Posts tagged ‘Gender’

Gadis cilik mati setelah pernikahannya


Hari ini saat saya sedang browsing berita internasional di Yahoo!, tiba2 saya tertarik untuk membaca berita2 dari Timur Tengah, maka saya menKlik tautan ke kumpulan berita Timur Tengah. Dari beberapa judul yang muncul, ada sebuah judul yang membuat saya penasaran, kemudian saya membukanya. Berita itu cukup singkat, tidak terlalu banyak, mungkin sekitar setengah halaman ini. Tapi setelah membaca artikel berita itu, hati saya langsung terenyuh. Saya tidak dapat mengatakan ini terasa seperti sakit hati, tetapi ada sebuah gejolak dalam hati saya yang membuat saya hampir menangis, tapi juga geram. Saya rasa ini semacam gejolak kemanusiaan. Tidakkah semua manusia pada dasarnya diberi Hati Nurani untuk digunakan? tetapi kira2 dimana hati nurani orang2 yang ada dalam berita berikut ini.

Dalam berita itu dikatakan bahw aseorang gadis cilik berusia 13 tahun telah meninggal, beberapa saat setelah pernikahannya. Tidakkah Anda berpikir tentang sesuatu? Mungkin Anda belum menyangka apa yang membuat gadis kecil yang seharusnya masih bisa punya masa depan cerah itu lantas meninggal di usianya yang masih 13 tahun.

Ciut hati saya setelah membaca bahwa gadis kecil itu meninggal diakibatkan pendarahan, setelah berhubungan intim…. organ reproduksinya rusak… tidakkah ia menderita sebelum meninggal? tidak ada yang tau.. tapi , dimanakah hati nurani mereka?

Apakah orang yang telah menikahi dan menyetubuhinya itu telah merasakan kesenangan terlebih dahulu sebelum gadis itu menderita karena pendarahan setelah itu, organ reproduksinya rusak, karena belum masanya ia mengalami hubungan intim, mugnkin seharusnya itu masih merupakan masa2nya bermain bersama teman2 sebayanya, masanya mengenyam pendidikan, lulus dari sekolah dan melanjutkan ke universitas, memasuki dunia mahasiswa, menuntut ilmu untuk lulus dan menyandang gelar sarjana, membuat orang tuanya bangga… mungkin setelah itu dia menikah tapi ia bisa bekerja, mandiri, sukses, bahagia. setiap orang memang punya porsinya masing2 tapi bagaimana ia bisa berusaha jika sebelum masa itu datang, nyawanya telah harus pergi dikarenakan hal sepeti itu? Hinakah? pantaskah?

Tidakkah harus ada orang yang memikirkan kemungkinan gadis kecil itu kelak menjadi perempuan dewasa yang mandiri, mungkin duduk di sebuah Desk dengan komputer dihadapannya, menulis, berbagi, bahagia.

Tuhan… tidak mungkin ini suatu hal yang benar bukan? Tidakkah seharusnya orang tua memiliki kepedulian dan kasih sayang kepada anaknya? mengapa banyak orang membiarkan anak2 gadisnya dinikahi laki2, yang kemudian menidurinya, memberinya makan, menidurinya, menghamilinya… Tuhan…

Semoga hal semacam ini menggugah hati manusia2 yang masih mau mempergunakan nuraninya. Tidakkah banyak orang yang menetang ketentuan nikah muda “semuda itu”? tidakkah mereka peduli terhadap kesehatan reproduksi seseorang? apakah mencegah “zina” lebih penting daripada “mencegah kematian akibat nikah dini”? apakah faktor ekonomi penyebabnya? apakah orang tua tidak mampu membiayai sekolah anak gadisnya kemudian menikahkannya? tidakkah mereka tau mereka bisa memperjuangkan beasiswa? bukan nikah solusinya?

Pertanyaan saya yang membuat saya semakin geram adalah: sempatkah gadis cilik itu merasa bahagia atas pernikahannya sebelum ia akhirnya harus mati dengan cara seperti itu?

(berita ini bisa Anda lihat di sini)

Iron Jawed Angels – Film


votes for women

Iron Jawed Angles adalah sebuah film besutan Katja Von Garnier yang berdasar pada kisah nyata di Amerika sekitar awal abad-20. Film ini menceritakan tentang upaya keras para perempuan Amerika untuk memperjuangkan kewarganegaraan mereka.

