimu!

Kartini: Baiklah, ini pertanyaan terakhir: Mengapa al-Ghazali mengatakan bahwa aurat perempuan itu berlapis sepuluh. Tatakala menikah, tersingkaplah salah satu lapisannya. Sementara untuk sembilan sisanya, semua baru akan tersingkap tatkala mereka telah berpulang ke rahmatullah. Apa komentarmu?

Ibnu Rusyd: Tolong jangan paksa aku menjawabnya. Kau tau, aku tidak suka jenis manusia setengah filosof apalagi teolog. Maaf aku tak bisa meneruskan komentarku. Pesanku hanya satu: berhati-hatilah untuk memilih pendapat yang pada kulitnya tampak mulia. Sebab, tak jarang dalam selubung itu tersimpan dampak negatif yang fatal untuk kaummu seperti kutunjukkan tadi dalam analisis soal Andalusia.

Kartini: leuk om een gesprek met u, Pak Walid!

Sumber Asli:
“Dialog Imajiner Kartini dan Ibnu Rusyd”

Iron Jawed Angels – Film


votes for women

Iron Jawed Angles adalah sebuah film besutan Katja Von Garnier yang berdasar pada kisah nyata di Amerika sekitar awal abad-20. Film ini menceritakan tentang upaya keras para perempuan Amerika untuk memperjuangkan kewarganegaraan mereka.

Bermula dari niatan dua aktivis muda Alice Paul dan Lucy Burns untuk merubah keadan perempuan Amerika pada masa itu. Mereka berdua telah mengambil dan menyelesaikan studinya di Inggris, kemudian mereka kembali ke Amerika untuk melangsungkan niat mereka memperjuangkan hak kaum perempuan.

Pada masa itu, perempuan tidak memiliki hak kewarganegaraan penuh sebagaimana laki-laki. Dengan begitu, mereka tidak memiliki Hak Pilih dalam ajang Pemilihan Umum (Pemilu). hal ini berdampak sangat besar bagi kehidupan mereka tentunya. Perempuan seakan-akan tidak dilihat sebagai subyek hukum, mereka tidak bisa melakukan tindakan2 umum secara mandiri.

Mengenai Hak Pilih, akibat yang berdampak pada mereka – disadari maupun tidak – mereka tidak mempunyai hak untun memilih perwakilan mereka di parlemen, tentu saja dengan begini berarti kepentingan dan kebutuhan mereka serta aspirasi perempuan secara umum tidak akan sampai ke parlemen. sehingga, tidak jarang, kebijakan2 pemerintah terasa tidak berpihak pada kepentingan perempuan.

Dalam aspek hukum, mereka juga terikat dengan berbagai macam peraturan (konstitusi) yabg bahkan mereka tidak ikut serta dalam proses pembuatan konstitusi tersebut. bisa dibayangkan bagaimana tertindasnya mereka dilihat dari segi HAM? Itu sama saja mereka dipaksa untuk mentaati peraturan yang tidak mereka sepakati.

Tetapi, ternyata tidak semua perempuan saat itu telah memiliki kesadaran yang sama. Maka, para aktivis menyadari bahwa penting sekali untuk meningkatkan kesadaran itu dulu.

Sebelum kedatangan Alice Paul dan Lusy Burns untuk memperjuangkan hak perempuan, di Amerika telah ada sebuah organisasi yang mewadahi kepentingan perempuan untuk memperjuangkan haknya ini, yaitu NAWSA (National Women Suffrage Association). yang dipimpin oleh Carrie Cat dan Anna Shaw.

Alice dan Lusy datang menemui Carrie dan Anna untuk menawarkan diri bergabung dgn NAWSA. Alice dan Lusy sebenarnya membawa misi gugatan “Amandemen Konstitusi” thd Presiden Amerika (Woodrow Wilson). mereka akan menuntut Amandemen konstitusi yang mengatur mengenai hak kewarganegaraan – agar perempuan juga bisa diberi hak pilih dalam pemilu berikutnya.

iron jawed angels

menuntut amandemen konstitusi

Misi ini awalnya diragukan oleh Carrie dan Anna, tetapi setelah Alice mengajukan konsepnya, akhirnya mereka menyetujui.

Langkah demi langkah mereka lakukan. Dan waktupun semakin mendekati masa Pemilu lagi. Jumlah anggota mereka telah bertambah, dan upaya pencerdasan dan peningkatan kesadarn pun telah dilangsungkan.