Bermula dari niatan dua aktivis muda Alice Paul dan Lucy Burns untuk merubah keadan perempuan Amerika pada masa itu. Mereka berdua telah mengambil dan menyelesaikan studinya di Inggris, kemudian mereka kembali ke Amerika untuk melangsungkan niat mereka memperjuangkan hak kaum perempuan.

Pada masa itu, perempuan tidak memiliki hak kewarganegaraan penuh sebagaimana laki-laki. Dengan begitu, mereka tidak memiliki Hak Pilih dalam ajang Pemilihan Umum (Pemilu). hal ini berdampak sangat besar bagi kehidupan mereka tentunya. Perempuan seakan-akan tidak dilihat sebagai subyek hukum, mereka tidak bisa melakukan tindakan2 umum secara mandiri.

Mengenai Hak Pilih, akibat yang berdampak pada mereka – disadari maupun tidak – mereka tidak mempunyai hak untun memilih perwakilan mereka di parlemen, tentu saja dengan begini berarti kepentingan dan kebutuhan mereka serta aspirasi perempuan secara umum tidak akan sampai ke parlemen. sehingga, tidak jarang, kebijakan2 pemerintah terasa tidak berpihak pada kepentingan perempuan.

Dalam aspek hukum, mereka juga terikat dengan berbagai macam peraturan (konstitusi) yabg bahkan mereka tidak ikut serta dalam proses pembuatan konstitusi tersebut. bisa dibayangkan bagaimana tertindasnya mereka dilihat dari segi HAM? Itu sama saja mereka dipaksa untuk mentaati peraturan yang tidak mereka sepakati.

Tetapi, ternyata tidak semua perempuan saat itu telah memiliki kesadaran yang sama. Maka, para aktivis menyadari bahwa penting sekali untuk meningkatkan kesadaran itu dulu.

Sebelum kedatangan Alice Paul dan Lusy Burns untuk memperjuangkan hak perempuan, di Amerika telah ada sebuah organisasi yang mewadahi kepentingan perempuan untuk memperjuangkan haknya ini, yaitu NAWSA (National Women Suffrage Association). yang dipimpin oleh Carrie Cat dan Anna Shaw.

Alice dan Lusy datang menemui Carrie dan Anna untuk menawarkan diri bergabung dgn NAWSA. Alice dan Lusy sebenarnya membawa misi gugatan “Amandemen Konstitusi” thd Presiden Amerika (Woodrow Wilson). mereka akan menuntut Amandemen konstitusi yang mengatur mengenai hak kewarganegaraan – agar perempuan juga bisa diberi hak pilih dalam pemilu berikutnya.

iron jawed angels

menuntut amandemen konstitusi

Misi ini awalnya diragukan oleh Carrie dan Anna, tetapi setelah Alice mengajukan konsepnya, akhirnya mereka menyetujui.

Langkah demi langkah mereka lakukan. Dan waktupun semakin mendekati masa Pemilu lagi. Jumlah anggota mereka telah bertambah, dan upaya pencerdasan dan peningkatan kesadarn pun telah dilangsungkan.

Tetapi karena kucuran dana yang mereka terima melebihi dana kas NAWSA, sehingga Alice dan Lusy (serta para anggotanya) mendapat tekanan dari pimpinan NAWSA sendiri. pada saat itu mereka pun juga masih bergabung dengan NAWSA. Lusy menyarankan pada Alice untuk memisahkan diri dari NAWSA, tetapi Alice tidak mau – dengan dasar bahwa ia tidak mau kaum perempuan sendiri mengalami perpecahan, terutama di mata publik.

Lusy mencoba meyakinkan Alice bahwa agenda yang telah mereka buat tidak akan berjalan mulus dengan adanya tekanan dari NAWSA. akhirnya Alice pun menyetujui untuk memisahkan diri dari NAWSA. Pergerakan mereka pun semakin maju, sedangkan NAWSA akhirnya menarik dukungannya dari mereka.

Berbagai macam rintangan mereka lalui, sampai pada akhirnya mereka harus menanggung akibat mendekam di penjara sebagai tahanan politik. berbagai penyiksaan dialami Alice dan teman2nya. tapi itu semua tidak mematahkan semangat mereka.

Akankah tuntutan mereka akhirnya dipenuhi oleh pemerintah? Ataukah segala penderitaan mereka berujung sebagai kesia-siaan belaka? saksikan sendiri film ini, kalian akan merasakan sensasi perjuangan kaum perempuan yang terbaik yang pernah saya lihat, lebih bagus di banding In The Times of The Butterfly (Salma Hayek). ini juga merupakan sebuah referensi film yang saya tujukan bagi mereka yang ingin mempelajari mengenai studi perempuan.

Selamat menonton………..

Pembedaan Gender mengarah pada Subordinasi


Adanya pembedaan gender sebagaimana yang hidup di masyarakat kita, mengakibatkan kedudukan, fungsi dan peran perempuan seakan-akan berada pada tingkatan lebih rendah dibanding laki-laki (subordinasi). Tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa perbedaan fungsi dan peran yang disebabkan oleh perbedaan jenis kelamin (biologis dan fisiologis) pada perempuan dan laki-laki, tetapi jika lebih dari itu, maka perbedaan yang ada hanyalah merupakan konstruksi sosial atau bentukan masyarakat, yang dipengaruhi oleh faktor budaya, pendidikan, adat, agama, dll.

Mengenai pengertian gender dan perbedaannya dengan jenis kelamin, telah saya bahas pada tulisan saya sebelumnya, untuk melihatnya bisa Anda klik tautan berikut: Perbedaan Gender dan Jenis Kelamin. Pada ujungnya, pembedaan-pembedaan gender itu akan menjurus dan mengakibatkan ketidakadilan dan diskriminasi. Dan yang menjadi korban dari bentuk diskriminasi akibat pembedaan gender itu kebanyakan adalah kaum perempuan.

Pernahkah Anda mendengar ungkapan bahwa laki-laki pada umumnya lebih mengutamakan logika daripada perasaan, sedangkan perempuan lebih mengutamakan perasaan daripada logika. Sehingga tidak jarang, perempuan dianggap tidak dapat menjadi pemimpin atau menduduki suatu jabatan tertentu. Tetapi pernahkah Anda mempertanyakan dalil atau dasar ungkapan tersebut? Dapatkah dibuktikan secara ilmiah? Tidakkah ungkapan yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah itu mengakibatkan diskriminasi dan ketidakadilan? Saya rasa ungkapan semacam itu sudah saatnya kita tinggalkan jauh-jauh, bukan hanya karena tidak ada pembuktian ilmiah secara akurat, tetapi juga akan menimbulkan bentuk-bentuk ketidakadilan dan pembatasan hak-hak tertentu pada salah satu pihak, yaitu perempuan. Atau paling tidak, sebelum kita meninggalkannya, mari kita lakukan kajian kritis terhadap hal tersebut.

Berkaitan dengan ketentuan agama, saya rasa kita tidak dapat menutup mata dan mengatakan ‘tidak’ bahwa agama mempunyai peran yang cukup besar dalam proses konstruksi gender inequality (pembedaan gender). Dan pembedaan gender tersebut seringkali berujung pada diskriminasi. Berikut ini saya kutipkan sebagian tulisan dari sebuah artikel mengenai gender dalam Islam:

Terbentuknya Gender Differences dikarenakan beberapa hal, diantaranya dibentuk, disosialisasi, diperkuat bahkan konstruksi sosial/kultural melalui ajaran agama atau Negara… Dalam Islam sendiri tidak pernah mentolerir adanya perbedaan/perlakuan diskriminasi di antasa umat manusia. Adapun prinsip kesetaraan tersebut adalah:
a.) Perempuan dan laki-laki sama sebagai hamba Allah,
b.) Perempuan dan laki-laki sebagai khlaifah di bumi,
c.) Perempuan dan laki-laki sama-sama berpotensi dalam meraih prestasi.

Tapi mengapa muncul ketidakadilan terhadap perempuan dengan dalil agama? Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya keyakinan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki sehingga perempuan dianggap sebagai makhluk kedua dan tidak mungkin ada tanpa kehadiran laki-laki, dan keyakinan bahwa perempuan sebagai sumber terusirnya manusia dari surga.

Menurut kutipan di atas, ketidakadilan terhadap perempuan yang didasarkan pada dalil agama dipengaruhi oleh beberapa keyakinan tertentu—yang saya sebut mitos-mitos keagamaan—berkaitan dengan perempuan.

Seperti yang sudah saya uraikan sebelumnya bahwa bentuk-bentuk ketidakadilan yang berdasarkan pada dalil agama seharusnya kita kritisi, bukan ditolak secara langsung maupun diterima ‘mentah2’. Bukankah sikap yang paling baik adalah berada di tengah-tengahnya? Dengan terbitnya tulisan ini, saya menghimbau Anda dan semua orang yang peduli, untuk melakukan kajian ulang secara kontiniu dan kritis, demi mengungkap misteri keadilan-Nya. Sebagai manusia, saya menolak segala bentuk diskriminasi yang didasarkan pada faktor2 alamiah, seperti ras dan jenis kelamin.