Tetapi karena kucuran dana yang mereka terima melebihi dana kas NAWSA, sehingga Alice dan Lusy (serta para anggotanya) mendapat tekanan dari pimpinan NAWSA sendiri. pada saat itu mereka pun juga masih bergabung dengan NAWSA. Lusy menyarankan pada Alice untuk memisahkan diri dari NAWSA, tetapi Alice tidak mau – dengan dasar bahwa ia tidak mau kaum perempuan sendiri mengalami perpecahan, terutama di mata publik.

Lusy mencoba meyakinkan Alice bahwa agenda yang telah mereka buat tidak akan berjalan mulus dengan adanya tekanan dari NAWSA. akhirnya Alice pun menyetujui untuk memisahkan diri dari NAWSA. Pergerakan mereka pun semakin maju, sedangkan NAWSA akhirnya menarik dukungannya dari mereka.

Berbagai macam rintangan mereka lalui, sampai pada akhirnya mereka harus menanggung akibat mendekam di penjara sebagai tahanan politik. berbagai penyiksaan dialami Alice dan teman2nya. tapi itu semua tidak mematahkan semangat mereka.

Akankah tuntutan mereka akhirnya dipenuhi oleh pemerintah? Ataukah segala penderitaan mereka berujung sebagai kesia-siaan belaka? saksikan sendiri film ini, kalian akan merasakan sensasi perjuangan kaum perempuan yang terbaik yang pernah saya lihat, lebih bagus di banding In The Times of The Butterfly (Salma Hayek). ini juga merupakan sebuah referensi film yang saya tujukan bagi mereka yang ingin mempelajari mengenai studi perempuan.

Selamat menonton………..

Pembedaan Gender mengarah pada Subordinasi


Adanya pembedaan gender sebagaimana yang hidup di masyarakat kita, mengakibatkan kedudukan, fungsi dan peran perempuan seakan-akan berada pada tingkatan lebih rendah dibanding laki-laki (subordinasi). Tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa perbedaan fungsi dan peran yang disebabkan oleh perbedaan jenis kelamin (biologis dan fisiologis) pada perempuan dan laki-laki, tetapi jika lebih dari itu, maka perbedaan yang ada hanyalah merupakan konstruksi sosial atau bentukan masyarakat, yang dipengaruhi oleh faktor budaya, pendidikan, adat, agama, dll.

Mengenai pengertian gender dan perbedaannya dengan jenis kelamin, telah saya bahas pada tulisan saya sebelumnya, untuk melihatnya bisa Anda klik tautan berikut: Perbedaan Gender dan Jenis Kelamin. Pada ujungnya, pembedaan-pembedaan gender itu akan menjurus dan mengakibatkan ketidakadilan dan diskriminasi. Dan yang menjadi korban dari bentuk diskriminasi akibat pembedaan gender itu kebanyakan adalah kaum perempuan.

Pernahkah Anda mendengar ungkapan bahwa laki-laki pada umumnya lebih mengutamakan logika daripada perasaan, sedangkan perempuan lebih mengutamakan perasaan daripada logika. Sehingga tidak jarang, perempuan dianggap tidak dapat menjadi pemimpin atau menduduki suatu jabatan tertentu. Tetapi pernahkah Anda mempertanyakan dalil atau dasar ungkapan tersebut? Dapatkah dibuktikan secara ilmiah? Tidakkah ungkapan yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah itu mengakibatkan diskriminasi dan ketidakadilan? Saya rasa ungkapan semacam itu sudah saatnya kita tinggalkan jauh-jauh, bukan hanya karena tidak ada pembuktian ilmiah secara akurat, tetapi juga akan menimbulkan bentuk-bentuk ketidakadilan dan pembatasan hak-hak tertentu pada salah satu pihak, yaitu perempuan. Atau paling tidak, sebelum kita meninggalkannya, mari kita lakukan kajian kritis terhadap hal tersebut.

Berkaitan dengan ketentuan agama, saya rasa kita tidak dapat menutup mata dan mengatakan ‘tidak’ bahwa agama mempunyai peran yang cukup besar dalam proses konstruksi gender inequality (pembedaan gender). Dan pembedaan gender tersebut seringkali berujung pada diskriminasi. Berikut ini saya kutipkan sebagian tulisan dari sebuah artikel mengenai gender dalam Islam:

Terbentuknya Gender Differences dikarenakan beberapa hal, diantaranya dibentuk, disosialisasi, diperkuat bahkan konstruksi sosial/kultural melalui ajaran agama atau Negara… Dalam Islam sendiri tidak pernah mentolerir adanya perbedaan/perlakuan diskriminasi di antasa umat manusia. Adapun prinsip kesetaraan tersebut adalah:
a.) Perempuan dan laki-laki sama sebagai hamba Allah,
b.) Perempuan dan laki-laki sebagai khlaifah di bumi,
c.) Perempuan dan laki-laki sama-sama berpotensi dalam meraih prestasi.