Tulisan terkait:
1. Pengertian Gender (Wiki)
2. Perbedaan Gender dan Jenis Kelamin
3. Forum Diskusi Ketidakadilan Atas Dasar Gender
4. Memahami Arti Gender
5. KKG (Keadilan dan Kesetaraan Gender)

Konstitusi / dasar hukum terkait:
1. Inpres No.9 thn 2000 ttg Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan (PUG)

Perbedaan Gender dan Jenis Kelamin


Sampai saat ini masih terlihat bahwa di sekitar kita, permasalahan gender sering menimbulkan ketidakadilan. Misalnya saja pada sektor publik, perempuan sering mengalami kendala-kendala tertentu yang disebabkan permasalahan gender. Begitu pula dengan pendidikan, banyak perempuan yang—terpaksa maupun tanpa kesadaran—menanggalkan haknya untuk memperoleh pendidikan dan mengembangkan diri, serta menanggalkan kesempatannya untuk memberikan kontribusi yang lebih pada masyarakat

Sebenarnya apa itu gender? Banyak orang beranggapan bahwa gender sama dengan jenis kelamin. Pada dasarnya gender dan jenis kelamin tidaklah sepenuhnya sama. Saya yakin hampir semua orang menerima bahwa perempuan dan laki-laki diciptakan dalam wujud yang berbeda. Hal ini dimaksudkan wujud secara fisik. Secara biologis dan fisiologis, perempuan dan laki-laki memiliki beberapa perbedaan mendasar. Dan perbedaan mendasar itu tidak dapat dipertukarkan secara wajar. Perbedaan semacam itulah yang dapat kita pahami sebagai jenis kelamin.

Manusia terbagi menjadi dua macam jenis kelamin, yaitu perempuan dan laki-laki. Faktor pembeda antara ‘manusia berjenis kelamin perempuan’ dengan ‘manusia berjenis kelamin laki-laki’ adalah ciri fisik dan fungsi tubuh yang tentunya bersifat kodrati (fitrah). Pembahasan mengenai hal ini akan saya ulas lebih jauh pada kesempatan yang lain.

Berikut saya kutipkan sebuah konsepsi mengenai jenis kelamin dari Trisakti Handayani dan Sugiarti:
Seks adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan secara biologis melekat pada jenis kelamin tertentu…Seks berarti perbedaan laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang secara kodrati memiliki fungsi-fungsi organ yang berbeda…Secara biologis, alat-alat tersebut melekat pada laki-laki dan perempuan selamanya, fungsinya tidak dapat dipertukarkan.

Beralih pada gender, yang dimaksud dengan gender berbeda dengan jenis kelamin. Untuk memahami konsep gender ini, terlebih dulu saya akan memberikan beberapa contoh konkrit. Seorang perempuan biasanya dianggap lemah lembut dan diidentikkan dengan pembagian tugas-tugas domestik dalam rumah tangga, misalnya memasak, membersihkan rumah, merawat anak dan melayani suami. Sedangkan laki-laki biasanya dianggap ‘lebih’ daripada perempuan hampir di segala hal, mulai kekuatan fisik, intelektualitas dan kemampuan-kemampuan lainnya. Hal-hal semacam itu sebenarnya bukan termasuk hal-hal sifatnya kodrati, melainkan bentukan masyarakat.

Hal-hal yang disebabkan oleh bentukan masyarakat itulah yang dimaksud dengan gender. Gender sifatnya tidak kodrati, melainkan dapat mengalami perubahan. Dan di antara sifat-sifat bentukan yang melekat pada masing-masing perempuan dan laki-laki itu dapat dilakukan pertukaran.

Soal memasak misalnya, baik perempuan dan laki-laki pada umumnya sama-sama memiliki dua tangan dan sepuluh jari, sehingga tidak ada suatu hal pun yang dapat membatasi kemampuan laki-laki untuk memasak pula. Tetapi kegiatan tersebut masih diidentikkan kepada perempuan saja. Contoh yang lain ialah mengenai pekerjaan seputar otomotif yang selalu diidentikkan kepada laki-laki, padahal perempuan dan laki-laki—sekali lagi—sama-sama memiliki dua tangan dan dua kaki, sehingga tidak ada hal yang juga dapat membatasi perempuan melakukan hal-hal yang berkaitan dengan otomotif. Tetapi nilai-nilai yang hidup di masyarakatlah yang menyebabkan pembedaan-pembedaan semacam itu. Padahal seharusnya pembedaan-pembedaan itu tidak didasarkan pada jenis kelamin, tetapi pada potensi dan minat (jadi sifatnya kualitatif..

Tulisan Terkait:
“Forum Diskusi Ketidakadilan atas dasar Gender”

Feminisme bukan musuh Islam


Feminisme bukanlah musuh Islam, dan Islam bukanlah musuh perempuan. Saya rasa jika kita tidak dapat menarik benang merah di antara keduanya, maka akan semakin terbentuk dua kubu yang saling menguatkan diri. Di satu sisi, golongan Islam yang terlalu kaku, cenderung memusuhi feminisme. Mereka menyebarkan propagandanya kemana-mana, dan cenderung bersikap ekstrim, rigid terhadap perubahan. Dan di sisi yang lain, kaum feminis atau perempuan-perempuan yang menuntut hak-haknyanya dan tidak mendapat jawaban yang tepat, akan semakin jauh dari agama. Tentu saja mereka berpikir, buat apa beragama kalau mereka tidak mendapatkan kedamaian.

Hal seperti ini sebenarnya akan menimbulkan kerugian pada masing-masing kubu. Oleh karena itu, kita perlu menarik garis yang menghubungkan keduanya—bukan untuk menyamakan keduanya, tapi paling tidak untuk membuka jalan dialog, kajian kritis dan rethinking (meminjam istilah dari Prof.Ziauddin Sardar).

Kita tidak dapat menutup mata terhadap kenyataan bahwa agama telah mengambil peran dalam proses pembentukan subordinasi perempuan di masyarakat, yang berakibat pada ketidakadilan atau diskriminasi. Sebagai contoh, dalam lembaga perkawinan, perempuan seakan-akan diposisikan bukan sebagai partner bagi laki-laki, dimana misalnya istri wajib patuh kepada suami, tanpa ada ketentuan wajibnya suami juga patuh pada istrinya, keharusan istri melayani hasrat seksual suaminya—tanpa dibarengi dengan ketentuan yang mengatur keharusan suami melayani hasrat seksual istrinya juga secara seimbang, serta otoritas laki-laki untuk memukul, menceraikan secara sepihak dan berpoligami (lebih tepatnya poligini) tanpa benar-benar memperhatikan hak-hak istri dan anak-anak.

Selain dalam lembaga perkawinan, penempatan perempuan dalam posisi sub-ordinat juga dirasakan pada sektor-sektor publik. Banyak ketentuan-ketentuan agama yang secara praktis kesannya malah mematikan peran perempuan di sektor publik, terutama setelah mereka menikah. Beberapa contoh yang dapat saya uraikan adalah sebagai berikut ini:

1.Anjuran agar perempuan tidak keluar rumah dan tetap berada di dalam rumah—bahkan dalam kamar dianggap lebih baik—kecuali ada keperluan tertentu atau menghadiri masjid.

2.Anjuran bagi perempuan untuk mengisi waktunya hanya untuk hal-hal berguna, tetapi hal-hal yang dimaksud berguna adalah menghadiri majelis-majelis pengajian dan semacamnya—bukan berarti majelis semacam ini tidak berguna, tapi dengan begitu berarti majelis/organisasi politik dan sosial berada di luar jalur anjuran ini.

3.Anjuran bahwa pekerjaan memintal dan berhias diri untuk suami adalah pekerjaan yang lebih baik bagi perempuan daripada keluar rumah dan berbaur dengan laki-laki yang bukan muhrimnya—ironisnya, tidak ada pembahasan terhadap para suami yang keluar rumah mencari nafkah dan berbaur dengan permpuan-perempuan yang bukan muhrimnya.

4.Bahkan, anjuran untuk mengikhlaskan suaminya yang ingin berpoligami. Hal ini diimbangi dengan ‘iming-iming’ pahala bagi istri yang rela dipoligami suaminya. Lagi-lagi saya merasakan sesuatu yang ironis, dimana bukannya perempuan dimotivasi untuk membela hak-haknya, malah dianjurkan untuk pasrah terhadap ketidakadilan. Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lainnya, yang tidak mungkin saya sebutkan semuanya di sini.