Tapi mengapa muncul ketidakadilan terhadap perempuan dengan dalil agama? Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya keyakinan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki sehingga perempuan dianggap sebagai makhluk kedua dan tidak mungkin ada tanpa kehadiran laki-laki, dan keyakinan bahwa perempuan sebagai sumber terusirnya manusia dari surga.

Menurut kutipan di atas, ketidakadilan terhadap perempuan yang didasarkan pada dalil agama dipengaruhi oleh beberapa keyakinan tertentu—yang saya sebut mitos-mitos keagamaan—berkaitan dengan perempuan.

Seperti yang sudah saya uraikan sebelumnya bahwa bentuk-bentuk ketidakadilan yang berdasarkan pada dalil agama seharusnya kita kritisi, bukan ditolak secara langsung maupun diterima ‘mentah2’. Bukankah sikap yang paling baik adalah berada di tengah-tengahnya? Dengan terbitnya tulisan ini, saya menghimbau Anda dan semua orang yang peduli, untuk melakukan kajian ulang secara kontiniu dan kritis, demi mengungkap misteri keadilan-Nya. Sebagai manusia, saya menolak segala bentuk diskriminasi yang didasarkan pada faktor2 alamiah, seperti ras dan jenis kelamin.

Tulisan terkait:
1. Pengertian Gender (Wiki)
2. Perbedaan Gender dan Jenis Kelamin
3. Forum Diskusi Ketidakadilan Atas Dasar Gender
4. Memahami Arti Gender
5. KKG (Keadilan dan Kesetaraan Gender)

Konstitusi / dasar hukum terkait:
1. Inpres No.9 thn 2000 ttg Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan (PUG)

Perbedaan Gender dan Jenis Kelamin


Sampai saat ini masih terlihat bahwa di sekitar kita, permasalahan gender sering menimbulkan ketidakadilan. Misalnya saja pada sektor publik, perempuan sering mengalami kendala-kendala tertentu yang disebabkan permasalahan gender. Begitu pula dengan pendidikan, banyak perempuan yang—terpaksa maupun tanpa kesadaran—menanggalkan haknya untuk memperoleh pendidikan dan mengembangkan diri, serta menanggalkan kesempatannya untuk memberikan kontribusi yang lebih pada masyarakat

Sebenarnya apa itu gender? Banyak orang beranggapan bahwa gender sama dengan jenis kelamin. Pada dasarnya gender dan jenis kelamin tidaklah sepenuhnya sama. Saya yakin hampir semua orang menerima bahwa perempuan dan laki-laki diciptakan dalam wujud yang berbeda. Hal ini dimaksudkan wujud secara fisik. Secara biologis dan fisiologis, perempuan dan laki-laki memiliki beberapa perbedaan mendasar. Dan perbedaan mendasar itu tidak dapat dipertukarkan secara wajar. Perbedaan semacam itulah yang dapat kita pahami sebagai jenis kelamin.

Manusia terbagi menjadi dua macam jenis kelamin, yaitu perempuan dan laki-laki. Faktor pembeda antara ‘manusia berjenis kelamin perempuan’ dengan ‘manusia berjenis kelamin laki-laki’ adalah ciri fisik dan fungsi tubuh yang tentunya bersifat kodrati (fitrah). Pembahasan mengenai hal ini akan saya ulas lebih jauh pada kesempatan yang lain.

Berikut saya kutipkan sebuah konsepsi mengenai jenis kelamin dari Trisakti Handayani dan Sugiarti:
Seks adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan secara biologis melekat pada jenis kelamin tertentu…Seks berarti perbedaan laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang secara kodrati memiliki fungsi-fungsi organ yang berbeda…Secara biologis, alat-alat tersebut melekat pada laki-laki dan perempuan selamanya, fungsinya tidak dapat dipertukarkan.

Beralih pada gender, yang dimaksud dengan gender berbeda dengan jenis kelamin. Untuk memahami konsep gender ini, terlebih dulu saya akan memberikan beberapa contoh konkrit. Seorang perempuan biasanya dianggap lemah lembut dan diidentikkan dengan pembagian tugas-tugas domestik dalam rumah tangga, misalnya memasak, membersihkan rumah, merawat anak dan melayani suami. Sedangkan laki-laki biasanya dianggap ‘lebih’ daripada perempuan hampir di segala hal, mulai kekuatan fisik, intelektualitas dan kemampuan-kemampuan lainnya. Hal-hal semacam itu sebenarnya bukan termasuk hal-hal sifatnya kodrati, melainkan bentukan masyarakat.

Hal-hal yang disebabkan oleh bentukan masyarakat itulah yang dimaksud dengan gender. Gender sifatnya tidak kodrati, melainkan dapat mengalami perubahan. Dan di antara sifat-sifat bentukan yang melekat pada masing-masing perempuan dan laki-laki itu dapat dilakukan pertukaran.

Soal memasak misalnya, baik perempuan dan laki-laki pada umumnya sama-sama memiliki dua tangan dan sepuluh jari, sehingga tidak ada suatu hal pun yang dapat membatasi kemampuan laki-laki untuk memasak pula. Tetapi kegiatan tersebut masih diidentikkan kepada perempuan saja. Contoh yang lain ialah mengenai pekerjaan seputar otomotif yang selalu diidentikkan kepada laki-laki, padahal perempuan dan laki-laki—sekali lagi—sama-sama memiliki dua tangan dan dua kaki, sehingga tidak ada hal yang juga dapat membatasi perempuan melakukan hal-hal yang berkaitan dengan otomotif. Tetapi nilai-nilai yang hidup di masyarakatlah yang menyebabkan pembedaan-pembedaan semacam itu. Padahal seharusnya pembedaan-pembedaan itu tidak didasarkan pada jenis kelamin, tetapi pada potensi dan minat (jadi sifatnya kualitatif..

Tulisan Terkait:
“Forum Diskusi Ketidakadilan atas dasar Gender”

KAPITALISME TUBUH PEREMPUAN


Oleh A.Sihabul Millah, MA., Jawapos, 7 Maret 2010


Pemutaran film Suster Keramas (SK) secara serentak di sejumlah bioskop beberapa waktu lalu menjadi isu kontroversial di tengah-tengah masyarakat. Namun, isu tersebut tenggelam oleh skandal Bank Century. Kalangan ulama di beberapa daerah melarang keras penayangan film horror berbau porno itu. Mereka menganggap film tersebut tidak mendidik, bahkan bisa merusak moral generasi bangsa. Sebab, isinya banyak mengumbar nafsu birahi dan mengeksploitasi tubuh perempuan.

Sebaliknya, bagi sebagian penikmat seni, film SK yang disutradarai Helfi kardit dengan menampilkan bintang porno asal Jepang Rin Sakuragi itu merupakan karya seni yang patut dihargai. Adegan telanjang, memperlihatkan bagian-bagian tubuh sensual perempuan, bukan merupakan pelanggaran moral, melainkan seni acting yang kaya makna.

SK bercerita tentang perjalanan pelancong asal Jepang yang mencari saudaranya di Indonesia. Usahanya sia-sia karena saudara yang ia cari sudah meninggal. Alur cerita film ini sesungguhnya biasa saja, tetapi menjadi kontroversial karena beberapa bintang perempuan berani tampil bugil dan menyuguhkan adegan-adegan orang dewasa. Salah satunya adegan Sakuragi melepaskan bajunya di depan dua laki-laki. Adegan tersebut merupakan bentuk visualisasi dari imajinasi nakal dua laki-laki itu pada dirinya.

Eksploitasi tubuh perempuan banyak mendominasi film ini daripada alur ceritanya. Tubuh perempuan masih dianggap sebagai alat produksi (means production) perusahaan film untuk menarik minat penonton. Di era kapitalisme modern, penumpukan modal bukan hanya melalui eksploitasi tenaga buruh, melainkan juga kapitalisasi tubuh perempuan melalui film. Perempuan tak lagi sepenuhnya mampu menguasai tubuhnya karena telah dikendalikan pemilik modal.

Ekonomi Libido

Michael Foucalt melihat dua bentuk kekuasaan yang beroperasi pada wilayah tubuh manusia (Seno Joko Suyono, 2002). Pertama, kekuasaan atas tubuh, yaitu kekuasaan eksternal yang mengatur tindak tanduk, pelarangan dan pengendalian tubuh (hukum, undang-undang, agama, dll). Kedua, kekuasaan yang memancar dari dalam tubuh, yaitu berupa hasrat dan potensi libidonya. Kekuasaan tipe ini menentang keras kekuasaan atas tubuh pertama tadi. Ia biasa melakukan revolusi tubuh agar terbebas dari berbagai macam kekangan dan aturan.