Anjuran-anjuran tersebut seakan menempatkan perempuan pada posisi ‘di bawah’ laki-laki yang tidak mempunyai peran dan andil dalam kehidupan luar di sektor publik. Apalagi, toleransi yang diberikan hanya berkisar seputar lingkup agamis saja. Saya—dan beberapa orang lainnya—tentu mengharapkan anjuran bagi perempuan untuk mengembangkan dirinya, bukan malah untuk mematahkan sayapnya dan menjadi burung indah di dalam sangkar.

Tetapi perlu juga digarisbawahi bahwa hal itu tidak berarti membenarkan tindakan perempuan-perempuan karir yang meninggalkan tanggungjawabnya kepada rumahtangganya. Sebagaimana juga saya tidak pernah membenarkan karir para laki-laki yang membuatnya lepas tanggung jawab terhadap rumahtangganya. Misalnya, laki-laki yang menganggap bahwa mengurus anak adalah tugas istri saja. Padahal ‘anak’ adalah milik suami-dan istri, jadi tanggung jawab mengurus dan mendidik anak seharusnya dilakukan secara seimbang dan proporsional di antara suami dan istri.

Bagi orang yang memang bisa membagi waktunya, mengatur aktifitasnya agar tetap bertanggung jawab pada tugas utama, lalu alasan apalagi yang mematahkan kesempatan perempuan untuk berperan di sektor publik juga? Bukankah jika perempuan diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat itu adalah suatu hal yang baik demi membawa kemajuan umat? Kemaslahatan bersama?

Berikut ini adalah kutipan dari tulisan pada sebuah poster di mading kampus saya dulu, yang saya tidak dapat menemukan nama penulisnya. Tulisan itu merupakan kalimat pendek yang cukup menggugah pemikiran saya. Mungkin tulisan berikut ini juga dapat menyadarkan kita semua bahwa kesetaraan yang selayaknya diperjuangkan tidak dapat hanya diukur dari satu atau dua aspek saja.

…apakah pengakuan terhadap perempuan semata-mata diukur dari semakin luasnya kesempatan mereka dalam berpolitik tanpa memikirkan lebih jauh persoalan-persoalan lain seputar isu perempuan, seperti ortodoksi agama, bekapan kultur dan hegemoni kaum laki-laki yang nyata-nyata masih terlihat dominan sampai saat ini.

Porsi yang diberikan bagi perempuan dalam kursi-kursi parlemen misalnya, memang merupakan suatu kemajuan yang baik. Tetapi bukan berarti itu melambangkan kebebasan perempuan secara umum. Kita masih harus memperhatikan hal-hal lainnya yang ada di sekitar kita, terutama yang menyangkut praktik-praktik keagamaan yang masih kental dengan unsur budaya patriarkal, termasuk di negeri kita ini.

Upaya pengkajian ulang merupakan sebuah tawaran yang baik sebagai solusi atas permasalahan ini. Pengkajian ulang dan semangat ijtihad (menurut Prof.Ziauddin Sardar) merupakan upaya yang seharusnya dilakukan umat Islam agar dapat tetap mempraktikkan ajaran-ajaran agamanya sesuai dengan perubahan zaman. Tetapi, person-person yang semestinya melakukan itu, bukan hanya terbatas pada ulama-ulama ‘jebolan’ pesantren. Tetapi semua orang yang mempunyai potensi yang seimbang dengan kebutuhan pengkajian tersebut.

Sebagai contoh, beberapa waktu lalu sempat terdengar isu rencana fatwa haram terhadap ojek dan rebonding bagi perempuan. Tetapi apakah perempuan—yang dalam hal ini sebagai pihak yang berkepentingan—juga dilibatkan dalam proses menganalisa persoalan bahkan sampai pengambilan keputusan untuk fatwanya? Apakah staf ahli pernah dilibatkan dalam proses tersebut? Saya rasa tidak.

Marilah kita semua merenungkan hal ini bersasma-sama. Saya menyadari tulisan ini masih banyak terdapat kekurangannya. Jika ada pihak yang mempunyai pengetahuan lebih banyak, harap berbagi di sini. Jika ada pihak yang merasa tersinggung dengan tulisan saya ini, saya akan membuka tangan dengan senang hati untuk menerima saran dan kritik yang membangun. Silahkan mengeluarkan pendapat, sanggahan atau argumen yang sesuai dengan tetap memperhatikan nilai-nilai etis dalam berdiskusi. Terima kasih.

 

25/03/2010