Kapitalisme—melalui budaya komoditasnya—menjadi media utama tubuh untuk revolusi dan melepaskan hasrat serta kebebasannya. Kapitalisme, di satu sisi, menolong tubuh dengan cara membebaskan dari berbagai macam kekangan dan aturan. Dan di sisi lain mengeksploitasi potensi hasrat dan libido yang dimilikinya untuk dikomersialisasikan.

Eksploitasi kapitalisme terhadap tubuh perempuan pemain SK bekerja pada ranah tubuh yang mempunyai nilai tanda dan desire. Bagi kapitalisme, adegan Sakuragi melepas baju di depan dua orang laki-laki memiliki nilai ekonomis yang menjanjikan. Proses ini, meminjam bahasa Lyotard, disebut sebagai ekonomi libido (libidinal economy), sebuah sistem ekonomi yang menjadikan segala bentuk potensi energy libido sebagai komoditas dalam rangka mendapat keuntungan (Yasraf Amir Piliang, 2004).

Tubuh dianggap memiliki nilai keuntungan jika dapat diproduksi dan direproduksi sebagai nilai tukar lewat berbagai bahasa tanda tubuh. Begitu juga bahasa tuuh Sakuragi dan perempuan seksi lain di SK. Tubuh mereka memiliki nilai tukar dan keuntungan yang amat menjanjikan. Tubuh mereka dilirik dimiliki pasar, produser film, bioskop, dan lainnya. Setiap orang dapat mengeksplorasi dan memasarkan rangsangan libido serta adegan telanjang untuk mendapatkan keuntungan ekonomi semaksimal mungkin.

Ketika tubuh-tubuh perempuan bebas diperjualbelikan di bioskop-bioskop atau di dunia digital, ia sudah tidak bermakna lagi bagi dirinya sendiri, sebagaimana tubuh yang lain, tetapi cenderung dilihat sebagai komoditas yang akan menghasilkan modal dan keuntungan. Ia menjadi wacana untuk bersenang-senang, dinikmati, dipertontonkan dan diperjualbelikan layaknya komoditi pasar.

Budaya Ketelanjangan

Ketika terbebas dari segala macam kekangan, norma, tabu dan nilai moral, tubuh menjadi bersifat material dan sekuler. Ketika tubuh tanpa kendali otoritas kekuasaan (keluarga, Negara, agama) dan hanya dikendalikan prinsip kapital, terciptalah yang oleh Baudlirrad disebut sebagai budaya ketelanjangan (obscene culture). Sebuah budaya tubuh yang tanpa rahasia dan tanpa tabir, yang dapat dieksplorasi segala potensi dan kekuatan libidonya untuk kepentingan kapital (Yasraf Amir Piliang, 2004).

Pada kondisi seperti itu, sulit dibedakan mana bagian tubuh yang menjadi wilayah pribadi dan mana yang menjadi wilayah publik. Sebab, apa yang menjadi wilayah pribadi (semisal aurat, alat kelamin) telah didekonstruksi menjadi wilayah public. Ketika adegan panas Sakuragi dan adegan bugil bintang film lainnya di masyarakat melaui bioskop atau teknologi lainnya, pada saat itulah sulit dibedakan mana bagian tubuh yang menjadi wilayah publik dan privat. Bagian-bagian tubuh pemain berubah menjadi wilayah publik, tidak ada lagi wilayah pribadi. Setiap orang bisa “menikmati” bagian-bagian sensual organ tubuh si pemeran.

Pemilik modal (produser) telah menjual tubuh mereka ke masyarakat. Tubuh-tubuh itu telah menjadi milik pasar. Tak ada seorangpun yang paling berhak memilikinya, termasuk si pemiliki tubuh itu sendiri. Yang merhak memiliki adalah pasar. Tubuh individu menjadi tuuh sosial yang diatur pemilik modal. Apakah Negara akan membiarkan tubuh-tubuh milik rakyatnya dikuasai pemilik modal demi menayangkan film-film yang merangsang gairah seksual dan konon bertentangan dengan budaya Timur ini? Apakah tidak lebih mulia menghadirkan film-film berkualitas dan mindidik generasi bangsa daripada sekedar membuat film yang mengumbar nafsu dengan cara mengeksploitasi tubuh perempuan? Mari kita renungkan bersama.

Produk Pemutih yg Menyangkut Percintaan


Baca lebih lanjut…